Marguna Tarulata APK Farma, Intensifkan Penjualan Online

Direktur PT Marguna Tarulata APK Farma Junius Rahardjo.
Direktur PT Marguna Tarulata APK Farma Junius Rahardjo.

Tren penjualan produk herbal atau jamu terus meningkat seiring dengan derasnya permintaan masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh saat menghadapi wabah Covid-19. Hal ini dirasakan oleh PT Marguna Tarulata APK Farma, produsen jamu dan obat herbal yang memiliki brand terkenal Pilkita. Pilkita dikenal sebagai suplemen herbal yang berkhasiat meredakan pegal linu dan menghilangkan rasa capek, lemah, dan lesu.

Direktur PT Marguna Tarulata APK Farma Junius Rahardjo mengungkapkan, dampak pandemi corona justru membuat permintaan produk herbal bertambah. “Sampai dengan saat ini permintaan produk herbal kami mengalami peningkatan sekitar 20%,” kata anak pendiri sekaligus CEO Marguna Tarulata APK Farma, Purwanto Rahardjo, ini.

Meski sementara ini produknya sedang menjadi primadona, Junius mengakui pihaknya tetap menghadapi sejumlah kendala. “Kesulitan yang dihadapi adalah produksi dan distribusi produk ke agen dan distributor. Distribusi dari agen dan distributor ke outlet ritel sedikit mengalami kendala meskipun masih bisa ditangani dengan baik,” ungkapnya.

Junius memperkirakan dampak pandemi ini akan dirasakan setelah Lebaran tiba, karena biasanya uang konsumen banyak dibelanjakan untuk kebutuhan makanan dan produk non-esensial seperti sandang. Dengan situasi pandemi saat ini, ia memperkirakan penurunan pendapatan akan berlangsung hingga 12 bulan. “Seperti kita ketahui, daya beli konsumen sudah berangsur turun sejak Maret lalu,” ujarnya.

Sejumlah survival strategy telah disiapkan manajemen perusahaan ini. Pertama, melunasi sebagian besar kredit bank agar beban bunga turun. Kedua, menurunkan biaya pemasaran hingga 20%. Ketiga, menggenjot penjualan online dengan berbagai tawaran menarik, misalnya membebaskan biaya pengiriman kepada konsumen. Keempat, memangkas biaya non-esensial seperti biaya perjalanan direksi dan kompensasi direksi.

Marguna Tarulata kini memprioritaskan produksi yang sifatnya fast-moving daripada produk yang slow-moving. “Kami juga mengintensifkan penjualan secara online kepada grosir, ritel, dan konsumen,” ujar Junius. “Saat ini kami tiadakan aktivitas pemasaran below the line, seperti temu pelanggan, gerebek pasar, dan minikonser,” ia menambahkan.

Dengan penurunan pendapatan dan produksi, perusahaan akan menyusun kapasitas produksi yang disesuaikan dengan proyeksi penjualam. Caranya, dengan memanfaatkan ruang produksi yang sesuai dengan kebutuhan produksi. Beberapa karyawan pun akan dialihkan tugasnya seturut kebutuhan yang ada.

Secara organisasi, manajemen juga merampingkan jumlah pegawai dan menawarkan pensiun dini secara berkala kepada pegawai yang sudah mulai memasuki masa pensiun. Meski demikian, Junius menyebutkan, pemotongan kompensasi hanya diberlakukan kepada para direksi. Adapun THR dan bonus tetap diberikan secara serentak.

Ke depan, Junius meyakini pola konsumsi produk herbal akan berubah. Dengan berkembangnya pola hidup sehat yang sudah dimiliki konsumen saat ini, konsumen akan lebih rutin mengonsumsi produk herbal dibandingkan sebelum pandemi. Selain itu, orang yang sebelumnya tidak mengonsumsi produk herbal diyakini akan mulai mengonsumsinya.

Dengan demikian, Junius pun yakin pasar produk herbal akan meningkat secara signifikan beberapa tahun yang akan datang. “Setelah wabah corona mereda, kami memperkirakan butuh waktu sekitar 24 bulan untuk bisa recovery,” ujarnya. (*)

Jeihan Kahfi Barlian & Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)