Cegah Kluster Penularan, Restoran Harus Perketat Protokol Kesehatan

Webinar "Protokol Kesehatan di Rumah Makan".

Saat ini restoran atau tempat makan ditengarai menjadi kluster baru penyebaran virus corona. Hal ini disebabkan penularan bisa terjadi dari satu pengunjung ke pengunjung lainnya, bahkan para staf yang bekerja pun juga bisa jadi salah satu sumber penularan maupun korban dari virus Covid-19. Untuk itu, masyarakat perlu menyadari cara mengurangi risiko penularan saat sedang makan secara langsung di restoran.

Menurut studi yang dilakukan oleh CDC September lalu, setidaknya orang yang dinyatakan positif Covid-19 dilaporkan sempat menyantap makanan di beberapa restoran, kafe, atau bar di rentang waktu 14 hari sebelum merasakan gejala Covid-19. Bahkan, mereka yang positif Covid-19 dideteksi lebih sering makan di restoran ketimbang mereka yang dinyatakan negatif Covid-19.

Penularan Covid-19 muncul di restoran karena pengunjung dan pengelola tidak melakukan protokol kesehatan dengan maksimal. Klaster Covid-19 berpotensi besar muncul di restoran yang memiliki ruang makan yang sempit. Selain itu, potensi penularan virus korona sedikit banyak dipengaruhi oleh kapasitas pengunjung.

Di Indonesia, sejumlah klaster rumah makan dilaporkan di Bogor dengan 8 kasus positif dan 17 orang tercatat melakukan kontak, Probolinggo dengan 15 kasus positif, serta terdapat juga di Yogyakarta dan Semarang.

Menurut Sonny Harmadi, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19, pihaknya tidak hanya mengeluarkan imbauan tetapi berupa peraturan dengan pemberlakuan PSBB baik melalui peraturan gubernur ataupun peraturan bupati/walikota.

Aturan tersebut di antaranya: (1) membatasi layanan hanya untuk dibawa pulang secara langsung, menjaga jarak antrean berdiri maupun duduk paling sedikit satu meter, (2) menerapkan prinsip higiene sanitasi pangan dalam proses penanganan pangan sesuai ketentuan, (3) menyediakan alat bantu seperti sarung tangan dan/atau penjepit makanan, (4) memastikan kecukupan proses pemanasan dalam pengolahan makanan sesuai standar, (6) melakukan pembersihan area kerja, fasilitas dan peralatan, khususnya yang memiliki permukaan yang bersentuhan langsung dengan makanan, (7) menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun bagi pelanggan dan pegawai, (8) melarang bekerja karyawan yang sakit, dan (9) mengharuskan bagi penjamah makanan menggunakan sarung tangan, masker kepala dan pakaian kerja sesuai pedoman keselamatan

“Kami mendorong kesadaran dari semua rumah makan/restoran, karena tidak mungkin semuanya bisa diawasi. Dan yang paling penting adalah konsumen tahu apa yang dibolehkan dan tidak boleh sehingga mereka bisa menilai sendiri mana restoran yang memenuhi standar protokol. Menurut pengamatan kami, restoran yang berada di mal atau gedung, cenderung lebih patuh karena lebih mudah pengawasannya dari pengelola gedung. Namun banyak pula rumah makan yang berada di sektor informal yang membutuhkan pengawasan lebih lanjut,” ujar Sonny dalam sebuah webinar, (16/10/2020).

Pada kesempatan yang sama Sigit Pramono, Ketua Umum Gerakan Pakai Masker mengatakan cara paling efektif untuk mengelola pandemi adalah dengan menjaga agar orang-orang tidak saling bertemu atau melakukan lockdown. “Tetapi kalau itu dilakukan terus menerus tentu akan berdampak pada perekonomian. Maka kita harus sama-sama menyadari bahwa pentingnya menjalankan protokol kesehatan merupakan upaya untuk menyelamatkan perekonomian, termasuk pelaku bisnis restoran dan rumah makan. Pendekatan ini menyadarkan bahwa mereka akan kehilangan pendapatan jika tidak patuh terhadap protokol kesehatan. Di samping 3M, di restoran juga perlu menjalankan protokol VDJ (ventilasi, durasi dan jaga jarak),” papar Sigit.

Sementara itu, Githa Nafeeza, pemilik restoran Shabu Hachi menyampaikan hasil survei internal pelanggan Shabu Hachi ketika PSBB jilid I menunjukan bahwa hampir 90% pelanggan menginginkan keamanan jika mengunjungi Shabu Hachi, bukan makanan atau minuman yang enak yang menjadi perhatian utama. “Maka yang paling penting dalam menyelamatkan bisnis restoran yang paling utama adalah menjaga trust kepada pelanggan. Kepercayaan bahwa jika mereka makan di tempat mereka akan aman,” katanya.

Githa melanjutkan protokol kesehatan yang diterapkan Shabu Hachi sangat ketat di mana tidak sekadar cuci tangan dan pengecekan suhu, tetapi juga didukung dengan alat oximeter untuk mengukur saturasi oksigen untuk mencegah OTG memasuki restoran, kemudian sistem sterilisasi alas kaki, juga bagi karyawan diberikan masker yang wajib diganti setiap 4-5 jam ditambah dengan faceshield, serta melakukan rapid test berkala.

“Alangkah indahnya jika semua restoran dan rumah makan, baik yang besar atau kecil, di dalam mal atau stand-alone mau bersama menjalankan protokol kesehatan,” ungkap Githa.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)