Tiga Kunci Cegah Penyebaran Varian Baru Omicron

Jumlah  negara yang  melaporkan  sudah terinfeksi varian Omicron hampir  45 negara (Foto: KPCPEN)

Pemerintah  terus  memantau  virus  COVID-19  varian  baru  Omicron.  Berbagai upaya dan kebijakan diambil guna mencegah virus tersebut  masuk ke Indonesia. Munculnya   varian ini menjadi bukti bahwa  COVID-19 tetap  harus diwaspadai. Karena itu,  meski pandemi dalam  situasi landai di Indonesia,  pemerintah meminta masyarakat terus menjaga protokol  kesehatan  dan  segera melengkapi vaksinasi.

World  Health  Organization  atau  WHO  menyatakan  varian  B.1.1.529  atau  Omicron  pertama  kali  ditemukan  di  Benua  Afrika  pada  24  November  2021.  Hanya  dua  hari sesudahnya,  varian  ini  telah  dikategorikan  sebagai  variant  of  concern.  Omicron  disebut  sebagai  salah  satu  yang  sangat  cepat  dalam penularan  dan di  berbagai negara, penelitian terus  dilakukan untuk  mempelajari varian baru ini.

Dalam Dialog Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) – KPCPEN, Juru Bicara  Vaksinasi  COVID-19 Kemenkes  RI, Siti  Nadia Tarmizi menggarisbawahi bahwa  penyebaran  Omicron  sangat cepat.  “Jumlah  negara yang  melaporkan  sudah  hampir  45 negara,  jadi  sangat cepat  penyebarannya,” ujar Nadia. 

Ia  juga  menjelaskan  bahwa  di  beberapa  negara  tersebut, terdapat  kasus  di  mana  orang  yang  terinfeksi  tidak  memiliki  riwayat  perjalanan  luar  negeri.  Karena  itu  Nadia  mengingatkan,  bahwa  sejalan dengan pengetatan pintu  masuk, masyarakat di dalam negeri juga harus tetap  waspada. 

Sedangkan  terkait  situasi  di Indonesia,   Nadia  menyebutkan,  meski  laju  penularan  rendah,  namun  varian Delta yang  mendominasi  virus  COVID-19  di  Indonesia  masih  terus  bermutasi.  Setidaknya  23  varian turunan  telah teridentifikasi. Artinya, kata Nadia, upaya pengendalian seperti disiplin prokes,  vaksinasi dan deteksi dini adalah keharusan.

“Kalau prokes  dilakukan,  dapat  mencegah virus  menemukan  inang baru  untuk  berkembang,”  tuturnya.  Sedangkan  vaksinasi,  dikatakannya,  selain  mencegah  sakit  parah,  juga  akan  menekan  jumlah populasi  virus.  Bila semua sudah divaksinasi, kita akan punya benteng kekebalan yang bisa menjaga kita dari varian  baru dari luar negeri maupun munculnya varian baru di  dalam negeri,” papar Nadia.

Hal  tersebut  juga  ditegaskan  oleh  Pakar  Epidemiologi  Universitas  Airlangga,  Windhu Purnomo bahwa  apapun  varian virusnya,  masyarakat diharapkan  menerapkan  100%  prokes  dan  melengkapi  vaksinasi sebagai upaya pencegahan. 

Windhu  menjelaskan, Omicron memunculkan gejala yang kurang lebih sama, yakni seperti influenza  pada  umumnya,  yang  membedakan  adalah  tempat  mutasinya.  Cara  penularan  juga  tidak  jauh  berbeda,  yaitu melalui droplet  dan bisa  sebagai airborne  (penyakit yang menyebar  lewat udara) di  tempat tertutup.    Selama masih terjadi penularan, ujarnya, maka mutasi akan selalu dapat terjadi.   “Jadi prokes tetap nomor satu untuk mencegah tertular atau menulari orang lain, dan mencegah  terjadinya mutasi baru,” tandas Windhu. Jika  ingin  mencegah  mutasi,  jangan  sampai  terjadi  transmisi.

Terkait percepatan  vaksinasi,  ia  meminta masyarakat  tidak  pilih-pilih  vaksin  atau  bahkan  menolak  vaksin.  Sebab,  ujarnya, vaksin  memberikan perlindungan  ketika  kita terpapar  virus, agar tidak   sakit  berat bahkan risiko yang lebih buruk lainnya. “Kalau bisa 100% vaksinasi dosis lengkap, kita akan lebih  aman,” tandas Windhu.  Apabila upaya-upaya  tersebut  dapat  berlangsung  baik, Windhu  mengatakan cukup  optimistis  dengan  situasi  pandemi  saat ini,  di  mana Indonesia sedang dalam proses.  “Endemi adalah sasaran antara,  goal kita adalah terkendalinya COVID-19 sehingga nyaris nol (kasus),” tuturnya.

Dalam kesempatan  yang  sama,  Deputi  Eksternal  Junior  Doctors  Network   Indonesia,  Makhyan  Jibril  menambahkan bahwa  selain prokes  dan  vaksinasi, sangat penting  untuk  membiasakan hidup  sehat,  agar seandainya terpapar virus, kita dapat terhindar dari sakit berat.   Ia menjelaskan bahwa  virus COVID-19 memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa dan penelitian  masih terus dilakukan pada varian Omicron, termasuk tentang kemampuan virus tersebut  menghindari sistem  imun  manusia. Sembari menunggu,  masyarakat diharapkan terus  menjalankan  ikhtiar guna perlindungan kesehatan.

Jibril  menekankan  pentingnya  kesadaran  masyarakat  dalam  melaksanakan  upaya-upaya  tersebut,  sehingga komunikasi dan edukasi harus selalu digencarkan melalui berbagai cara. “Pendekatan  berbasis kultural dan komunitas juga harus dilakukan untuk vaksinasi dan prokes,” lanjutnya. 

Menghadapi ancaman varian  virus baru, Jibril  meminta masyarakat  jangan panik, sebaiknya  bertindak rasional dengan cara menerapkan prokes serta melengkapi vaksinasi, khususnya  percepatan vaksinasi lansia.  Ujian terbesar new normal, dikatakan Jibril, adalah akhir tahun ini. “Kalau kita bisa melewati ujian ini, semoga situasi terkendali ini bisa dipertahankan,” ungkapnya,

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)