Gerakan Indonesia Pasti Bisa Telah Distribusikan 100.000 Test Kit PCR

Gerakan Indonesia Pasti Bisa yang diinisiasi oleh East Ventures dan telah berjalan sejak Maret lalu telah selesai memproduksi dan mendistribusikan lebih dari 100.020 test kit RT-PCR ke 19 provinsi di Indonesia.

Pengembangan dan produksi test kit Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) buatan Indonesia adalah salah satu proyek dari Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan COVID-19 (TFRIC19) bentukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Indonesia Pasti Bisa telah menggalang dana senilai Rp10 miliar untuk menyediakan bahan baku produksi dan ongkos distribusi 100.000 test kit, sehingga perangkat diagnosis tersebut tersedia secara gratis.

Test kit RT-PCR buatan Indonesia didesain oleh Nusantics, startup bioteknologi yang bergerak di bidang genomika. PT Bio Farma kemudian menyediakan fasilitas dan sumber daya manusia untuk memproduksi massal dan mendistribusikan test kit ke seluruh Indonesia.

Produksi massal test kit yang didanai oleh Indonesia Pasti Bisa berlangsung selama sepekan yang terbagi dalam tujuh batch. Bio Farma memproduksi 3.334 boks yang setara dengan 100.020 test kit

Perangkat uji tersebut kemudian didistribusikan secara bertahap mulai 14 Mei 2020 hingga 17 Juni 2020. Distribusi terakhir adalah pengiriman ke BBTLKPP Ambon, Provinsi Maluku.

Co-founder dan Managing Partner East Ventures, Willson Cuaca, mengatakan, pihaknya menantikan kesempatan lain untuk berkolaborasi dalam upaya membangun kemandirian industri sains dan keandalan ekosistem kesehatan Indonesia. “East Ventures berkomitmen mendukung program-program kesehatan lainnya yang dapat membangun ekosistem kesehatan Indonesia yang berswadaya,” kata Willson.

Direktur Utama PT Bio Farma, Honesti Basyir mengatakan RT-PCR merupakan salah satu dari lima milestone Bio Farma dalam hal penanggulangan COVID-19. “Kami harap kolaborasi gotong royong ini tidak berhenti di sini saja,” ujar Honesti.

Sementara itu, Kepala BPPT Hammam Riza menekankan bahwa sinergi antarinstitusi riset, perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan asosiasi terkait sangat diperlukan. Menurutnya, TFRIC-19 hadir dengan konsep sinergi membangun ekosistem inovasi. BPPT memberikan peran intermediasi yang kuat, untuk memperlancar dan mempercepat tahapan desain dan prototyping, validasi, registrasi dan produksi, sehingga dalam waktu singkat produk Tes Kit RT-PCR dapat diwujudkan. Kita butuh lompatan inovasi, yakni dengan kerja sama dan transfer teknologi dari perusahaan asing kepada industri dalam negeri,” kata Hammam.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)