Kesiapan RSCM dalam Penanganan Covid-19 Tahun 2021

Lies Dina Liastuti, Direktur Utama RSCM (kanan bawah) dalam Webinar Covid-19 Outlook in 2021

Hantaman pandemi Covid-19 yang keras telah menggegerkan kesehatan masyarakat. Di Indonesia sampai sekarang ada lebih dari 500 ribu pasien positif terinfeksi. Penurunan ekonomi juga tidak kalah cepat beradu meluncur turun akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tahun 2020 segera berakhir, penanganan Covid-19 yang lebih strategis dan efektif perlu disiapkan mengawali tahun 2021.

Rumah Sakit (RS) menjadi fasilitas yang paling krusial dalam penanganan pandemi ini. Lies Dina Liastuti, Direktur Utama RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, menuturkan, jumlah kasus Covid-19 cenderung meningkat di akhir tahun 2020 sehingga RS perlu bersiap diri menghadapi lonjakan kasus di tahun 2021.

Dalam acara Webinar Covid-19 Outlook in 2021 yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan bersama Habitat for Humanity Indonesia, Lies mengungkapkan rencana persiapan RSCM dalam penanganan dari pelayanan kesehatan di tahun 2021 bahwa pihaknya konsisten menerapkan strategi komprehensif pelayanan era Covid-19 sesuai standar WHO dan Kementrian Kesehatan.

Pertama, upaya RSCM yaitu menyediakan gedung khusus Covid-19, yakni Kiara Ultimate, berkapasitas lebih dari 100 tempat tidur dengan berbagai fasilitas penunjang utama, seperti alat cuci darah dan ruang operasi khusus. Di antaranya juga membuat Comic yaitu Covid-19 Monitoring and Information Center dalam manajemen containment Kiara Ultimate tersebut.

“Kami berupaya memastikan agar area pelayanan lain dapat terhindar dari Covid sehingga pasien dapat merasa aman dan nyaman ketika berkunjung,” ujar Lies.

Kedua, mendisiplinkan alur layanan dan kepadatan. Terdapat alur pasien, skrining, triase bagi Unit Rawat Jalan dan Rawat Inap. Di samping itu juga mengatur manajemen kepadatan pengunjung di RS. Ketiga, mengetatkan protokol PPI Pasien dan Petugas.

Dalam strategi tahun 2020-2021, RSCM juga telah membentuk Tim Satuan Tugas yang mengawal pengelolaan Covid-19 di RS. Tugasnya adalah menganalisis kasus Covid-19 dan dampaknya bagi RS, memberi rekomendasi kebijakan bagi direksi, implementasi program terkait Covid-19, monitoring dan evaluasi. Selain juga akan tetap menjalankan standard panduan kesiapan RS yang sudah ditetapkan WHO.

Selain itu, Lies menambahkan, RS dituntut harus memiliki sifat agile dan transformatif untuk mendorong hadirnya terobosan era pandemi. Dalam hal ini RSCM telah meluncurkan sejumlah aplikasi yakni Pradini (aplikasi pantau bayi prematur) dan SiapDok (aplikasi telekonsultasi).

“Kolaborasi merupakan kunci kepemimpinan di era Covid-19. Pandemi menguatkan sifat agile, adaptif, dan transformatif RSCM yang menjadi modal utama menghadapi tahun 2021,” ujar Lies.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)