Kisah Dua Putra Daerah Banten Gagas Inovasi Untuk Pandemi Covid-19

Arya Ananda Indrajaya Lukmana

Arya Ananda Indrajaya Lukmana, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), terdorong oleh kekhawatirannya akan bahaya pandemi Covid-19 untuk membuat suatu inovasi yang dapat mencegah penyebaran Covid-19. Arya yang berlatar pendidikan di bidang kedokteran, sadar akan pentingnya kolaborasi untuk mengatasi pandemi ini, ia lalu mengajak rekan sesama mahasiswa lintas jurusan untuk bekerja sama dan membuat sebuah aplikasi baru.

Aplikasi itu kemudian diberi nama EndCorona, aplikasi edukasi pendeteksi dini kerentanan risiko terkena Covid-19. Usahanya tidak sia-sia, ide aplikasi EndCorona ini disambut baik oleh dosen dan dekan FKUI. Berkat dukungan tersebut, aplikasi EndCorona akhirnya berhasil diluncurkan dan diakses oleh masyarakat pada awal April 2020.

“Kami berharap EndCorona dapat membantu masyarakat supaya selalu waspada, tidak panik, dan tetap mengikuti koridor protokol kesehatan yang berlaku melalui edukasi di berbagai platform EndCorona,” ujar Arya yang menerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2020 kategori khusus Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi pada Oktober lalu.

Melalui aplikasi EndCorona, masyarakat bisa mengetahui apakah mereka rentan terkena Covid-19 atau tidak dengan melakukan asesmen secara mandiri lewat aplikasi ini. Aplikasi ini memiliki beberapa kategori seperti “risiko rendah”, “hati-hati”, “rentan”, atau “sangat rentan”. Arya menjelaskan, keunggulan aplikasi EndCorona adalah algoritma yang digunakan pada fitur asesmen pendeteksi gejala dan risiko aplikasi ini telah melalui proses pengkajian oleh supervisor ahli berdasarkan jurnal Ilmu Kedokteran di Indonesia dan internasional.

“Setelah mengisi beberapa pertanyaan selama kurang lebih tiga menit, pengguna akan langsung mendapatkan hasil dari kondisi mereka. Apabila hasil asesmen menunjukkan hasil risiko “rentan” atau “sangat rentan”, fitur WhatsApp helpline yang dihubungkan langsung dengan tim dokter FKUI RS Cipto Mangunkusumo disediakan untuk berkonsultasi lebih lanjut,” jelasnya.

Selain itu, aplikasi EndCorona memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses informasi dan edukasi tentang Covid-19, mulai dari akses peta rumah sakit rujukan Indonesia, informasi statistik dari kasus Covid-19 terkini, hingga pembasmi hoaks seputar Covid-19 yang disusun berdasarkan jurnal.

Ke depannya, Arya sedang mengupayakan agar produk EndCorona dapat dimodifikasi berdasarkan kategori usia dan demografi agar informasi soal Covid-19 dapat disampaikan dengan lebih efektif ke lebih banyak orang di berbagai segmen. Misalnya, untuk membidik segmen anak muda konten dibuat dalam format podcast agar lebih sesuai dengan media generasi muda zaman sekarang. Lebih jauh lagi, ia juga ingin agar kelak dapat membantu pemerintah dalam menangani pandemi ini.

“Rencana ke depan kami ingin membuat mapping lewat fitur data tracking untuk membantu pemerintah mengalokasikan sumber daya dengan lebih baik,” ujar mahasiswa asal Cilegon tersebut.

Selain Arya, kekhawatiran akan bahaya pandemi Covid-19 juga mendorong Prabudi Nawarindra atau Indra. Ia adalah penggerak Kampung Berseri Astra (KBA) Pinang, Banten. Sejak akhir bulan Maret 2020, Indra bersama dengan warga KBA Pinang aktif menggencarkan protokol kesehatan dengan menjalankan program Kampung Tangguh Covid-19 yang merupakan hasil kerja sama dengan pemerintah setempat.

Mereka secara rutin melakukan penyemprotan disinfektan, pemasangan tempat cuci tangan dan sabun di beberapa titik, pembatasan jalan masuk, serta penertiban pemakaian masker untuk siapapun yang hendak masuk ke perumahan.

Indra bercerita, dua bulan sebelum terimbas pandemi KBA Pinang sempat terkena bencana banjir pada akibat luapan Sungai Angke yang menenggelamkan banyak rumah warga dan merusak berbagai fasilitas di KBA Pinang. Namun, Indra tak berdiam diri dan meratapi nasib kampungnya, ia bersama warga justru memilih untuk bangkit bersama mengatasi bencana dengan tangguh secara mandiri.

“Setelah banjir kami mencoba bangkit untuk memperbaiki gerobak baca dan fasilitas PAUD Dahlia yang rusak. Kami juga melakukan penghijauan kembali dengan menyiapkan media tanam serta bibit sayuran dan tanaman obat. Terakhir, untuk mengumpulkan modal kami bangkitkan UMKM di KBA Pinang dengan mendirikan koperasi warga yang legalitasnya dibantu oleh Astra,” ujarnya.

Koperasi yang kini sudah menjadi badan usaha berbadan hukum itu dinamakan Koperasi Pinang Griya Aku Bisa. Seluruh laba dari sisa hasil usaha (SHU) digunakan kembali untuk pemberdayaan masyarakat sekitar. Selain itu, hasil SHU juga menjadi modal untuk mengembangkan ternak lele dengan sistem bioflok (organik). Lele hasil panen langsung diolah, diberi bumbu, dibungkus, dan dibekukan dalam freezer. Produk unggulan frozen lele organik ini diberi merek Clarias, dan berhasil menjadi juara satu lomba inovasi sederhana KBA nasional.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)