Tanadi Santoso, Pembicara Publik & Pelatih Corporate: “Bersiap dengan Paradigma Baru”

Tanadi Santoso; Entrepreneur, Public Speaker and Corporate Trainer

Gonjang-ganjing pandemi corona saat ini dapat dikatakan sebagai kondisi the new normal atau normal yang baru. Suatu situasi yang sulit ditebak kapan akan berakhir. Saya menduga, paling cepat bulan Juni mulai agak normal. Namun, bisa juga berakhir sampai Desember jika lamban penanganannya.

Secara bisnis, dampak corona menakutkan karena menyentuh lapisan masyarakat dari yang paling bawah sampai paling atas; mulai dari pekerja harian sampai menteri dapat terkena dengan tingkat keseriusan yang sama. Informasi terbaru, Pangeran Charles pun dinyatakan positif terpapar Covid-19.

Berkaca dari pernyataan Dr. Anthony Fauci, Direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases, “You don’t make the timeline, the virus makes the timeline,” berarti kita semua memang belum bisa membuat timeline kapan virus itu ada dan lenyap. Kita belum bisa mengetahui pola virus itu secara pasti. Ia bisa datang berulang, dan bisa timbul dan tenggelam. Satu-satunya waktu yang pasti bahwa ini akan selesai adalah ketika ditemukan obat dan vaksinnya.

Masalahnya, menurut informasi, vaksin virus corona baru akan ada satu tahun lagi. Selama belum ditemukan obatnya, kita harus bersiap-siap gonjang-ganjing dalam kondisi yang disebut the new normal atau normal baru tersebut.

Nah, dalam kondisi seperti itu, tentu saja ada bisnis yang terpuruk dan ada pula bisnis yang melejit. Saya membagi ada lima kelompok bisnis/industri yang terpolarisasi berdasarkan tingkat keberhasilannya.

Pertama, industri yang bakal deathly adalah airlines, kapal pesiar, agen travel. Kedua, bisnis yang painful (sakit setengah mati), antara lain hotel, mal, EO dan WO, serta entertainment. Ketiga, less business (bisnisnya berkurang dengan drastis), yaitu restoran, training, transportasi. Keempat, bisnis yang stable: kampus dan sekolah, PLN, PDAM, supermarket, apotek, dan industri yang menunjang industri-industri tersebut. Kelima, bisnis yang positif (bisnis yang mendukung tren), antara lain pembuat masker, pembuat hand sanitizer, Netflix, Zoom, dan online seller.

Dalam hal ini, saya ingin mengingatkan, bahwa betapapun banyak perubahan yang kita rasakan akibat corona saat ini, keadaan tidak akan kembali seperti semula kendati bencana corona nanti usai. Jadi, bagi kalangan usaha di bidang bisnis apa pun, pascacorona harus bersiap-siap dengan paradigma baru terkait dengan industrinya ataupun masyarakat konsumennya. Yang pasti, masyarakat ke depan akan lebih memperhatikan kesehatan. Berikutnya, online akan menjadi sesuatu yang biasa. Sekarang pun sudah terlihat orang-orang meeting dengan aplikasi secara online. Hal ini lama-lama akan menjadi hal yang biasa di masyarakat. Keadaan ini mau tidak mau memaksa kita untuk semakin tidak bertatap muka karena ternyata meeting atau aktivitas lainnya bisa dilakukan secara online.

Terkait dengan aktivitas online, saya ingatkan bahwa kemampuan dan fasilitas online akan menjadi barometer kritis suatu bisnis. Sebab itu, kita harus bisa mengelompokkan bisnis yang bisa dipindahkan ke online seluruhnya, atau yang hanya bisa dipindahkan sebagian ke online, atau pula sama sekali tidak bisa ke online. Jadi, kunci paling mudah adalah apakah bisnis kita bisa dimodelkan menjadi online atau tidak? Kalau tidak bisa, kita harus memikirkan model bisnis lain dan berinovasi.

Agar bisnis dapat bangkit kembali, setidaknya ada tiga hal yang harus kita lakukan. Pertama, pertajam gergaji (sharpening the saw). Artinya, jangan berhenti belajar, dengan terus mengasah keterampilan. Kedua, thinking strategically. Dengan adanya keadaan baru nanti, diharapkan perusahaan dapat beradaptasi dengan perubahan ini. Dan ketiga, inovasi.

Setiap orang akan terkena dampaknya dengan cara dan kondisi yang berbeda. Siapa pun harus mampu survive dalam keadaan ini. Kita harus berpikir survival mood dengan antisipasi bahwa kejadian ini bisa selesai dalam 2-6 bulan. Apakah kita punya perencanaan mendesak yang bisa dilakukan? Lalu, kita berpikir pelan-pelan apa yang bisa kita lakukan dengan sumber daya yang ada, seperti rekan-rekan kita, kemampuan, pabrik, produksi, dan karyawan. Kita mencari terobosan baru agar ketika corona reda, kita bisa mengaryakan dan menghasilkan value yang besar untuk pelanggan.

Dengan kondisi baru nanti, ketika 3-6 bulan berlalu, akan ada the new normal dan pasti adaptasinya lebih lama. Misalnya, industri penerbangan, pasti tidak bisa langsung recovery seperti semula, semuanya ada proses. Atau hotel, misalnya, yang saat ini gila-gilaan kena dampak Corona. Nanti, kalau sudah recovery, mereka bisa melakukan diskon besar-besaran untuk mengembalikan bisnis seperti semula. Artinya, kita sedikit lebih berusaha untuk mencari peluang dan market baru. Industri garmen, contohnya, saat ini mereka digenjot untuk memproduksi alat pelindung diri (APD) karena sedang dibutuhkan banyak, lalu ketika corona berakhir, apakah produksinya akan tetap tinggi atau kembali seperti semua? Kondisi tiap-tiap sektor berbeda.

Setiap perusahaan/individu harus mampu beradaptasi dengan kondisi ekstrem seperti ini. Dengan melihat resource (sumber daya) yang ada dan meneropong pertumbuhan pasar, kita harus bisa menyelaraskan bagaimana sumber daya ini bisa menciptakan value yang menghasilkan revenue. Seperti saya yang bergerak di bidang training, maka sekarang harus membuat konten online training yang sangat berbeda dengan pekerjaan saya biasanya. Saya harus mencari pasar baru dan menyesuaikan dengan sistem online training.(*)

Dyah Hasto Palupi dan Andi Hana Mufidah Elmirasari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)