Pentingnya Kesehatan Jiwa di Masa Pandemi Covid-19

Selama masa pandemi, Kesehatan Jiwa pasien Covid-19 dan masyarakat menjadi perhatian Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI).

Ketua Umum PDSKJI DR. Dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS mengatakan sejak ditemukan kasus Covid-19 pertama kali, PDSKJI segera meluncurkan Swaperiksa Web guna mencegah kepanikan massal dalam suasana batin yang mencekam, sekaligus untuk membantu masyarakat dalam menangani perasaan tidak nyaman.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Psikolog Klinis Indonesia DR. Indria L. Gamayanti, M.Si, Psikolog menyampaikan tim Satgas IPK Indonesia untuk Penanggulangan COVID-19 telah memberikan layanan penanganan psikologis sejak Maret 2020 hingga sekarang, baik melalui layanan tatap muka dengan mengikuti protokol kesehatan, layanan telekonseling, hingga layanan teks. Selama masa pandemi, IPK Indonesia melakukan pendataan terkait layanan yang diberikan oleh psikolog klinis sesuai masalah yang dikeluhkan masyarakat dan diagnosis yang diberikan sebagai data konkrit untuk mengetahui kondisi kesehatan jiwa dan langkah penanganan psikologis ke depannya.

Adapun masalah psikologis masyarakat yang mengakses swaperiksa web PDSKJI yaitu pertama masalah psikologis dimana selama Oktober 2020, jumlah pengisian swaperiksa masyarakat di web PDSKJI berjumlah 5661 buah, berasal dari 31 provinsi dengan temuan 68% mengalami masalah psikologis dan 32% tidak ada masalah psikologis.

Kedua gejala cemas, dari 2606 swaperiksa, sebanyak 67.4% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala cemas. Gejala Kecemasan terbanyak ditemukan pada kelompok usia <30 tahun dengan uraian: sebanyak 75,9% terjadi pada kategori usia <20 tahun; 71,5% pada usia 20-29 tahun; 58,8% pada usia 30-39 tahun; 48,7% pada usia 40-49 tahun; 42% usia 50-59 tahun; dan 47,1% usia >60 tahun.

Ketiga depresi, dari 2294 swaperiksa, sebanyak 67,3% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala depresi, di mana 48% dari responden berpikir lebih baik mati atau ingin melukai diri dengan cara apapun. Pikiran kematian terbanyak pada rentang usia 18-29 tahun. Keempat trauma psikologis, dari 761 swaperiksa, terdapat 74,2% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala trauma psikologis. Gejala Trauma Psikologis terbanyak ditemukan pada kelompok usia <30 tahun, dengan keluhan tersering berupa perasaan waspada terus menerus dan merasa sendirian atau terisolasi dengan uraian: 90,6% terjadi pada kategori usia <20 tahun; 73,4% pada usia 20-29 tahun; 76,5% pada usia 30-39 tahun; 55% pada usia 40-49 tahun; 38,9% pada usia >50 tahun.

Kelima bunuh diri, dengan 110 swaperiksa, 68% yang mengisi Swaperiksa Bunuh Diri memiliki pemikiran tentang bunuh diri dan 5% di antaranya memiliki rencana matang dan telah mengambil tindakan dari hasil swaperiksa yang mengatakan memiliki pemikiran bunuh diri, 66% belum pernah mendapatkan pengobatan.

Dr. dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS menegaskan untuk menindaklanjuti tingginya prosentase swaperiksa yang mengalami gangguan, PDSKJI bertekad untuk membuka jangkauan layanan yang lebih luas dengan mendorong para profesional kesehatan jiwa untuk bergandeng tangan bersama dengan tujuan penemuan dan penalataksaan lebih dini terhadap orang dengan masalah psikologis.

