Peran Perempuan Bisa Percepat Pemulihan Sosial Ekonomi Akibat Pandemi

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), I Gusti Ayu Bintang Dermawati mengatakan, setengah dari jumlah penduduk Indonesia adalah perempuan, oleh karena itu setengah dari kekuatan bangsa ini ada pada perempuan. Hal itu disampaikan dalam forum webinar bertajuk “Pandemi Covid-19 dan Perlindungan Terhadap Perempuan” yang diadakan BBC Media Action.
Bintang menjelaskan, Sebagai bencana non alam yang terjadi hampir 9 bulan ini, semakin memperburuk ketimpangan gender yang dirasakan oleh perempuan. Pandemi ini juga telah menempatkan perempuan pada posisi yang rentan, baik dalam konteks ekonomi maupun sosial. Dan semakin banyaknya waktu yang dihabiskan di rumah telah membuat perempuan semakin rentan mendapatkan kekerasan gender bahkan di rumahnya sendiri.
Menurutnya, seharusnya perempuan diberi dukungan untuk memberikan perannya di dalam konteks sosial dan ekonomi. Perempuan banyak memegang peran-peran penting mulai dari dalam keluarga hingga ke ranah publik. Bintang mencontohkan, di dalam keluarga, perempuan berperan penting dalam membangun dan menjaga kesehatan keluarganya. “Oleh karena itu perempuan adalah agen yang penting dalam menyuarakan disiplin protokol kesehatan. “ tegasnya.
Dalam skala yang lebih besar, peran perempuan juga berdampak signifikan. Sebuah studi dari World Economic Forum menunjukkan pemberdayaan perempuan adalah kunci dari kenaikan pendapatan suatu negara. Oleh karena itu Bintang mendorong agar semua pihak bisa memberikan dukungan yang positif bagi perempuan sesuai dengan peran dan kapasitasnya.
“Sinergi kuat antar sektor harus terus dilakukan. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, media massa dan masyarakat harus mengambil peran masing-masing. Kegiatan ini adalah bukti nyata bahwa media massa bisa mensosialisasikan isu ini. Kegiatan ini jadi inspirasi semua pihak dalam mengambil peran demi kemajuan bangsa dan negara. Perempuan berdaya, negara maju,” jelasnya.
Dalam forum yang sama, Dr. Pribudiarta Nur Sitepu, MM, Sekretaris KemenPPPA menjelaskan, kondisi ekonomi yang buruk dan tingkat stres yang tinggi menjadi variabel yang mendukung peningkatan kasus KDRT. Pribudiarta memaparkan data dari sistem Simfoni, layanan perlindungan anak dari KemenPPPA periode 1 Januari – 20 November 2020 menyebutkan ada 6088 kasus kekerasan yang dilaporkan terjadi pada perempuan. Artinya terjadi 19 kasus per hari. Apalagi KDRT tidak hanya menimpa perempuan tetapi juga anak. Pribudiarta menjelaskan untuk menghadapi isu ini, pihaknya tengah melakukan langkah konkrit dengan melakukan membuka layanan Psikologis Sehat Jiwa, Hotline 119, dan Gerakan Bersama Jaga Keluarga Kita yang melibatkan seluruh komponen masyarakat.
Sementara itu peniliti dari Universitas Padjajaran, Dr. Binahayati Rusyidi, MSW—yang juga menjadi narasumber dalam forum tersebut—telah melakukan riset terkait kekerasan berbasis gender di Sumba. Penelitian ini menggali pandangan dari pemangku kepentingan mengenai isu kekerasan terhadap perempuan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Covid-19 telah mengubah atau mengurangi alokasi dana pembangunan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Menurut Binahayati banyak pihak yang belum mendapat tindakan penangan secara langsung.
Isu-isu seperti ini sudah seharusnya juga mendapatkan sorotan dari media massa sehingga bisa menjadi concern bersama baik masyarakat, pemerintah, dunia usaha maupun akademisi. Pemipin Redaksi Femina, Petty S. Fatimah yang juga hadir sebagai pembicara dalam forum tersebut mengajak seua pihak untuk menyuarakan isu ini sesuai dengan peran dan kapasitas masing-masing.
“Kalau kita bilang kasihan perempuan terdampak pandemik, maka kita (media) bisa melakukan apa? kita sebagai NGO, aktivis, media dan peran lainnya adalah corong untuk mengatakan apa pun, melakukan apa pun, untuk mengedukasi dan mengadvikasi mereka agar berdaya,”jelasnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)