Pelajaran Berharga dari Penyintas Covid-19, Nina Susilowati

Nina Susilowati

Pada Maret 2020 lalu, Nina Susilowati termasuk dalam kelompok pertama orang yang dinyatakan positif terpapar virus Corona di Indonesia. Semula ia hanya merasakan tubuhnya panas dingin disertai batuk ringan, tetapi seketika itu juga nafasnya menjadi berat.

Nina kemudian berinisiatif memeriksakan diri ke rumah sakit. Di sana, ia kemudian di-rontgen untuk melihat kondisi paru-parunya. Kemudian, dirujuk ke rumah sakit pemerintah yang khusus menangani pasien terduga Covid-19 yaitu RSUD Pasar Minggu. Menurut Nina, sebagai pasien pertama dan kondisi rumah sakit serta tenaga kesehatan juga belum siap, hal itu membuat dirinya menjadi sedikit kesulitan menjalani isolasi.

“Barangkali masa awal itu Alat Pelindung Diri (APD) masih sangat minim dan SOP menangani pasien Covid-19 juga belum terbentuk, sehingga berdampak ke pelayanan rumah sakit,” ungkap Nina. Tiidak ada perawat yang berani masuk ke kamarnya kecuali di jam-jam yang telah diatur jadwalnya. “Sehingga di luar jam tersebut jika saya butuh bantuan perawat, tidak ada yang berani masuk,” jelasnya.

Menurut Nina, satu hal yang harus dimiliki setiap orang yang terpapar dan harus menjalani isolasi adalah sabar. Karena tidak semua diinginkan sebagai seorang pasien bisa didapat dengan cepat. Dua hari pertama, untuk bernafas Nina sepenuhnya di bantu alat nafas (oksigen) dan diberi uap dari nebulator setiap pagi dan sore untuk mencairkan dahak dan membuka jalan nafas. Nina juga mencoba bernafas dengan menggunakan diagfragma, teknik pernafasan yang dipelajarinya dari seorang kolega.

Hingga memasuki hari ke-3, ia sudah bisa bernafas tanpa selang oksigen. Tetapi, harus ekstra melambatkan semua gerak tubuh yang dibutuhkan, misalnya mengunyah makanan dan berjalan ke kamar mandi, semua harus dilakukan dengan sangat lambat sekali. Karena ketika ia mencoba bergerak selayaknya orang normal maka nafasnya menjadi sesak. Hingga dua minggu kemudian, ia berangsur pulih dan bisa beraktivitas normal.

Tetapi, lagi-lagi sebagai pasien awal Nina, juga harus bersabar hingga 2 minggu untuk mendapatkan hasil tes SWAB. “Mungkin karena semua masih serba gagap ya menghadapi penyakit baru ini sehingga segala sesuatunya di awal-awal itu masih serba lambat,” ujarnya. Selama dirawat Nina mengaku tekanan secara mental jauh lebih berat dibanding penyakit sesak nafas akibat virus itu.

Beberapa hal membuatnya cukup tertekan menjalani isolasi. Salah satunya adalah ketika dua pasien Covid-19 yang berada satu kamar dengannya meninggal dalam waktu bersamaan—hanya selisih 10 menit—hal itu membuatnya sangat terpukul. Nina kemudian menelepon keluarga dan kerabat untuk mencurahkan rasa sedih dan beban psikisnya.

Nina juga berbagi tips, jika kita merasa terserang batuk, flu dan meriang tetapi tidak atau belum disertai sesak nafas, maka sebaiknya mengisolasi diri secara mandiri di rumah selama 14 hari. Tentunya dengan memperhatikan asupan makanan dan vitamin tambahan. Tetapi jika sudah ada terasa sesak nafas meski baru sdikit maka harus segera ke fasilitas kesehatan terdekat.

“Yang paling penting untuk semua kita taatilah protokol kesehatan, 3M, mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak,” tegasnya. “Dan satu lagi yang penting menurut saya pribadi adalah semangat hidup, karena dengan semangat hidup kita jadi punya energi untuk mencari tahu segala info untuk menolong diri sendiri keluar dari penyakit ini," katanya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)