Kuncoro Wibowo, “Kita Harus Stay Calm”

Kuncoro Wibowo, CEO Grup Kawan Lama.
Kuncoro Wibowo, CEO Grup Kawan Lama.

Sebagai perusahaan yang telah lama berdiri, Grup Kawan Lama cukup kenyang menghadapi krisis. Bahkan, tumbuh lebih kuat. Tahun 1997-1998, justru di kala situasi ekonomi sangat berat, merek Krisbow lahir. Tahun 2011, mereka kian ekspansif, termasuk dengan Living World, Alam Sutera (Tangerang Selatan), setelah pada 2008 dunia dihajar krisis finansial. Lantas, bagaimana dengan pandemi Covid-19? Apa yang membedakan dengan krisis sebelumnya?

Berikut ini petikan wawancara SWA dengan Kuncoro Wibowo, CEO Grup Kawan Lama.

Bagaimana Anda membandingkan krisis sekarang dengan sebelumnya?

Pandemi ini datang secara tidak terencana. Seperti hujan di siang hari. Karena datang tiba-tiba, kita pun tidak punya persiapan. Dan yang harus disadari, kita masih belum mengetahui bagaimana ujungnya sebelum ditemukannya vaksin.

Jika melihat krisis sebelumnya yang pernah saya alami, seperti tahun 1984, itu lebih banyak ke politik. Kemudian 1997-1998, itu krisis moneter yang dimulai dari Asia dan kemudian terjadi pergolakan di Indonesia. Saat itu banyak perusahaan terdampak. Kami dapat melewati proses tersebut.

Peristiwa lain yang tidak kalah kuatnya terjadi di tahun 2008 dimulai di Amerika Serikat, krisis finansial. Tapi saat itu perusahaan di Indonesia tidak begitu terdampak. Hantaman tidak terlalu berat.

Tahun ini kejadiannya sangat besar dan berat. Hampir semua bidang usaha terkena dampaknya, terutama parowisata, penerbangan, transportasi, hotel, dan mal/pusat perbelanjaan. Tapi di sisi lain, banyak juga yang mendapatkan nilai positif, yaitu industri kesehatan, alat-alat kesehatan, digital, online business. Yang perlu disyukuri adalah kita tidak sendirian. Negara ini juga tidak sendiri. Semua negara maju dan berkembang terkena dampaknya.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Pelajaran yang bisa diambil dari situasi ini adalah kita harus bisa berinovasi, beradaptasi, agile, dan tidak melawan arus. Kita tidak bisa melawan arus, sebab tantangan ini begitu besar. Kita harus merangkul keadaan ini. Mesti kreatif melihat situasi. Kita juga harus berselancar di ombak yang besar ini. Seperti bermain arung jeram, kita harus bisa sampai ke tujuan dengan baik.

Bagaimana Kawan Lama merangkul kondisi ini?

Kami beruntung ada di dalam industri ritel yang menjual alat-alat berkaitan Covid-19. Kami juga beruntung bisnis yang kami pilih adalah alat-alat rumah tangga, food and beverage. Kini gaya hidup orang berubah. Orang lebih banyak di rumah dan membutuhkan lebih banyak alat-alat rumah tangga. Belum lagi jika mereka melakukan perbaikan rumah agar lebih nyaman. Ini kesempatan untuk kami beradaptasi, mengembangkan, dan memfokuskan barang-barang yang (mendukung) kesehatan. Ini menjadi potensi untuk kami.

Namun, saat ini yang paling penting adalah bagaimana cara kita untuk bertahan daripada memikirkan cara berkembangnya. Di tahun ini kami tidak mengharapkan suatu pertumbuhan. Bisa bertahan saja sudah cukup beruntung. Target juga sudah tidak bisa lagi disusun secara tahunan. Semua short term planning. Kami sendiri me-revise strategi. Kami harus memperkuat tim dan melakukan inovasi untuk next chapter.

Apakah perlu reinventing visi-misi di tengah Covid-19?

