Survival & Post-Corona Strategy: TIKI, Fokus pada Tiga Aspek

Ester Wiraseputra, Wapresdir TIKI
Ester Wiraseputra, Wapresdir TIKI

Volume pengiriman barang yang ditangani PT Citra Van Titipan Kilat (TIKI) tidak mengalami perubaban drastis di masa pandemi Covid-19. Masih berada di kisaran normal. Namun, pembatasan akses dan moda transportasi dari kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) cukup berpengaruh bagi perusahaan kurir ini. Banyaknya maskapai yang membatalkan atau membatasi penerbangan membuat perusahaan kurir harus pandai mengatur arus barang agar tidak terjadi penumpukan atau barang gagal terkirim.

“Maka, untuk menjaga komitmen tepat waktu, pada sebagian wilayah yang sangat mengandalkan transportasi udara untuk pengiriman, kami membatasi produk layanan pada economy dan regular. Selain itu, aktivitas operasional kami tetap berjalan normal. Penyesuaian lebih pada jam operasional gerai serta standar bagi customer service dan kurir pada saat berinteraksi dengan pelanggan,” Ester Wiraseputra, Wapresdir TIKI, menjelaskan.

Secara garis besar, TIKI fokus menjaga tiga aspek untuk menghadapi situasi pandemi ini, yaitu operational excellences, customer intimacy, dan product leadership. Ketiganya, Ester mengatakan, ditujukan untuk menjaga dan memaksimalkan layanan, bahwa dalam situasi dan tantangan apa pun ketiga area ini mesti dijaga keberlangsungannya.

Operational excellences yang mencakup kecepatan, keamanan, dan real-time tracking pada masa pandemi ini, dia menjelaskan, sangat dipengaruhi kebijakan seperti pembatasan akses dan moda transportasi. Karena hal itu, tim operasional TIKI senantiasa memantau pemberlakuan kebijakan pemerintah daerah setempat dan secara berkala mengevaluasi produk/layanan mana yang dapat berjalan normal, juga potensi keterlambatan atau potensi tidak dapat dilakukan pengantaran. Hal ini secara aktif dikomunikasikan kepada pelanggan melalui kanal-kanal komunikasi perusahaan.

Tak hanya itu, tim operasional juga menggunakan teknologi berbasis IoT (Internet of Things) untuk dapat melihat aktivitas gerai dan kurir yang sedang penuh dan gerai yang masih dapat menampung kuota barang kiriman sehingga dapat melakukan alokasi pengantaran yang lebih efektif dan efisien. “Teknologi berbasis IoT membantu tim dalam memantau aktivitas operasional dan kurir dari tiap gerai di seluruh Indonesia secara real-time sehingga memungkinkan analisis yang komprehensif dan pengambilan keputusan yang tepat,” kata Ester.

Lalu, perusahaan menjaga customer intimacy melalui kemudahan transaksi, mulai dari proses booking, penjemputan barang, hingga pilihan pembayaran. Ester menjelaskan, di situasi pandemi ini di mana interaksi antar-orang dibatasi, mereka telah memiliki sejumlah fasilitas layanan yang dapat menjadi solusi, antara lain Layanan Jemput Online (Jempol), TIKI Online Booking (TOB) yang dapat diakses di aplikasi TIKI, dan Drive Thru.

Pada product leadership yang berkaitan dengan inovasi produk, untuk mengakomodasi kebutuhan pengiriman instant delivery dalam kota yang saat ini meningkat, TIKI meluncurkan produk baru, yaitu PUTAR (Jemput Antar), yang dikhususkan untuk kiriman dari dan ke wilayah-wilayah di DKI Jakarta. Barang kiriman akan dijemput dan langsung diantarkan oleh kurir ke lokasi penerima dengan tarif flat tanpa menggunakan hitungan per km, yakni Rp 15.000 untuk 3 kg pertama.

Di luar fokus pada tiga hal di atas yang merupakan jurus dari Michael Treacy dan Fred Wiersema dalam buku laris mereka, The Discipline of Market Leaders, TIKI tetap melakukan pelatihan khusus dan uji kompetensi untuk karyawan. Kemudian, terkait gaji, tunjangan, THR, dan bonus, mereka tetap menjalankan kebijakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dikatakan Ester, pihaknya memperkirakan pascapandemi akan terbentuk kebiasaan pelanggan yang semakin nyaman dalam menggunakan layanan online/digital dalam melakukan transaksi pengiriman, mulai dari booking, tracking, hingga metode pembayaran. Beruntungnya, dia melanjutkan, mereka sudah memiliki seluruh fasilitas digital tersebut, dan ke depannya akan terus dikembangkan untuk mengakomodasi ekspektasi pelanggan yang semakin cerdas secara digital (digital savvy).

Berangkat dari hal itu, mereka pun akan meningkatkan pengembangan serta inovasi teknologi, baik di sisi backbone di operasional maupun interface dengan pelanggan. Hal ini diikuti penguatan kompetensi digital seluruh karyawan secara reguler, mulai dari kurir, staf layanan pelanggan, staf operasional, dan staf kantor dengan berbagai pelatihan dan uji kompetensi. (*)

Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)