Jurus Bakmi Naga & Batavia Cafe Bertahan di Masa Pandemi

Wabah Covid-19 yang merebak di Indonesia berdampak pada semua sektor industri. Salah satu yang terdampak yakni industri food & beverange. Hal ini dikarenakan pusat-pusat perbelanjaan ditutup untuk mengurangi penyebaran virus mematikan tersebut.

Susanty Widjaja, CEO & Franchisor Bakmi Naga Resto & Batavia Cafe membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan sebelum dilanda Corona, resto miliknya selalu ramai pengunjung setiap harinya karena berada di pusat perbelanjaan ataupun tempat yang strategis. Namun mendadak semuanya berubah pengunjung tak lagi bisa makan di tempat pasalnya mall-mall ditutup karena adanya Pembatan Sosial Berskala Besar (PSBB). “Sales terbesar kami dine in, sehingga cashflow-nya pasti terganggu,”ungkapnya.

Namun, ia tak pantang menyerah. Menurutnya, seorang pengusaha restoran tidak boleh menyerah dengan keadaan namun harus bisa survive dan kreatif. Di tengah pandemi, ia justru membuka outlet baru dengan konsep yang berbeda. Biasanya, untuk franchise sebuah restoran miliknya harus memiliki luas 80-100 meter persegi, akan tetapi kali ini ia menawarakan kepada calon investor dengan bentuk outlet-outlet yang minimalis.

“Outlet yang tadinya ada di pusat perbelanjaan, sekarang ditempatkan ke lokasi yang lebih strategis seperti di pujasera, rest area maupun outdoor. Dengan konsep tersebut, calon investor bisa memiliki outlet Bakmi Naga dengan harga yang terjangkau,” tuturnya.

Selain itu, agar mudah dijangkau oleh masyarakat, Bakmi Naga juga hadir dalam bentuk motor tiga roda hingga gerobak. “Ini untuk menyasar ke perumahan maupun perkantoran, dari segi kuantitas dan harganya pun kami lakukan penyesuaian. Jika di mall harganya sekitar Rp 30 ribuan per porsi, maka kini kami sesuaikan menjadi lebih murah,” jelasnya.

Tak sampai di situ, ia juga melihat konsumen masih merasa khawatir untuk berpergian atau makan di luar rumah. Oleh karena itu, pihaknya meluncurkan mie yang bisa dimasak sendiri oleh konsumen. Sehingga konsumen bisa tetap menikmati bakminya tanpa harus merasa khawatir mengenai kebersihannya. Ia juga memastikan Bakmi Naga selama ini menyajikan makanan yang sehat. Contohnya, bakminya tidak mengandung bahan kimia atau pengawet, baksonya tidak mengandung boraks dan lainnya. “Salah satu yang kami buat adalah bakmi ayam kampung siap masak, sementara untuk Batavia Cafe kami membuat frozen food,” ujarnya.

Dari segi penjualan, Susanty juga merubah haluan dari offline ke online. Pasalnya ia melihat saat ini telah terjadi perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja. “Biasanya offline di mana konseumen datang dengan sendirinya ke outlet kami, kini kami mulai shifting ke digital shopping,” katanya.

Adapun langkah pencegahan terjadinya penularan virus Covid-19, konsumen bisa memesan bakmi secara delivery atau dine take away. Di outlet pun waiters wajib menggunakan sarung tangan dan face shield, menyediakan hand sanitizer serta adanya penyemprotan disinfektan. Tak hanya itu, Bakmi Naga dan Batavia Cafe pun menghimbau konsumen untuk melakukan transaksi digital.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)