Pentingnya Melindungi Anak Indonesia di Masa Pandemi COVID-19

Kegiatan vaksinasi anak-anak usia 12-17 tahun di Jakarta Selatan

Pada Hari Anak Nasional 2021, anak-anak Indonesia dihadapkan pada situasi yang sulit akibat pandemi COVID-19 yang telah berjalan setahun lebih. Situasi lebih dari 80 juta anak Indonesia, tidak sedang baik-baik saja. Sekitar 60 juta anak-anak Indonesia kehilangan masa indah di sekolah, sebagian bahkan tidak bisa melakukan pembelajaran jarak jauh karena fasilitas tidak tersedia. Banyak yang kehilangan kesempatan bermain dan mengenal alam terbuka. Di dunia maya pun, ancaman masih ada. Sebab, masih banyak anak yang mengalami perundungan atau tindakan bully, diskriminasi, dan kekerasan verbal.

“Tekanan dan beban mental saat menjalani pandemi pasti tidak mudah bagi anak-anak Indonesia, dan yang paling membuat sedih, beberapa dari anak Indonesia, kehilangan orang tua mereka yang tidak dapat diselamatkan, pada saat menderita COVID-19,” ujar dr. Reisa Broto Asmoro.

“Kami turut berduka cita atas kehilangan mereka, dan mendoakan yang terbaik, bagi mendiang ayah bunda yang mendahului kita. Semoga Tuhan memberikan kekuatan dan kesabaran bagi anak yang ditinggalkan. Justru pada masa pandemi, anak Indonesia harus makin kita lindungi, agar masa depan mereka, yaitu masa depan kita juga, jauh lebih baik,” ujar dr. Reisa berharap.

Penambahan kasus harian diharapkan bisa diturunkan. Kapasitas rumah sakit juga diupayakan maksimal untuk merawat pasien dengan gejala berat meskipun jumlahnya bertambah, dan angka kematian karena COVID-19 harus ditekan sampai serendah mungkin.

Sejak pandemi dimulai pemerintah juga terus menguatkan 3T (Testing, Tracing, dan Treatment). Untuk itu, dr. Reisa menjelaskan kembali pentingnya testing atau menguji seseorang positif atau negatif terhadap COVID-19 supaya pasien cepat dirawat dan disembuhkan, dan jangan sampai menulari orang lain.

“Tidak semua orang memiliki kesehatan prima, misalnya orang lanjut usia yang sudah punya penyakit menahun, apabila tanpa sengaja tertular oleh orang yang membawa virus, bisa berakibat fatal,” ujarnya.

Menurutnya, tracing atau kegiatan melacak siapa saja yang dekat dengan pasien yang baru saja diketahui positif COVID-19, supaya kita tahu siapa saja yang tertular dan yang tidak.“Treatment atau perawatan bagi yang terkonfirmasi positif setelah melakukan testing dan tracing bisa segera diperiksa, untuk memutuskan apakah disarankan isolasi mandiri, dirujuk ke isolasi terpusat punya pemerintah. Atau bagi yang punya penyakit peserta yang berbahaya, dirujuk segera di rumah sakit rujukan, agar dapat perawatan intensif,” jelasnya.

Saat ini sudah ada hampir 1.000 rumah sakit rujukan COVID-19 di seluruh Indonesia, dan tempat tidur untuk pasien COVID-19 di Indonesia tersedia sekitar 125 ribu ruangan. “Upaya pemerintah ini semoga membuat pasien sembuh makin banyak, kemarin kasus sembuh kita 36.370, naik dari hari sebelumnya yang berjumlah 32.887,” dr. Reisa menegaskan.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)