Strategi Dentsu Lindungi Karyawan dari Ancaman COVID-19

Maya Watono , Country CEO dari Dentsu Aegis Network Indonesia (dok.SWA)

Dampak pandemi COVID-19 turut dirasakan oleh industri hiburan. Sejak Maret, acara-acara yang melibatkan kerumunan dilarang penyelengaraannya. Efeknya, sejumlah event organizer harus memutar otak agar bisnis tetap berjalan, pun dengan industri-industri pendukungnya seperti agensi periklanan dan media.

Dentsu Aegis Network (DAN) Indonesia adalah salah satu perusahaaan yang sigap mentransformasi bisnis mereka sejak awal pengumuman kasus COVID-19 di Indonesia. DAN Indonesia yang merupakan agensi periklanan hasil metamorfosis Dwi Sapta telah mencari bentuk produksi konten secara online sejak awal pemberlakuan Work From Home (WFH). Sehingga, beberapa produksi pun mau tak mau dilakukan lewat Zoom, Microsoft Teams, atau Youtube private channel.

CEO Dentsu Aegis Network Indonesia, Maya Watono menyebutkan adopsi teknologi yang dilakukan perusahaannya terhitung cepat. Sejak 23 Maret pemberlakuan PSBB, hanya butuh tiga minggu untuk semua karyawan mengadopsi teknologi untuk bertransformasi.

“Dengan full WFH, harus mencari cara baru untuk bekerja, saya rasa itu sangat membantu untuk mempercepat semua transformasi digital tersebut. Banyak teknologi yang justru kita adopsi dalam tiga bulan terakhir,” ujar Maya.

Putri pendiri Grup Dwi Sapta - Adji Watono - ini juga menjelaskan, komunikasi adalah hal yang sangat vital bagi tim internal. Ia menyebut, perusahannya rutin mengadakan town hall meeting dan live update. Adapun mengenai hubungan bisnis, Maya mengatakan ada klien yang butuh bantuan dari segi pembayaran. Untuk itu, pihaknya tidak masalah berdialog soal ini.

Meskipun sebagian besar karyawan bekerja dari rumah, DAN Indonesia juga menerapkan protokol kesehatan bagi karyawan yang diharuskan tetap pergi ke kantor. Telah disidak dua kali oleh Disnaker terkait protokol kesehatan, DAN Indonesia tercatat memiliki protokol paling baik dari seluruh perkantoran dia area Pasaraya.

Perusahaan menerapkan aturan wajib cek suhu badan, pencatatan tamu kunjungan, dan penandaan dengan stiker bagi karyawan yang sudah dicek temperaturnya. Jam kerja pun dibuat dari jam 10 pagi hingga 4 sore untuk memudahkan karyawan yang menggunakan transportasi publik. Kemudian, setiap hari Sabtu juga dilakukan disinfektasi kantor.

“Kita juga ada tap in tap out untuk memantau orang ada di mana. Sajadah, tumbler kita minta karyawan bawa sendiri. Sebelumnya kita menyediakan makan siang berupa buffet, sekarang lunch box dan boleh makan di meja masing-masing,” papar Maya.

 Ia selalu mengkomunikasikan pada karyawan DAN Indonesia untuk melindungi bisnis dan teatp produktif. Semua itu, menurutnya, bisa dilakukan apabila punya spirit yang sama. DAN Indonesia mencatat penurunan bisnis secara keseluruhan sebesar 10%. Untuk offlline turun 12-15%, sedangkan segmen digital naik tiga kali lipat.

EDitor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)