Kino Cepat Tanggap Menekan Penyebaran COVID-19

Foto Ilustrasi: Alat pengecek suhu tubuh dengan kamera pendeteksi suhu tubuh yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI/artificial intelligence)

Biasanya di banyak perusahaan dalam mengecek suhu tubuh karyawan atau tamu yang masuk ke gedung saat pandemi COVID-19 ini menggunakan alat ukur suhu yang bentuknya seperti tembakan. Alat ukur suhu ini bisa dibilang masih kurang efektif mengecek suhu tubuh.

PT Kino Indonesia Tbk (Kino) memahami, bisa jadi saat masuk ruangan, orang tersebut suhu badannya normal, tapi beberapa waktu kemudian baru naik. Dengan dukungan teknologi terkini, pengukuran suhu orang yang ada di dalam gedung atau pabrik bisa lebih akurat. Alat ini dipasang di pabrik Kino agar lebih efektif memantau suhu tubuh karyawan.

Protokol kesehatan diterapkan sangat ketat oleh manajemen Kino sejak awal pandemi, terutama terkait aturan standar seperti pengecekan suhu tidak lebih dari 37,3 derajat Celcius, kemudahan menjangkau hand sanitizer, penyediaan masker, di setiap cabang tersedia beberapa terminal cuci tangan sebelum masuk gedung. “Kami memastikan karyawan steril dan nyaman buat semua karyawan maupun pihak luar yang ada di Cabang,” ujar Harry Sanusi, CEO dan Presdir Kino.

Juga, diterapkan secara ketat karyawan tidak diperbolehkan keluar masuk cabang sembarangan selama kerja untuk meminimalisir kontak, menyarankan karyawan jika memungkinkan untuk membawa bekal dari rumah. Secara berkala juga dilakukan penyemprotan desinfektan.

Kalau sebelumnya cek suhu tubuh dilakukan dengan manual, dengan alat ukur suhu ‘tembak’. Sekarang di Kino, termometer suhu yang digunakan sudah modern, dengan kamera pendeteksi suhu tubuh yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI/artificial intelligence) ini kini dipasang di pabrik-pabrik dan gedung Kino. Untuk itu Kino mengimpornya alat ini dari luar negeri demi menjaga akurasi pengukuran suhu tubuh.

“Dalam melawan COVID-19, kami tidak diam tapi dengan tindakan. Kami memerangi ketakutan dengan langkah nyata. Kami mengusahakan kesehatan karyawan baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental, yaitu spirit bahwa perusahaan melakukan perlawanan kepada COVID-19,” tandasnya.

Menurut Harry, banyak langkah antisipasi perusahaan agar karyawan tidak terpapar virus corona. Bagi yang menggunakan kendaraan umum untuk sampai ke kantor diarahkan untuk bekerja di rumah. Lalu, untuk kantor pusat yang memakai mobil pribadi dilakukan pembagian divisi. Dalam satu divisi dibagi jadi A dan B, satu minggu kerja di rumah dan satu minggu di kantor.

Hampir 90% karyawan bekerja di rumah. Hanya 10% yang bergantian, sesuai dengan kebutuhan antara bekerja di rumah dengan ke kantor atau cabang. Mereka yang masuk dalam 10% ini menempati posisi menengah seperti kepala divisi, GM, manajer strategik yang harus melakukan operasional di kantor, dan BOD. “Komisaris kami pun sudah tidak ke kantor dari tiga minggu yang lalu, karena komisaris kami usianya di atas 55 tahun,” imbuhnya.

Sementara untuk karyawan bagian produksi tetap berjalan normal, dengan menerapkan berbagai pencegahan seperti menyediakan fasilitas cuci tangan di depan pintu masuk. Jadi sebelum masuk karyawan harus cuci tangan. Pengecekan suhu tubuh dan mereka harus melalui penyemprotan disinfektan. “Kami juga melakukan pemantauan ketat pada karyawan yang sakit, sanitasi ruang kantor, mobil, toilet, kantin, pabrik, dan pembagian vitamin,” ujarnya.

Karyawan yang bekerja di pabrik pun harus menerapkan jaga jarak, dengan jarak 1,5 meter per orang. “Kami menyiapkan baju khusus seperti hazmat, ada maskernya untuk karyawan pabrik,” katanya. Lalu agar karyawan tetap produktif ketika bekerja di rumah saja, sebelumnya perusahaan sudah menginstruksikan dan memberikan pengertian pada karyawan latar belakang diterapkannya langkah ini. Kemudian, manajemen melakukan kontrol secara acak dan video call pada mereka untuk memastikan mereka tidak ke luar rumah.

“Bagi yang melakukan kesalahan akan diberikan surat peringatan langsung agar mereka tidak memanfaatkan kondisi WFH ini. Jika dia memanfaatkan kondisi ini, yang terjadi adalah akan bahaya untuk dirinya sendiri dan keluarga, dan akan berdampak terhadap kinerja perusahaan. Ini yang kami lakukan,” tegasnya.

Menurutnya, Kino termasuk yang dengan cepat menerapkan langkah-langkah antisipasi penyebaran Corona ini di dalam perusahaan, bahkan sebelum pemerintah menganjurkan. “Kami juga sudah tidak menerima tamu, meeting antar BOD pun dengan videocall, atau telepon dengan pemasok, semuanya menggunakan IT, by fax, by e-mail. Kalau tidak perlu tanda tangan, tidak usah. Jika ada sesuatu yang wajib menggunakan tanda tangan. Protokol kesehatan diterapkan secara ketat,” tandasnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)