Masyarakat Rentan Kelelahan di Tengah Pandemi

ewi Soemarko, Prodi Magister Kedokteran Kerja/ Pengajar Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas – FKUI/Perhimpunan Dokter Okupasi Indonesia (PERDOKI) (Foto: Anastasia AS/SWA).

Satgas covid-19 menjabarkan per tanggal 7 Januari 2021, angka penggunaan masker mengalami penurunan sebanyak 28% dari minggu ke tiga September hingga minggu keempat Desember 2020. Sementara itu, angka pemberlakukan jaga jarak dan menghindari kerumuman juga dikatakan menurun sebanyak 20,6%.

Menurunnya angka tersebut terjadi akibat adanya pandemi fatigue atau kondisi kelahan yang dialami masyarakat akibat kegiatan yang berulang. “Jika hal tersebut terjadi pada sekelompok orang, maka akan merugikan banyak pihak,” kata Dewi Soemarko, Prodi Magister Kedokteran Kerja/ Pengajar Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas – FKUI/Perhimpunan Dokter Okupasi Indonesia (PERDOKI) dalam talkshow Pandemic Fatigue, Jangan pernah Menyerah! (11/01/2021).

Menurutnya, pandemic fatigue bisa terjadi akibat dari ketidakjelasan berakhirnya pandemi. Salah satu hal yang bisa menimbulkan kelelahan di masyarakat adalah situasi ekonomi yang terjadi di tingkat keluarga. Salah satu pihak keluarga, menurut Dwi Listyawardani, Ketua Subbidang Sosialisasi Perubahan Perilaku Satgas Covid-19/Deputi Dalduk BKKBN, harus tetap ada yang bertugas untuk mencari nafkah.

Sehingga, pihak tersebut bisa membawa terpapar virus dan rentan untuk membawa virus ke rumah. “Pemulihan ekonomi melalui aktivitas ekonomi untuk golongan usia produktif, harus dilengkapi dengan dengan protokol kesehatan di level keluarga,” kata dia menyebutkan.

Oleh karena itu, perlu adanya pendampingan untuk melakukan edukasi terhadap para ibu untuk melakukan protokol kesehatan dan mengingatkan penerapan prokes di dalam lingkup keluarga. “Kami akan lanjutkan program pendampingan keluarga, kader, dan komunitas untuk melakukan kampanye Protokol kesehatan dan vaksin,” kata dia.

Ada 2 cara yang akan ditempuh untuk melakukan edukasi ini. Pertama, melalui edukasi secara terstruktur. Kedua, melalui gerakan atau komunitas yang ada di masyarakat. Menurutnya, hal tersebut bisa mengendalikan tingkat transmisi Covid-19 di tengah masyarakat. “Kami akan melakukan 2 pendekatan tersebut dengan merata dan konsisten. Bahkan, kalau perlu sampai pada tingkat penjatuhan hukuman," ungkapnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)