Hatten Wines, Rapat Online Menjadi Kebiasaan Baru

Ida Bagus Rai Budarsa, owner dan CEO Hatten Wines

Pandemi covid-19 berdampak bagi Hatten Wines dan terpaksa harus mengurangi produksinya. Untuk mencegah penyebaran virus corona Ida Bagus Rai Budarsa, owner dan CEO Hatten Wines menerapkan protokol kesehatan ketat baik di kantor, showroom hingga pabriknya yang terletak di kawasan Sanur, Bali.

Selain mewajibkan untuk pemeriksaan  suhu tubuh, mencuci tangan dan disinfektan serta wajib memakai masker. Gus Rai panggilan akrab Ida Bagus Rai Budarsa, juga menerapkan protokol kesehatan ketat baik di kantor, showroom hingga pabriknya yang terletak di kawasan Sanur, Bali.

Selain itu, menugaskan  staf khusus secara rutin melakukan strerilisasi permukaan meja, relling tangga dan tempat lain yang sering disentuh. Setelah karyawan terakhir pulang, seluruh ruangan dilakukan penyemprotan dengan disinfektan.

Apabila ada karyawan yang melakukan perjalanan ke luar kota, setelah kembali harus WFH selama 1 minggu. Apabila ada karyawan yang merasa tidak sehat, tidak boleh ke kantor. “Kami juga melaksanakan rapid  test untuk seluruh karyawan dan Swab test untuk karyawan yang reaktif,” katanya.

Di era adaptasi baru ini, perusahaan mengurangi jumlah karyawan di ruangan, dengan memindahkan divisi ke ruangan lain dan juga menerapkan WFH secara bergantian. Jumlah yang masuk kantor disesuaikan dengan area kerja masing masing. "Ada divisi yang WFH 50\% dan ada juga yang ngantor 100\%,” tambahnya.

Diakui Gus Rai, perusahaan juga mengadopsi sistem kerja baru dengan melakukan semua meeting rutin secara online. Walaupun peserta rapat ada di kantor, tapi tidak perlu lagi kumpul di meeting room seperti biasa. Rapat online menjadi kebiasaan baru, sehingga kantor cabang juga bisa ikut rapat dan karyawan yang sedang di luar kantor juga bisa ikut. Rapat juga bisa direkam. Dengan sistem digital ini bisa lebih tepat waktu dan lebih efisien.

Untuk mendukung sistem kerja di era adaptasi baru, Gus Rai mengembangkan portal perusahaan, sehingga semua data dan report ada di sana dan memudahkan untuk diakses dari mana saja. "Kami juga menyediakan software digital menu, yang bisa digunakan oleh customer kami,” katanya.

Pada saat tidak ada pekerjaan, karyawan diberikan aktivitas untuk membuat face shield untuk disumbangkan atau menganyam daun lontar untuk dijadikan kemasan produk. 

"Dengan sistim kerja yang baru sebenarnya produktivitas karyawan bisa meningkat, tapi karena bisnis sedang turun, maka tidak ada dampak yang terlihat,” tutur Gus Rai.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)