Kino Indonesia, Antisipasi Dampak Corona Lebih Dini

Harry Sanusi, CEO Grup Kino

Pandemi corona juga menjadi perhatian serius bagi manajemen PT Kino Indonesia Tbk. agar bisnis tetap berjalan lancar. Beruntung, Kino memiliki portofolio produk yang beragam sehingga ketika krisis datang saat ini kinerjanya bisa saling menunjang.

“Ada segmen produk yang penjualannya turun, namun juga ada yang naik. Produk yang tidak ada kaitan dengan barang-barang kesehatan kemungkinan minus 10-20%, sedangkan produk kesehatan dan personal care ada yang naik. Portofolio di Kino cukup beragam. Ssetelah di-combine, masih lumayan ada peningkatan walaupun tidak sesuai target,” ungkap Harry Sanusi, CEO Grup Kino.

Salah satu produk Kino yang penjualannya naik ialah hand sanitizer. Kino membuat produk ini sejak 18 tahun lalu. “Demand hand sanitizer melonjak tak terduga, kapasitas kami mentok. Kami terus menaikkan kapasitas produksi agar bisa memenuhi kebutuhan konsumen,” kata Harry.

Kenaikan penjualan hand sanitizer dimulai saat terjadi wabah Covid-19 di Wuhan, China, dan makin signifikan ketika di Indonesia diumumkan ada kasus Covid-19. Tidak hanya hand sanitizer yang mengalami kenaikan penjualan. Produk yang berkaitan dengan kesehatan, seperti produk kebersihan tubuh, produk untuk cuci tangan, produk untuk cuci botol bayi, dan minuman higienis, juga naik penjualannya. “Kini konsumen cenderung memilih membeli produk yang sudah dikemas dengan baik daripada minum di coffee shop,” lanjut Harry.

Produk Kino yang mengalami penurunan antara lain makanan kemasan kering dan produk personal care wanita. Namun, penurunannya tidak signifikan.

Untuk bahan baku, pihaknya sempat terganggu ketika ada lockdown dari China. Namun, hal itu bisa diantisipasi, di antaranya dengan menggeser pencarian bahan baku ke negara Eropa dan Amerika yang ketika itu belum ada masalah. Kini, sourcing balik ke China karena wabah Covid-19 di sana sudah selesai.

Harry menyayangkan birokrasi Pemerintah Indonesia yang masih kaku ketika kondisi seperti sekarang. Pengadaan bahan baku mestinya bisa lebih cepat. Ia mencontohkan ibu-ibu yang sampai membuat disinfektan sendiri dengan cara yang belum tentu benar. Dari sisi harga, Kino menaikkan sedikit harga jual (5-10%) untuk menyesuaikan kenaikan bahan baku karena dolar memang naik. “Reseller yang menaikkan harga gila-gilaan. Itu yang menyebabkan harga di pasaran sangat mahal,” katanya.

Terkait manajemen SDM, Kino membuat kebijakan: karyawan yang bekerja di kantor pusat dan biasa memakai kendaraan umum agar bekerja dari rumah, work from home (WFH). “Itu sudah dilakukan 2-3 minggu lalu sebelum ada instruksi pemerintah,” ujar Harry. Lalu, yang memakai mobil pribadi, dibuat kebijakan per divisi. Dalam satu divisi dibagi tim A dan B, satu minggu kerja di rumah dan satu minggu di kantor.

“Tapi, mulai minggu ini hampir 90% karyawan WFH. Nah, yang 10%-nya on and off sesuai dengan kebutuhan. Yang 10% ini bagian atas seperti kepala divisi, GM, manajer strategis, dan BOD,” kata Harry. Komisaris pun sudah diminta tidak ke kantor dari tiga minggu yang lalu karena komisaris perusahaannnya usianya di atas 55 tahun.

Karyawan bagian produksi tetap bekerja normal. Namun, dilakukan upaya pencegahan, seperti penyediaan fasilitas cuci tangan di depan pintu masuk; pengecekan suhu tubuh; penyemprotan disinfektan; pemantauan ketat pada karyawan yang sakit; sanitasi ruang kantor, mobil, toilet, kantin, pabrik; dan pembagian vitamin.

“Di pabrik, kami juga menerapkan distancing dengan jarak 1,5 meter per orang,” ujar Harry. Kino juga sedang memesan baju hazmat untuk melindungi karyawannya di pabrik. Karyawan yang berada di garda depan yang masih bertugas sedang diusahakan untuk mendapatkan masker dan perlengkapan sanitasi lain seperti hand sanitizer.

Harry merasa perusahaannya sudah melakukan antisipasi jauh lebih dulu untuk meminimalkan dampak corona sebelum pemerintah menganjurkan. Perusahaan yang mempekerjakan 7.000 orang ini, misalnya, sudah tidak menerima tamu, meeting antar-BOD dengan video call, kontak pemasok dengan telepon, serta semuanya menggunakan TI, faksmile, dan surat elektronik.

“Kalau tidak perlu tanda tangan, tidak usah. Jika ada sesuatu yang wajib menggunakan tanda tangan, tetap menerapkan social distancing dengan jarak 1,5 meter. Setelah tanda tangan, semprot hand sanitizer. Itu kami lakukan dengan sangat disiplin dan ketat,” ungkap Harry dengan nada serius.

Meski karyawan banyak yang bekerja remote dan WFH, manajemen Kino memastikan semua tetap harus dalam kontrol dan karyawan tetap produktif. “Perusahaan menginstruksikan, memberikan pengertian namun juga melakukan kontrol secara acak dan video call agar memastikan karyawan tidak ke luar rumah. Yang melakukan kesalahan dengan memanfaatkan kondisi WFH akan diberi surat peringatan langsung, dan itu akan bahaya untuk dirinya sendiri dan keluarga, dan akan berdampak terhadap kinerja perusahaan. Ini yang kami berikan pengertian ke karyawan,” Harry memaparkan.

Meski demikian, Harry mengakui, kondisi ini mungkin juga akan menjadi blessing tersendiri bila karyawan ke depan bisa bekerja dari rumah dan bisa transisi kerja dari pola 3G ke 4G. Hal itu akan meningkatkan level efisiensi dalam jumlah yang signifikan. (*)

Sudarmadi & Vina Anggita

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)