Menjadi Penyintas Covid-19, Praktisi PR Ini Ingatkan Masyarakat Tidak Sepelekan 3M

Anandita Adi

Anandita Adi tidak pernah mengira bahwa demam yang ia rasakan pada 2 November lalu merupakan gejala awal COVID-19 masuk dalam tubuhnya. Ia mengira demam selama 8 hari, dengan gejala mirip demam tifoid (tipes) dan radang tenggorokan.

“Waktu itu aku denial, jadi ragu mau pergi ke rumah sakit, takut juga kalau benar COVID,” ungkap PR & Medi Director, yang juga salah satu pendiri dari The Union PR Agency ini. Ia tidak mengira bakal terkena COVID-19 karena menurut pengakuan Dita—sapaan akrabnya—di antara orang-orang di rumahnya, dialah yang paling bawel mengingatkan untuk patuh pada protokol kesehatan (prokes).

“Aku tuh kesel sekali, karena di kantor pun paling ketat menjalankan prokes,” imbuhnya. Karena demam tidak kunjung turun, Dita kemudian memutuskan untuk rapid test, namun saat itu hasilnya masih samar-samar. Karena masih demam, ia diminta masuk IGD di RS Moh. Ridwan Meuraksa Jakarta Timur tempatnya berobat untuk diobservasi. Pada tanggal 11 November ia menjalani tes swab pertama dan pada 12 November dipastikan positif COVID-19.

“Terus terang aku takut sekali, masih bingung bagaimana saya bisa terkena COVID, padahal sangat ketat prokes,” katanya. Karena ia sempat lama ada di rumah, keluarganya pun diperiksa. Ia sedih, ibunya pun terkena COVID-19. Namun ia bersyukur, putri semata wayangnya yang berusia 5 tahun, walau selama ia demam di rumah selalu tidur bersamanya setelah melakukan tes swab hasilnya negatif.

Selama merasakan virus corona di dalam tubuhnya, Dita merasa sangat lemas, tidak sanggup melakukan apa-apa, tulang dan gusi terasa linu, demam, pusing, diare, serta tentu saja tenggorokan gatal seperti terkena radang. “Pada hari ketiga saya merasakan indra penciuman hilang, lalu indra perasa atau lidah mulai kacau, batuk hingga sesak nafas,” katanya.

Dita sempat masuk ICU karena kondisi paru-parunya memburuk, untuk bernafas pun berat. Untuk bicara pun ia susah, karena seperti kehabisan nafas walau sedikit saja bicara, disusul batuk tidak hebat. “Selama beberapa hari saya harus dibantu selang oksigen. Tidur tidak bisa rebahan, miring kanan atau pun kiri  membuatnya sesak nafas. Akhirnya ia pun tidur dengan posisi duduk nyaris tegak 90 derajat,” tutunya.

Dia mengungkapkan, ia harus menjalani 6 kali rontgen paru selama 16 dirawat di RS. Dan kondisi obesitas membuat gula darahnya melonjak tinggi. Ini baru diketahui setelah terkena COVID-19. Ia pun harus dipasang alat yang berfungsi mengalirkan cairan untuk pengencer darah yang ke toilet pun harus dia bawa-bawa.

Setelah masa kritis bisa ia lalui, Dita agak lega, bisa masuk ruang perawatan serta tidak lagi dipasang infus. “Selama 7 hari di ICU aku menyalahkan diri sendiri, tidak terima, down sekali, bawannya ingin nangis terus. Setelah masuk ruang perawatan saya baru bisa menerima, oh ya saya memang kena COVID-19, saya harus semangat untuk sembuh,” ujarnya.

Ia pun mulai membangun pikiran positif, demi membantu tubuhnya cepat sembuh dari virus Corona ini. “Aku tidak mau berpikir rumit, harus dibawa happy, mulai bercanda-canda. Hingga aku swab keempat kalinya dan dinyatakan negative COVID-19,” katanya dengan penuh syukur. Dita menghabiskan 7 hari di ruang perawatan biasa dengan membangun perasaan bahagia dan ceria.

Dita merasa selain patuh dengan pengobatan yang diberikan dokter dan para nakes, upayanya menjaga pikiran positif, menjauhi overthinking, membangun rasa bahagia, banyak bercanda, makan enak dan tetap menjaga kebugaran dengan senam, membuatnya cepat sembuh.

“Aku minta jangan sepelekan COVID-19, ini nyata, aku mengalami sendiri. Nafas seperti mau putus. Aku melihat sendiri, dua orang yang dirawat bersamaku sesak nafas dan meninggal. Selama dirawat kita harus diswab berkali-kali, itu rasanya tidak enak,” kata Dita. Ia pun menghimbau terlebih menjelang libur akhir tahun, untuk tidak abai dan lengah. Jangan sampai lalai prokes: memakai masker, cuci tangan dan menghindari kerumunan (jaga jarak).

Setelah pulang ke rumah, ia harus mengisolasi diri selama 14 hari, serta control ke RS. “Ketika control pertama kali, aku kaget, COVID-19 itu jahat, melihat rekam medisku ternyata serangan COVID-19 itu menyebabkan gangguan ke liver, pengentalan darah, hipertensi, jantung, dan diabetes tipe 2. Pantas saja aku masuk ICU,” katanya.

Ia bersyukur mendapat kesempatan hidup lagi dari Tuhan. Sekarang, Dita harus mengobati hipertensi dan diabetesnya, efek paska COVID-19, karena keduanya masih tinggi sampai sekarang.  Maka itu sekali lagi ia mengingatkan masyarakat untuk tidak menyepelekan COVID-19 dan taat prokes, karena virus mematikan ini bisa menyerang siapa saja.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)