Ekosistem Inovasi Teknologi BPPT Dukung Ketahanan Kesehatan Nasional

Konferensi virtual bertajuk 'Inovasi Anak Bangsa Melawan Covid-19'.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Covid-19 (TFRIC19) terus berupaya membangun sistem inovasi teknologi yang ditujukan untuk mengatasi seluruh masalah yang multi dimensional.

Menurut Kepala BPPT Hammam Riza, di tengah perkembangan kasus positif Covid-19 di Indonesia yang sudah mencapai lebih dari 20 ribu orang, diperlukan peningkatan kemampuan melakukan testing secara mandiri. “Perlu ada peningkatan kapasitas testing baik itu rapid test maupun PCR test, serta diperlukan mobilisasi dari berbagai fasilitas kesehatan khususnya laboratorium yang memiliki pengecekan terhadap swab test maupun PCR test,” ujarnya dalam konferensi virtual, (22/5).

Saat ini hasil produksi terkini telah berhasil diproduksi sebanyak 50.000 PCR test kit. Rencananya, alat test PCR ini akan diproduksi sebanyak 100.000 unit pada akhir Mei 2020. Alat test PCR yang dikembangkan bersama oleh BPPT, Nusantics dan PT Biofarma ini dirancang dengan target gen deteksi Sarscov-2 sesuai dengan sekuens virus Indonesia. PCR test kit ini mempunyai sensitivitas tinggi terhadap Sarscov-2 dengan menggunakan open system yang bisa digunakan di berbagai alat RTPCR, serta memiliki kemudahan distribusi dengan harga terjangkau.

Telah pula dilakukan distribusi untuk uji komparasi di 10 institusi yakni Mikrobiologi UI, RS Tanggerang, RSND Semarang, RSPI, Litbangkes, Eijkman, Labkesda DKI, Labkes Provinsi Jawa Barat, Kimia Farma, Bio Farma. Proses produksi secara massal ini memanfaatkan fasilitas produksi PT Bio Farma, termasuk untuk proses pengujian, packaging, dan distribusi.

Pengembangan ini sempat terkendala oleh ketersediaan alat reagen yang saat ini masih harus impor. Meski begitu pada akhir Mei 2020 akan rampung didistribusikan ke rumah sakit serta laboratorium yang menguji spesimen Covid-19.

“Pandemi Covid-19 sebenarnya menyadarkan dan membangunkan kita bahwa kesiapan dan ketahan kesehatan nasional belum mencukupi. Kita belum memiliki resilience karena masih bergantung pada bahan baku, alat dan produk impor yang masih tinggi. Sehingga kita seolah-olah belum memiliki daya saing dengan negara lain,” tambah Hammam.

Oleh karena itu, lanjutnya, kita semua perlu mengambil pelajaran mahal karena harus mengakui bahwa industri hulu dan industri antara yang menopang industri manufaktur nasioal belum tumbuh dan berkembang. “inovasi teknologi untuk substitusi impor demi ketahanan nasional, sudah saatnya menjadi prioritas,” tuturnya.

Untuk menunjukkan keseriusan dalam menghasilkan produk inovasi yang bisa menopang upaya pemerintah dalam mengatasi wabah ini, TFRIC-19 telah mengembangkan produk inovasi alat kesehatan diantaranya RDT Kit, PCR Test Kit, artificial intelligence untuk deteksi Covid-19, Mobile Lab Bio Safety Lab level 2, dan emergency ventilator.

Ekosistem inovasi yang dibangun dalam TFRIC-19 merupakan sinergi dan kerja bersama antara 11 lembaga litbang, 18 perguruan tinggi, 11 asosiasi/komunitas, 3 rumah sakit, 2 industri dan 6 start up.

“Semua dilakukan dengan kolaborasi yang saya sebut kolaborasi new normal, tanpa birokrasi yang panjang dan tanpa adanya sekat-sekat penghalang. Kondisi new normal ini diharapkan bisa mendorong terciptanya inovasi dari seluruh stakeholder yang bergerak di ranah atau kompetensi apapun. Perjalanan ini belum selesai, malah mungkin baru di awal,” kata Hammam mengakhiri.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.cco.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)