Meski PPKM Telah di Level 1, Pemprov Kepri Tetap Kontrol Enam Hal Ini

Dua tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden  Ma'ruf  Amin  masih  diselimuti  suasana pandemi  COVID-19.  Pada  15  Juli  2021,  kasus  positif harian di Indonesia mencapai puncaknya.  Lonjakan  kasus  di  antaranya  disebabkan  oleh  merebaknya  COVID-19  varian  Delta.

Pemerintah  pun  terus  berupaya  menurunkan  penularan  kasus  COVID-19.  Hasilnya, sejak 16 Oktober 2021 ledakan pandemi mulai terkendali.  Penurunan  kasus  COVID-19  ini  merupakan  hasil  kolaborasi  erat  antara  pemerintah  pusat, pemerintah daerah, dan seluruh masyarakat Indonesia. 

Provinsi  Kepulauan  Riau  (Kepri)  merupakan  salah  satu  wilayah  yang  dinilai  sukses  menekan laju angka penularan COVID19. Dan, provinsi ini menjadi salah satu provinsi  di luar Jawa-Bali yang masuk PPKM Level 1.   "Memang  dari  asesmen  levelisasi  daerah,  kita  sudah  berada  pada  level  1  bersama  5  kabupaten  kota  yang  lain,  dan  hanya  dua  yang  masih  pada  level  2.  Kita  ikuti  terus  perkembangan asesmennya dari dua sisi, baik itu transmisi komunitas, maupun  kapasitas  respon,"  kata  Gubernur  Kepri  Ansar  Ahmad  dalam  acara  Diskusi  Forum  Merdeka  Barat  9  (FMB  9)  virtual  bertajuk  "Cerita  Kita  Menghadapi  Delta"  (Laporan  Tahunan Jokowi - Ma’ruf) pada Senin (25/10/2021).

Ansar  menegaskan  ada  enam  hal  yang  harus  terus  dikontrol  terkait  penanganan  dan  pengendalian  COVID-19  di  wilayahnya.  Di antaranya,  tracing,  treatment,  testing,  angka  kematian,  positivity  rate  dan  tingkat  penggunaaan  tempat  tidur  atau  Bed  Occupancy Rate (BOR) di rumah sakit.   "Nah ini terus kita jaga karena kita perlu antisipasi jangan sampai ada gelombang ketiga lagi,  dan  Insya  Allah,  mudah-mudahan  bisa  kita  akhiri  COVID-19  di  Kepri  dan  di Indonesia tercinta ini," ujar Ansar.

Ansar menceritakan, pada Juli 2021 lalu, kasus aktif COVID-19 di Kepri sangat  mengkhawatirkan, bisa menembus angka 7.000 kasus.   Namun saat ini, wilayahnya telah keluar dari situasi puncak second wave atau  gelombang kedua COVID-19.   Menurut  Ansar,  berdasarkan  laporan  hingga  Sabtu  (23/10/2021),  kasus  aktif  di  Kepri  hanya  tinggal  50  orang  atau  0,09  persen.  Sedangkan  tingkat  kesembuhan  mencapai  52.023 orang atau 96,65 persen, meninggal dunia sebanyak 1.754 orang atau 3,26 persen. Untuk  Bed Occupancy Rate  (BOR)  sudah  menurun  mencapai  2,82  persen.  Sedangkan  positivity  rate  juga  sudah  menurun sampai angka 0,15 persen.

Ia  pun  memastikan  bahwa  pengendalian  COVID-19  di  Kepri  telah  dilakukan  dengan  baik.  Berdasarkan  catatan,  dalam  satu  minggu  terakhir  hanya  ditemukan  beberapa  kasus saja.  Bahkan,  jelas  dia,  dalam  satu  minggu  terakhir  di  Kabupaten  Lingga  sudah  tidak  ditemukan  lagi  kasus sama  sekali.  Kemudian,  di Kota  Batam, Tanjung  Pinang, Bintan,  Kepulauan Anambas dan Natuna pun tidak ditemukan kasus harian terkonfirmasi dalam  waktu beberapa hari ini.  "Akan  tetapi  masih  ditemukan  kasus  aktif,  yang  mudah-mudahan  kita  tangani,  kita  treatmen dengan baik dan mereka bisa sembuh," tegas dia.

Ia  juga  memastikan,  kendati  kasus  COVID-19  di  Singapura  cukup  tinggi,  hal  ini  tidak  berdampak signifikan terhadap wilayah Kepri yang berdekatan dengan Singapura.  Hal  ini  dikarenakan hingga  saat  ini  akses  yang  baru  dibuka  adalah  untuk pemulangan  pekerja migran Indonesia dari Malaysia maupun Singapura.  Menurut  dia,  proses  pemulangan  ini  pun  telah  ditangani  dengan  baik,  sesuai  dengan  protokol kesehatan yang berlaku.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)