Beberapa program strategis PDSKJI dalam penanggulangan kesehatan jiwa meliputi edukasi tenaga profesional kesehatan jiwa, edukasi masyarakat untuk memeriksakan diri, pendampingan jarak jauh, serta akses pelayanan yang mudah dan aman. Tim Satgas IPK Indonesia untuk Penanggulangan COVID-19 dibentuk sejak tanggal 27 Maret 2020, dan sejauh ini beranggotakan 734 psikolog klinis dari seluruh Indonesia. Tim ini melakukan pendataan terkait layanan yang diberikan oleh psikolog klinis selama periode Maret hingga Agustus 2020, sesuai dengan diagnosis masalah, dibagi menjadi tiga periode: Periode 1 (15 Maret – 31 Mei 2020); Periode 2 (1 Juni – 15 Juli 2020); dan Periode 3 (16 Juli - 31 Agustus 2020). Data ini diperoleh dari 194 psikolog di 27 wilayah yang telah memasukkan laporan data layanan.

Sekitar 67,8% dari penerima layanan individual adalah orang dewasa (sebanyak 9428 orang dewasa), klien anak atau remaja sebanyak 4690, sedangkan lansia merupakan kelompok usia yang paling sedikit mengakses layanan oleh psikolog klinis sebanyak 501 orang. Berdasarkan periode layanan, pada kelompok anak dan remaja, terdapat kenaikan penerima layanan pada setiap periodenya. Sementara di kelompok dewasa, jumlah individu yang mengakses layanan pada awal pandemi lebih banyak dibandingkan periode-periode selanjutnya. Kecenderungan ini juga terlihat pada kelompok lansia.

Terdapat enam masalah psikologis tertinggi yang ditemukan berdasarkan keluhan dan hasil diagnosis oleh psikolog klinis, yaitu: hambatan terkait dengan masalah belajar, khususnya pada klien anak dan remaja sebesar 27,2%. Secara umum, masalah psikologis yang secara konsisten banyak ditemukan pada semua kelompok usia adalah keluhan stress umum sebesar 23,9%; keluhan kecemasan sebesar 18,9%; keluhan mood swing (suasana hati yang berubah-ubah) 9,1%; adanya gangguan kecemasan 8,8%, dan keluhan somatis 4,7%. Masalah-masalah ini jika tidak segera mendapat penanganan dapat berlanjut menjadi gangguan lebih serius.

DR. Indria L. Gamayanti, M.Si, Psikolog menyampaikan, IPK Indonesia siap membantu pemerintah untuk melakukan pendampingan dan layanan pada masyarakat guna mewujudkan kesehatan jiwa masyarakat Indonesia. Dalam upaya menanggulangi masalah psikologis tertinggi yang ditemukan pada beragam kelompok usia, IPK Indonesia telah menjalin kolaborasi bersama berbagai pihak di antaranya dengan Kwartir Nasional Pramuka dengan Program Pelatihan Dukungan Psikologi Awal untuk membantu masyarakat agar mampu melakukan deteksi dini, penanganan keluhan maupun gangguan psikologis pada tingkat awal; dan memahami kapan dan ke mana harus melakukan rujukan. Di sisi lain, IPK Indonesia siap untuk menerima rujukan kasus-kasus yang memerlukan tindakan professional lebih lanjut.

Adapun program pelayanan yang dilakukan oleh Psikolog Klinis di masa pandemi ini, telah dimulai dari tergabung dalam tim kesehatan melakukan penanganan psikologis di Natuna pada WNI yang dievakuasi dari Propinsi Hubei, penanganan di Pulau Sebaru pada ABK kapal Diamond Princess dan Dream World, pelayanan di Wisma Atlet, Pulau Galang, di Rumah-Rumah Sakit Rujukan Covid, Rumah sakit darurat dan RS Lapangan, Shelter, serta memberikan layanan langsung pada masyarakat baik indiivual, kelompok maupun komunitas dengan melakukan koordinasi dan kerjasama lintas sektoral dan lintas profesi. Layanan dilakukan baik on site / luring maupun on line / daring. Di samping itu, masyarakat juga dapat mengakses layanan psikologi klinis melalui fasilitas online Halodoc dan aplikasi Sehat Jiwa.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)