Hobi 3M, Cara Pemimpin Nojorono Tidak Stres Selama Pandemi

Pandemi Covid-19 tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat secara fisik, tetapi juga secara mental. Kesehatan mental umumnya terjadi akibat stres dan cemas menghadapi pandemi corona yang tidak dapat dipastikan kapan akan berakhir.

Salah satu cara yang paling efektif untuk menjaga imunitas tubuh baik secara fisik maupun mental tentunya dengan mematuhi protokol kesehatan. Selain itu, hidup seimbang juga dinilai penting untuk tetap dapat bertahan di situasi yang penuh tantangan ini.

Ini lah yang dilakukan Arief Goenadibrata, Managing Director PT Nojorono Tobacco International. Sebagai pemimpin perusahaan yang memiliki segudang aktivitas, tentu menjaga kesehatan menjadi prioritas utama.

"Biasanya secara fisik kita bisa menjaga agar tubuh tetap fit. Namun, orang sering lupa untuk menjaga kesehatan mental agar tidak stres, padahal stres inilah yang akan membuat imunitas tubuh kita tidak menjadi prima. Kita akan mudah terserang virus," ujarnya dalam wawancara khusus dengan SWA.

Pria yang baru bergabung dengan Nojorono pada Januari 2020 ini pun memberikan tips agar tetap sehat secara fisik maupun mental, yakni dengan menerapkan hidup seimbang antara kepentingan perusahaan dengan kepentingan pribadi.

"Hidup itu harus balance antara kerja dan kompensasi yang lain seperti hobi. Ada yang hobi olahraga ya silakan berolahraga, yang hobi musik ya silakan bermusik. Itu yang harus dijaga agar balance ini menjadi penghilang stres di masa pandemi Covid-19," katanya.

Bagi Arief, ada tiga hal yang dapat menjadi pelipur lara ketika dirinya dihadapkan dengan setumpuk pekerjaan yang memicu stres dan mengganggu kesehatan mentalnya yaitu makan, musik, dan mobil.

"Hobi saya itu 3M. Saya senang kuliner jadi harus makan. Saya juga senang musik sekaligus pemain musik. Lalu mobil, saya senang sekali dengan otomotif sehingga kegiatan-kegiatan saya banyak sekali yang berhubungan dengan otomotif. Ketiga ini menjadi pelipur lara ketika saya stres di kantor, saya akan kembali kepada hobi-hobi ini," tutur Arief.

Hidup di empat kota yang berbeda, juga membuat Arief lebih berhati-hati dalam menjalankan setiap aktivitasnya. Ia pun menerapkan protokol kesehatan yang ketat baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga.

"Saya cukup unik karena saya hidup di 4 kota yang berbeda. Saya melakukan traveling itu cukup banyak antara Surabaya rumah saya, kemudian tempat kerja ada di Kudus dan selama di Kudus saya tinggal di Semarang. Lalu karena pekerjaan saya juga harus ada di Jakarta. Jadi ini bolak-balik terus sehingga di kondisi seperti saat ini saya harus menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat untuk menjamin diri saya sendiri agar tidak terkena Covid-19," papar dia.

Arief menjelaskan, untuk menjaga fisik tetap sehat, ia selalu tidur dan makan yang cukup, minum vitamin, dan memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap seperti masker/face shield dan membawa hand sanitizer ketika harus keluar rumah. Bahkan ia mengaku, di hari-hari tertentu ia bisa mandi 4 sampai 5 kali dalam sehari dan mencuci tangan hingga puluhan kali dalam sehari.

Dengan mobilitasnya yang tinggi, ia juga memastikan untuk menerapkan protokol yang ketat terhadap kendaraan pribadinya seperti menyiapkan supir khusus yang diberi tugas untuk selalu membersihkan mobil dan secara rutin menyemprotkan desinfektan.

"Supirnya juga harus jaga kesehatan dan rutin di test sehingga saya yang berada di kendaraan yang sama dengan mereka merasa nyaman dan aman. Selama di mobil juga sesuai aturan, pakai APD seperti memakai masker dan menjaga agar tidak keluar masuk mobil terlalu sering," jelasnya.

Protokol kesehatan dan kebersihan juga diterapkan Arief di lingkungan rumahnya untuk menjaga keluarga dari potensi Covid-19. Seperti memakai UV desinfektan, menyediakan alat-alat kebersihan, serta rutin memberikan vitamin pada asisten rumah tangga dan supir. "Jika ada asisten rumah tangga yang pulang ke rumahnya, harus karantina mandiri dulu dan test rapid sehingga dijamin kesehatannya," kata dia. 

Menurut Arief, pandemi Covid-19 membuat semua orang terus berbenah diri. Ia pun berpesan pada karyawan maupun pelaku usaha lain agar tidak stres, jangan melihat pandemi dalam jangka pendek. Justru dengan adanya pandemi, kita harus melihat jauh ke depan sehingga kita memiliki harapan.

"Dengan kita melihat jauh ke depan, kita akan melihat ada titik terang disana. Dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk belajar dan bersiap  menyongsong masa depan. Kalau sekarang kita stres, kita akan tertutup dan tidak akan berkembang," kata Arief.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)