Tentu saja, misi dan visi bisa berubah sesuai keadaan. Kita tidak bisa men-set misi untuk jangka panjang, 5-10 tahun. Sekarang kita harus lincah dan re-align dengan waktu yang lebih singkat. Semua leader memainkan peran penting untuk kelangsungan organisasi. Kita harus siap dengan perubahan ini dan meninjau kembali strategi yang harus dilakukan. Misalnya, di awal tahun sudah menargetkan untuk membuka banyak toko, namun mendadak di quarter 1 sudah berubah. Kita harus readjust. Ini peran pemimpin perusahaan.

Kabarnya, krisis sering jadi siklus. Apa yang dipersiapkan agar adaptif?

Kita harus agile. Kita tidak bisa menerjang ombak, namun harus berselancar. Selain itu, kita juga harus melihat kondisi pasar dan kemungkinan atau potensi apa yang terjadi. Kita harus fokus dan meminimalisasi kerugian yang akan terjadi. Kita juga harus melihat kesempatan untuk digitalisasi, sebagai batu loncatan, sehingga kita bisa menjadi perusahaan yang lebih baik secara online dan offline.

Apa wisdom Anda untuk pebisnis yang produk atau jasanya habis diserap pasar pada masa ini?

Di dalam situasi ini, jangan lagi berpikir tentang keuntungan secara materi. Keuntungan yang diharapkan adalah bagaimana bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Kita juga harus memperhatikan karyawan dan lingkungan.

Apa pesan untuk next-gen leader dan eksekutif di tengah Covid-19 ini?

Jaga orang-orang kita. Karyawan adalah aset. Semaksimal mungkin kita berikan keterbukaan, ketenteraman, pengertian kepada mereka. Job security harus dibentuk. Jaga karyawan agar tidak kehilangan pekerjaannya. Ini tanggung jawab seorang leader. Bahu-membahu, bergotong royong mengurangi beban, dan merangkul orang-orang adalah tugas mulia sesama manusia.

Seperti di perusahaan kami: kami (harus) bisa memberikan ketenangan untuk karyawan, job security bagi mereka. Ini tanggung jawab perusahaan. Pada saat masa-masa bagus dan pertumbuhan, kami memiliki orang-orang yang memberikan sumbangsih terhadap pertumbuhan perusahaan. Ini harus dijaga.

Di perusahaan kami ada 40 ribu karyawan. (Kalau) Kami bisa menjaganya dengan baik, setelah ini selesai, kami akan menjadi perusahaan yang tumbuh jauh lebih kuat dan mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar.

Lantas, dalam situasi sekarang, apa yang harus dihindari?

Jangan (ada rasa) takut. Ketika hari ini hujan, pasti akan ada hari yang cerah. Di mana ada hari yang gelap, besok akan terang. Karena, hidup ini tidak selamanya penuh kegelapan, perenungan, dan penyesalan. Kita harus menikmati hidup ini, (dan) harus tetap kuat.

Kita harus stay calm dan tidak perlu panik. Stay positive and in peace. Ini penting sekali, karena semua kejadian ini not happened by coincidence. Tuhan akan selalu memberikan jalan ke depannya. Di setiap tantangan, pasti akan selalu ada kesempatan. Hidup tidak akan selalu mulus, selalu ada hujan, gelombang. Ini harus dihadapi dengan tenang dan positif. Perlu adanya sikap gotong royong untuk melewati situasi yang sangat menantang ini.

Sebagai pribadi, bagaimana Anda melihat krisis yang sekarang?

Secara pribadi saya melihat kejadian ini sangat besar efeknya kepada umat manusia. Kejadian ini membuat kita berubah dan membuat dunia serta kebiasaan kita berubah. Dunia memiliki beban yang berat akibat ulah manusia yang selalu ingin tumbuh dan berkembang dengan tidak melihat lingkungan dan bumi ini. Sudah saatnya kita sadar dan step back satu langkah dalam melihat kejadian ini.

Simpelnya, jika dahulu hidup di kantor, sekarang hidup di rumah. Kita bisa menghargai hal-hal kecil dan mensyukuri lingkungan kecil di sekitar kita, seperti di rumah. Selain itu, kita juga lebih bisa menghargai hubungan antarmanusia. Sekarang, kita lebih banyak menggunakan hati daripada pikiran. Jika kita bisa menjaga hutan, bumi, dan natural resource yang ada, kita dapat hidup dengan lebih baik, begitu pula untuk generasi kita yang akan datang. (*)

Anastasia A.S.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)