Protokol Kesehatan 3M Harus Berjalan Paralel

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto (kiri) dan Satgas COVID-19) Doni Monardo (tengah) saat konferensi Survei Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi. (dok. Satgas COVID-19)

Untuk mendukung upaya penanganan pandemi Covid-19, Badan Pusat Statistik (BPS) telah melakukan ‘Survei Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19’ yang dilaksanakan secara online pada periode 7-14 September 2020. Survei ini mencakup informasi mengenai persepsi kepatuhan dan efektivitas protokol kesehatan, persepsi dan penilaian terhadap pandemi Covid-19, termasuk peran media dalam memberikan informasi Covid-19, dan aspek lain mengenai tatanan kehidupan masyarakat di masa pandemi.

Menurut Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto diharapkan temuan ini dapat dijadikan input untuk memperpanjang kebijakan yang selama ini sudah dijalankan. “Tujuan survei ini untuk melihat tingkat kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah, kemudian juga memahami apa saja kendala atau alasan ketika masyarakat tidak melakukannya,” ujar Suhariyanto.

Hasil survei ini akan menjadi statistik tambahan (additional statistics) untuk memberikan informasi kepada para pemangku kepentingan, guna menyusun perencanaan strategis dalam penanganan pandemi Covid-19.

Survei yang diikuti oleh 90.967 responden ini terdiri dari 55 persen perempuan dan 45 persen laki-laki dengan didominasi usia kurang dari 45 tahun sebanyak 69 persen. Sementara 61% responden survei berpendidikan minimal sarjana.

Kepatuhan masyarakat mengikuti protokol kesehatan (dok. BPS)

Berdasarkan temuan survei, tingkat kepatuhan responden dalam pencegahan Covid-19 dinilai sudah baik dengan memerhatikan 3M yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Sebanyak 92 persen responden mengaku sudah menggunakan masker apabila keluar rumah, namun kepatuhan masyarakat untuk mencuci tangan baru di angka 77 persen, demikian pula dengan menjaga jarak sebanyak 75 persen responden.

“Perlu dilakukan sosialisasi yang lebih supaya masyarakat betul-betul menerapkan 3 M secara paralel. Sebab menggunakan masker tanpa diikuti cuci tangan dan menjaga jarak tidak ada gunanya,” tambah Suhariyanto.

Kemudian, alasan tidak menerapkan protokol kesehatan terlihat lebih dari setengah responden sebanyak 55 persen berpendapat bahwa tidak ada sanksi, lalu disusul dengan alasan tidak adanya kejadian penderita Covid-19 di lingkungan sekitar 39 persen. Adapun alasan lainnya yakni karena harga masker, hand sanitizer, atau APD yang cenderung mahal menempati angka 23%, serta pekerjaan menjadi sulit ketika menetapkan protokol kesehatan sebanyak 33%.

Temuan survei penerapan protokol di beberapa tempat. (dok. BPS)

Yang tidak kalah penting adalah 19 persen respoden tidak mengikuti protokol kesehatan karena aparat atau pimpinannya pun tidak memberikan contoh. "Tampaknya ke depan ini perlu sentuhan seluruh pimpinan. Seluruh aparat harus memberikan contoh di depan supaya masyarakat mengikuti," ungkap Suhariyanto.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 (Satgas COVID-19) Doni Monardo mengatakan seluruh masyarakat perlu bergerak bersama-sama dalam penanganan COVID-19, baik di tingkat pusat maupun daerah. Soal keteladanan, Doni mengingatkan agar semua pihak saling mengingatkan termasuk pada orang yang statusnya lebih tinggi. "Harus berani mengingatkan walaupun kalimat itu kurang menyenangkan. Tapi demi kebaikan harus banyak orang yang mengingatkan," ujarnya.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)