Hepatika Mataram, Produsen Rapid Test RI-GHA Covid-19

Prof. Dr. dr. Mulyanto, Direktur PT Hepatika Mataram.
Prof. Dr. dr. Mulyanto, Direktur PT Hepatika Mataram.

Dukungan melawan pandemi Covid-19 datang dari segala penjuru negeri. Salah satunya, PT Hepatika Mataram, yang berada di Kota Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Perusahaan swasta ini diam-diam berkolaborasi dengan perguruan tinggi mempersiapkan alat rapid diagnostic test Covid-19 buatan Indonesia.

Dinamai RI-GHA Covid-19 (akronim dari Republik Indonesia-Gadjah Mada-Hepatika Mataram-Airlangga), produk ini rencananya mulai dipasarkan pada Juli 2020. Selain murah, juga memiliki kelebihan deteksi cepat, mudah digunakan, dan punya sensitivitas tinggi.

Adalah Laboratorium Hepatitis Bumi Gora pimpinan Prof. Suwignyo yang menghimpun para peneliti, baik dari Universitas Mataram maupun Rumah Sakit Umum Mataram, yang menjadi cikal bakal lahirnya PT Hepatika Mataram. Didirikan tahun 1984 oleh grup peneliti yang disebut Kelompok Peneliti Hati, pada mulanya berawal dari banyaknya kasus hepatitis di Lombok. Berkat pengalaman panjang dan dukungan dari peneliti di Jepang dan Amerika Sertkat, Hepatika Mataram sudah dapat memproduksi alat rapid test hepatitis B, hepatitis C, HIV, malaria, dengue, narkoba, dan kehamilan.

Prof. Dr. dr. Mulyanto, Direktur PT Hepatika Mataram, mengatakan bahwa secara teknologi pihaknya memang sudah menguasai pembuatan alat rapid test. Tak mengherankan, Kemenristek melalui BPPT mengajak Hepatika bersama beberapa pihak untuk menangani pandemi ini.

“Kami diminta tergabung dalam Gugus Tugas yang terdiri dari BPPT, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, dan Hepatika untuk melakukan riset guna mengembangkan rapid test Covid-19 berbasis deteksi antibodi (IgG/IgM),” kata Prof. Mulyanto yang dikenal sebagai ahli hepatitis dan imunologi, yang pernah memperoleh Habibie Awards dan Bakrie Awards ini.

Tugas Hepatika adalah membuat alatnya. Kemudian, hasil prototipe yang telah dikembangkannya divalidasi oleh Universitas Gadjah Mada dan Universitas Airlangga.

Dengan fasilitas yang dimilikinya, saat ini kapasitas produksi Hepatika rata-rata sekitar 600 ribu alat tes per tahun. Selama ini Hepatika baru memproduksi alat rapid test Covid-19 sekitar 20 ribu unit, yang dipakai di kalangan terbatas, terutama untuk kepentingan uji validasi. Dalam tahun ini kemungkinan besar akan memproduksi sekitar 600 ribu alat rapid test Covid-19 lagi.

Prof. Mulyanto menegaskan pada prinsipnya rapid diagnostic Ig/IgM yang diproduksi Hepatika sama saja dengan produk impor serupa. Kelebihannya mungkin harganya lebih terjangkau. Harga yang ditetapkan adalah Rp 75 ribu per alat.

“Produksi massal Hepatika hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, seperti kebutuhan Kementerian Kesehatan dan rumah sakit. Untuk produksi massal tersebut, BPPT juga sudah menunjuk mitra produksi yang lain untuk membantu produksi yang lebih banyak. Prospek bisnisnya, menurut kami bagus, tetapi dari awal memang tujuan kami adalah untuk mencapai kemandirian bangsa dalam hal rapid test. Peluang ekspor cukup besar, namun kapasitas produksinya perlu ditingkatkan,“ Prof. Mulyanto menjelaskan.

Menurutnya, proses pembuatan alat rapid test memang tidak mudah. Hepatika harus menyiapkan bahan-bahannya, yang sebagian besar impor. “Tantangan tersendiri menyiapkannya, kami harus mencari perusahaan mana yang sudah membuat antigen sebagai bahan bakunya. Setelah dapat, dari pesan hingga dikirim saja dibutuhkan waktu hingga dua minggu karena dari Amerika bahannya,” katanya.

Lalu, Hepatika membuat “ramuannya” (walau sudah ada publikasi ilmiah, Hepatika harus menyusun sendiri ramuannya), sampai ditemukan prototipe. “Untuk mencapai penemuan prototipe rapid test jadi, dibutuhkan 100 kali percobaan mengolah ramuan,” kata Prof. Mulyanto. Ia mengungkap, timnya bekerja dari pukul 8 pagi hingga pukul 9 malam setiap hari hingga ditemukan prototipenya.

Tidak berhenti di situ. Setelah ditemukan prototipenya, Hepatika harus punya mesin kontrol serum Covid-19. Dengan didukung oleh Litbangkes, 20 sampel dikirim ke Hepatika. “Kami juga mengumpulkan sampel sendiri di RS Universitas Mataram, kebetulan Rektor dan Dekan Fakultas Kedokteran di sana sangat membantu tanpa prosedur berbelit, sehingga prototipenya bisa kami uji coba dulu di lab sebelum diuji coba,” paparnya.

Karena ini merupakan pekerjaan rutin Hepatika, Prof. Mulyanto turun tangan menyusun ramuan bersama tim yang mengerjakan. “Ibarat mau membuat nasi goreng, ini lho bumbunya ini-itu, saya ada yang bantu masak, jadi cepat. Hepatika timnya banyak, dibantu juga teman-teman dari Universitas Mataram. Jadi, kami selain produksi, juga penelitian,” ungkapnya.

Menurut Prof. Mulyanto, Indonesia memiliki potensi kuat di bidang riset, tetapi potensi ini tidak bisa berkembang tanpa dukungan lingkungan. Ia yakin, dukungan lingkungan, baik itu pendidikan maupun politik (termasuk iklim demokrasi), bisa makin meningkatkan budaya riset di Indonesia. “Saya berharap kerjasama ini terus terbangun. Hampir semua lapisan masyarakat juga ilmuwan, kalau bisa menggebu-gebu seperti sekarang, Indonesia akan cepat maju,” katanya tandas. (*)

 Herning Banirestu/Dyah Hasto Palupi

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)