#LapakGanjar, Agar UMKM Bangkit dari Ancaman Covid

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (Foto: bisnis.com).

Di antara pimpinan daerah kabupaten/kota dan provinsi, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tergolong paling tanggap terhadap masalah yang dihadapi warganya. Seperti di masa pandemi Covid-19 saat ini, Ganjar menyadari, ia harus turun tangan membantu UMKM Ja-Teng agar tidak tumbang.

Bagaimana tidak. Rendahnya mobilitas konsumen dan daya beli yang merosot tajam membuat potensi UMKM Ja-Teng tidak berkembang. Dukungan dana dari pemerintah sebesar Rp 1,1 triliun, yang diberikan bertahap selama tiga bulan, tetap kurang memadai. “Untuk itu, saya menyiapkan cara agar UMKM dapat berdikari secara ekonomi,” ungkap Ganjar. Caranya, dengan menggali potensi warga, sekaligus memberikan dana stimulan kepada mereka.

Menurut Ema Rachmawati, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Ja-Teng, dampak pandemi Covid-19 memang luar biasa. Sekitar lebih dari 26 ribu UMKM melaporkan kesulitan, terutama UMKM di bidang makanan dan minuman. Berikutnya, UMKM di bidang fashion, kerajinan (craft), dan jasa pun ikut limbung karenanya.

Ganjar tidak tinggal diam. Ia lantas melibatkan perguruan tinggi untuk meriset lebih jauh apa yang sesungguhnya terjadi; kesulitan seperti apa yang dihadapi warganya, dan dukungan apa yang mendesak dibutuhkan. Intinya, ia ingin mengetahui lanskap permasalahan dan solusi paling tepat untuk menghadapi masa pandemi.

“Ternyata, masyarakat dan UMKM membutuhkan marketing, khususnya online. Mereka memerlukan ilmu packing dan juga permodalan,” kata Ganjar tandas. “Saya pikir, UMKM-UMKM ini kalau dibina, akan menciptakan entrepreneur-entrepreneur baru, startup-startup menjanjikan masa depan,” lanjutnya, penuh semangat.

Ema membenarkan temuan tersebut. Menurutnya, lebih dari 50% permasalahannya adalah pemasaran. UMKM secara umum bingung bagaimana memasarkannya. Mayoritas mereka tidak terbiasa dengan berjualan online. “Padahal, saya cek ke teman-teman di e-commerce, dengan adanya Covid-19 ini, penjualan melalui e-commerce ini omsetnya bisa naik hingga 200%. Sehingga, kami harus mendorong UMKM ini masuk ke e-commerce,” kata Ema melalui telepon.

Mengetahui hasil riset dan temuan lapangan seperti itu, tanpa berpikir panjang, melalui Instastory di akun Instagramnya, Ganjar langsung membuat #LapakGanjar. Yaitu, lapak Instagramnya yang setiap Minggu mengunggah produk-produk para pelaku UMKM di Ja-Teng. Setidaknya, ada 100 jenis produk UKM yang dipromosikannya dengan hastag #LapakGanjar di story-nya, mulai dari aneka makanan seperti ayam goreng, sambal, sate, mete, kue, kopi, dan madu, hingga produk kerajinan seperti batik dan lukisan. Bahkan, aneka jasa seperti jasa pembuatan cenderamata pernikahan hingga jasa pembuatan perabotan rumah tangga juga ditawarkan.

Upaya Ganjar menghidupkan UMKM lewat media sosial sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Pasalnya, lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada yang menjadi Ketua Kagama (Keluarga Alumni Gadjah Mada) ini memang aktif menggunakan medsos. Follower Instagramnya mencapai 2,9 juta, paling banyak dibandingkan follower medsos milik akun-akun pemerintah di wilayah Ja-Teng. “Cukup dengan mem-posting foto produknya, kemudian di tag ke Instagram saya, yang nantinya akan di repost untuk di-posting di Instagram story,” Ganjar menjelaskan.

Bagaimana hasilnya? “Makanan tetap menjadi idola,” ujarnya. Sampai bulan ketiga saat ini, menurutnya, respons pasar sangat menggembirakan. Banyak yang mengabarkan, omset penjualan meningkat dan UMKM betul-betul bisa menikmati fasilitas online marketing.

“Sebenarnya ini ide individual saja, bukan program pemerintah. Ini hanya bisa disebut ekstrakulikuler saja. Kalau tupoksi, saya tetap menyiapkan pelatihan, menyiapkan akses pemodalan, dan melakukan pendampingan,” Ganjar menjelaskan, #LapakGanjar, katanya, sekadar membantu mendorong UMKM.

Walaupun demikian, #LapakGanjar juga mendapat respons positif dari berbagai tempat di seluruh Indonesia, bahkan dari luar negeri. “Malahan ada yang mengusulkan dibuat dalam bahasa asing (bahasa Prancis, Jerman, dan Belanda), supaya lebih banyak peminatnya, ” kata Ganjar. Melihat animo warga Ja-Teng yang semakin antusias, ia pun berpikiran bakal mendorong pemasaran digital dari program #LapakGanjar menjadi situs web. “Jadi, ini akan kami teruskan. Tidak menutup kemungkinan, kemarin sudah punya pikiran, dari #LapakGanjar jadi Lapakganjar.com. ”

Ganjar berharap dengan langkahnya itu, para pelaku UMKM kreatif di Ja-Teng bisa memperluas pangsa pasar produknya. “Mereka kreatif, menantang, dan semangatnya luar biasa, ” ujarnya gembira.

Dyah Hasto Palupi/ Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)