Ini Fitur Rapid Diagnostic Test Karya Anak Bangsa

Rapid test diagnostic (RDT) yang dikembangkan di bawah koordinasi Kementrian Ristek/BRIN dan BPPT. (dok. BPPT)

Task Force Riset dan Inovasi Teknologi Penanganan Pandemi Covid-19 yang dibentuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) l dengan nama TFRIC-19 BPPT telah berhasil membangun ekosistem inovasi, serta menghasilkan beberapa produk yang sudah teraplikasi.

Salah satu langkah penting dalam penanganan Covid-19 adalah penguatan testing. Pengujian cepat (rapid test) menjadi pilihan. Ketergantungan produk rapid test diagnostic (RDT) pada impor, mendorong TFRIC-19 melakukan aksi cepat pengembangan produk RDT dalam negeri. Deteksi antibodi IgG dan IgM yang terbentuk pada seseorang yang terinfeksi Covid-19  menjadi pilihan pengembangan produk RDT dengan teknik imunokromatografi.

Bersama UGM, UNAIR dan PT Hepatika Mataram, BPPT melakukan inovasi produk RDT tersebut. Tahapan desain dan prototyping, validasi, registrasi dan produksi dilakukan dalam waktu yang relaitf singkat.

Produk RI-GHA-COVID-19 memiliki fitur produk yang cepat dan praktis dalam penggunaan, hasil deteksi muncul dalam 15 menit tanpa membutuhkan alat tambahan maupun tenaga yang terlatih, alat uji yang fleksibel, dapat menggunakan sampel serum, plasma, atau whole blood untuk mendeteksi OTG, ODP, PDP, dan orang pasca infeksi.

Produk ini telah di uji validasi pada skala laboratorium dengan hasil nilai sensitivitas IgM 96,8% , IgG 74% (uji pada 40 serum pasien (+) dari Balitbangkes (confirmed RT-PCR) dan Spesifisitas IgM 98% , IgG 100% (uji pada 100 koleksi serum).

Produk ini juga dilakukan uji akurasi di beberapa Rumah Sakit (sekitar 4000 kit) di  Yogyakarta (3 RS), Surakarta (1 RS), Semarang (1 RS) dan Surabaya (2 RS), dan diperkuat dengan uji lapang (sekitar 6000 kit), yaitu uji akurasi (2 puskesmas), dan untuk skrining (23 puskesmas dan 2 Desa di Kabupaten Sleman). Saat ini RI-GHA-Covid-19 juga sedang dilakukan uji validasi di  Balitbangkes Kementerian Kesehatan (sebanyak 200 kit).

RI-GHA telah mengantongi 2 Nomor Ijin Edar dari Kemenkes RI, yaitu AKD 20303020697 untuk PT. Hepatika Mataram dan AKD 20303021173 untuk PT Prodia Diagnostic Line.

BPPT melalui BLU Pusat Pelayanan Teknologi (PUSYANTEK) terus mendorong tahapan hilirisasi dan komersialisasi. RDT RI-GHA-Covid-19 diproduksi oleh PT Hepatika Mataram dengan kapasitas 100.000 kit per bulan. Untuk meningkatkan kapasitas produksi, telah terjalin kerja sama antara PT Hepatika Mataram dengan PT Prodia Diagnostic Line yang memiliki kapasitas produksi 100.000 kit per bulan dan ke depannya akan ditingkatkan menjadi 150.000 kit per bulan. Harga produk  RI-GHA-Covid-19 adalah Rp 75.000,-/ kit. BLU Pusat Layanan Teknologi (PUSYANTEK) sudah mendapatkan mitra industri lainnya untuk meningkatkan kapasitas produksi RDT RI-GHA-Covid-19 sehingga dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri dan untuk kepentingan ekspor.

Selain Kementerian Kesehatan, beberapa instansi, dan pihak lain juga telah mengajukan permintaan atau pemesanan produk RI-GHA-Covid-19 ini, di antaranya Bank BNI, Pemkot Tangerang, Yayasan Budha Tsu Chi, PT JPPI, Rumah Sakit Pemerintah maupun Swasta, Klinik Kesehatan dan pihak lain, termasuk Kemenko PMK.

“TFRIC-19 telah menyiapkan skenario, agar bahan baku RDT RI-GHA ini bisa diproduksi di dalam negeri. Saat ini TFRIC telah menyiapkan aksi pengembangan teknologi produksi antigen dalam negeri sebagai bahan baku produk Rapid Test RI-GHA IgM/IgG, dengan berbasis pada desain dari sekuen virus Covid-19 orang Indonesia. Diharapkan dengan bahan baku ini akan menunjang kemandirian produk rapid test Covid-19 di Indonesia,” kata Kepala BPPT, Hammam Riza dalam keterangan resminya, (9/7/2020).

Selain RI-GHA-Covid-19, BPPT bersama Nusantics dan PT Biofarma telah berhasil melakukan inovasi produk untuk penguatan pemeriksaan Gold Standar Covid-19 dengan menggunakan PCR. BioCOV-19, reagen untuk pemeriksaan spesimen menggunakan PCR telah diproduksi oleh PT. Biofarma sebanyak 100.000 tes dengan dukungan pendanaan dari Gerakan Indonesia Pasti Bisa.

Saat ini Biofarma telah melakukan produksi komersial untuk memenuhi permintaan BioCOV-19 dari beberapa pihak dengan kapasitas produksi 200.000 kit per bulan.

Ventilator darurat dan Laboratorium Mobile BSL2 juga merupakan produk inovasi BPPT bersama mitra lain dalam TFRIC-19 yang memberikan manfaat penting dalam upaya penguatan aksi penanganan Covid-19. Komersialiasi kedua produk tersebut juga sedang dalam proses.

“Dalam waktu yang tidak terlalu lama, di bawah koordinasi Kementrian Ristek/BRIN, BPPT bersama tim TFRIC-19 akan meluncurkan beberapa produk inovasi lain untuk penanganan Covid-19,” ujar Hammam mengakhiri.

Editor : eva Martha rahayu

ww.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)