Bebek Tepi Sawah, Terapkan Protokol Kesehatan Bagi Karyawan dan Tamu

Nyoman Sumerta, owner Bebek Tepi Sawah (BTS)

Wabah corona telah mengubah segalanya. Pembukaan pariwisata secara bertahap dengan tatanan kehidupan baru (new normal), membuat  pelaku usaha harus  mengikuti protokol kesehatan secara ketat untuk  dapat mendorong kembali geliat ekonomi yang terdampak covid-19. 

"Untuk menjalankan kembali operasional restaurant, kami menerapkan protokol kesehatan dengan ketat, baik kepada karyawan dan begitu juga dengan para tamu, karena kami sangat tidak ingin ada penularan di areal restaurant sehingga akan menjadi cluster nantinya,” kata Nyoman Sumerta, owner Bebek Tepi Sawah (BTS) yang sukses memadukan  pesona alam Ubud dengan cita rasa bebek goreng yang kaya bumbu tradisional Bali. 

Protokol kesehatan di lapangan menurut Nyoman Sumerta yang akrab dipanggil Jro Dukuh, dimulai dengan cek suhu tubuh setiap karyawan BTS pada saat kedatangan. Catatan suhu tubuh didokumentasikan setiap hari dengan membuat laporan secara terekam via foto dan video yang akan diterima semua jajaran manajemen termasuk owner. "Jika ada yg suhunya lebih dari 37°C akan diperintahkan untuk pulang dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.

Selain itu,  semua staf yang bertugas akan dilengkapi dengan face shield, masker, dan sarung tangan yang harus selalu dipakai selama berada di areal restaurant. Staf Cleaning Area juga secara rutin  akan melakukan penyemprotan disinfektan  di seluruh areal resto. Tempat cuci tangan pun disediakan di hampir di setiap sudut restaurant, lengkap dengan X-banner tulisan dan keterangan tentang pencegahan dan bahaya covid. 

Jro Dukuh menegaskan, bila ada tamu, jika menolak cek suhu tubuh dan tidak memakai masker, maka dengan hormat akan ditolak masuk areal restaurant. Bahkan, tamu yang makan di restaurant juga dibatasi dengan menempati tempat duduk yang mengikuti aturan physical distancing dan diharapkan melakukan pembayaran cashless untuk alasan keamanan dan kebersihan. “Kami tidak mau ambil resiko,” katanya.

Diakui Jro Dukuh  terjun di bisnis sektor pariwisata yang merupakan bisnis yang mengedepankan kepercayaan, keamanan dan kenyamanan. Hal ini yang membuat ia harus memilih menerapkan protokol kesehatan secara ketat di bisnis restonya yang sudah digeluti sejak tahun 1999 dan sudah tersebar diberbagai kota di Indonesia hingga Singapura. 

Saat ini, belum semua restonya bisa dibuka kembali karena menunggu protokol kesehatannya dan sertifikasi kelayakan tatanan kehidupan era baru. Rencana pembangunan BTS di Lampung pun terpaksa ditunda. 

"Baru sebagian kecil yang kembali dibuka. Kami juga baru mempekerjakan setengah dari staf karena menyesuaikan dengan tamu yang datang,” ujarnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)