Semakin Terkendali, Satgas Optimistis Penanganan Pandemi di 2022 Semakin Baik

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito mengatakan bahwa saat ini perjuangan menghadapi Covid-19 belum selesai meskipun tahun 2021 segera berakhir. Melihat tren perkembangan kasus Omicron yang terus meningkat baik di tingkat global dan nasional, menjadi peringatan agar masyarakat harus tetap waspada dan terus mengantisipasi, agar penularan varian ini dapat ditekan seminimal mungkin di Indonesia.

Meski demikian, kata Wiku, tahun 2022 yang akan datang hendaknya menjadi harapan agar pandemi Covid-19 dapat terkendali dan dapat segera diakhiri. "Perjuangan kita belumlah berakhir, namun hendaknya kita menyambut tahun baru 2022 dengan doa dan harapan bahwa di tahun mendatang, kasus Covid-19 di Indonesia dan dunia dapat semakin terkendali," ujar Wiku dalam konferensi pers yang dilaksanakan secara daring, Selasa (28/12/2021).

Ia pun mengajak masyarakat melihat kilas balik penanganan pandemi di tahun 2021. Harapannya agar dapat menjadi pembelajaran dan korban tidak terus bertambah di hari depan, sehingga Indonesia terbebas dari pandemi dan mencapai endemi Covid-19 tahun 2022.

Wiku mengungkapkan, sepanjang tahun 2021 Indonesia mengalami berbagai dinamika dan tantangan dalam penangan pandemi Covid-19. Diawali dengan lonjakan pertama pada pada akhir 2020, dan terus meningkat mencapai puncaknya pada 25 Januari 2021. Lonjakan ini berhasil diturunkan selama 15 minggu berturut-turut.

Saat itu, lonjakan diatasi berbarengan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro dan Posko pada tiap desa/kelurahan. Dampak kebijakan ini, menurunnya kasus hingga 70,5% dari puncak kasus pertama, dan mencapai titik kasus terendah pada pertengahan Mei.

Lalu lonjakan kedua puncaknya pada bulan Juli. Penyebabnya varian Delta yang diberi peluang menular akibat tingginya mobilitas selama periode Idul Fitri 2021. Kasus melonjak signifikan hingga mencapai puncaknya sebesar 1200% dari titik terendah pada bulan Mei, hanya dalam waktu 9 minggu. "Kebijakan peniadaan mudik saat itu, nyatanya tidak cukup menurunkan mobilitas penduduk," ujar Wiku.

Kendati demikian, berkat usaha keras seluruh pihak khususnya peran aktif masyarakat, lonjakan kedua berhasil ditangani dan hingga saat kini telah turun selama 23 minggu berturut-turut. Terlebih lagi, kasus diturunkan hampir 100% yaitu 99,6% atau angka ini jauh lebih rendah dibanding penambahan kasus positif pada Januari lalu, bahkan lebih rendah dibanding periode sebelum lonjakan pertama.

"Artinya, jika kita bisa mencapai 100% penurunan dari puncak kasus tertinggi tersebut atau 0,4% lagi, maka tidak ada lagi penambahan kasus positif dan kita dapat bebas dari Covid-19," tegas Wiku.

Menurutnya, dengan memahami kilas balik dapat menjadi pengingat bahwa lonjakan kasus adalah hal yang mudah terjadi apabila lengah. Terlebih pula terdapat faktor-faktor lain yang lebih sulit kita kendalikan, seperti munculnya varian baru. "Yang perlu diperhatikan, ketika sudah terjadi lonjakan kasus membutuhkan waktu lebih lama menurunkannya," tegasnya.

Kilas balik ini juga diharapkan menjadi pengingat bahwa betapa besar dampak lonjakan kasus, terutama terhadap kondisi ekonomi masyarakat. "Mempertahankan kasus agar tetap rendah dan mengendalikan kenaikan kasus sedini mungkin masih harus menjadi fokus utama kita di tahun yang akan datang," tutur Wiku.

Editor: Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)