Vaksinasi Memperkokoh Kekebalan Kelompok dan Pemulihan Ekonomi

Jumlah penerima vaksin dan terpapar Covid 19 pada Senin, 15 Februari 2021. (Foto : KPC PEN)

Keberhasilan program vaksinasi menjadi game changer (pengubah permainan) untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional.  Dampak vaksinasi tidak hanya bagi penanganan Covid-19 semata, tetapi juga menjadi faktor penentu dalam keberhasilan pemulihan ekonomi nasional.   Kedatangan vaksin Covid-19 tahap pertama sejumlah 1.2 juta dosis dari Sinovac pada 6 Desember 2020, telah menarik perhatian masyarakat banyak. Saat ini, selagi proses evaluasi izin penggunaan dari Badan POM berjalan, pemerintah sedang mempersiapkan pelaksanaan vaksinasi Covid-19.

Selain vaksinasi, pemerintah gencar mengendalikan pandemi Covid-19, antara lain menggiatkan disiplin protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak) dan 3T (testing, tracing, dan treatment). Perihal vaksinasi, Juru Bicara Pemerintah untuk Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengatakan, saat ini vaksin sudah diterima oleh lebih dari 1 juta tenaga kesehatan (nakes). Untuk menekan pandemi Covid-19 pemerintah tidak hanya mengimbau melalui penegakan disiplin 3M, namun juga memperkuat 3T," kata Siti Nadia dalam dikusi virtual bertema 3M+3T: Jurus Jitu Atasi Pandemi yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) seperti dikutip SWA online di Jakarta, Senin (15/2/2021).

Merujuk data Satgas Covid-19 per 15 Februari 2021, penerima vaksin di Indonesia pada Senin pekan ini bertambah menjadi 1.096.095 orang. Peningkatan ini karena adanya penambahan penerima vaksin sebanyak 27.348 orang. Untuk total sasaran vaksinasi Covid-19, berjumlah 181.554.465 orang. Dan dari jumlah tersebut, terdapat sasaran vaksinasi SDMK (Sumberdaya Manusia Kesehatan) sebanyak 1.468.764 orang. Vaksinasi ini diharapkan menyokong kekebalan kelompok (herd immunity) dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

Juru Bicara PT Bio Farma (Persero), Bambang Heriyanto, menyampaikan saat ini pemerintah masih menyelesaikan skema pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk kebutuhan program bantuan pemerintah maupun kebutuhan mandiri, dan Bio Farma belum melaksanakan sistem pelayanan pra pemesanan (pre order) untuk vaksinasi Covid-19 jalur mandiri dalam bentuk apa pun, baik untuk keperluan fasilitas kesehatan maupun untuk perorangan. “Saat ini, Bio Farma masih mengembangkan sistem yang akan digunakan untuk pemesanan pre order vaksinasi Covid-19 khususnya untuk jalur mandiri, dan  hingga saat ini, belum ada ketentuan maupun pengaturan teknis dari pemerintah terkait hal tersebut, dan yang terpenting adalah, pelaksanaan vaksinasinya sendiri, tetap menunggu izin penggunaan dari Badan POM,” ujar Bambang dalam keterangan tertulisnya di Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Bambang menyampaikan perihal penyediaan layanan vaksinasi Covid-19 seperti rumah sakit klinik dan fasilitas kesehatan lainnya itu masih dilakukan, “Proses pendaftaran dan verifikasi, untuk jalur mandiri, melalui asosiasi-asosiasi resmi.” Bio Farma menghimbau kepada penyedia layanan kesehatan untuk menunggu pengumuman resmi pemerintah terkait petunjuk teknis pelaksanaan pemesanan pre order vaksinasi Covid-19 jalur mandiri. Bio Farma menyiapkan sistem pelacakan (track & trace system) untuk distribusi vaksin dengan menyediakan satu sistem seperti barcode di vial maupun dusnya, sehingga dapat melacak keberadaan vaksin maupun mutunya secara digital.Hal ini dilakukan agar kualitas vaksin terjamin mutunya sampai ke penerimanya. Program vaksinasi Covid-19 tetap menjalankan gerakan 3M (mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak).

Vaksinasi Pacu PEN

Pada kesempatan terpisah, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, MH Said Abdullah, menyebutkan vaksinasi  diharapkan menjadi momentum keberhasilan pelaksanaan vaksinasi sangat penting bagi akselerasi pemulihan ekonomi nasional (PEN), meningkatkan persepsi positif investor sehingga memanfaatkan aliran modal masuk ke pasar dalam negeri, dan memperkuat fundamental ekonomi, “Sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, sebelum badai kembali datang,” ujar Said di Jakarta pada akhir pekan lalu.

Said menyampaikan keberhasilan vaksinasi bisa mempercepat pengendalian penyebaran Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional. "Pada titik ini, kita harus yakin program vaksinasi akan berhasil dengan baik," jelasnya. Pertumbuhan ekonomi nasional pada 2020 itu -2,07%. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diharapkan lebih baik lantara semua indikator, baik dari sisi pengeluaran maupun dari lapangan usaha menunjukkan ke arah perbaikan.   "Dengan melihat perbaikan tersebut, saya optimis keberadaan vaksin akan semakin mempercepat pengendalian penyebaran Covid 19, sehingga akan semakin mempercepat akselerasi pemulihan ekonomi nasional," terang Said.

Selain program vaksinasi, program PEN tetap akan berlanjut pada 2021.  "Kita akan terus mengawal agar program PEN 2021, agar jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan tahun 2020.  Serapan anggaran untuk program yang kurang efektif, perlu dievaluasi ulang untuk memperkuat program perlindungan sosial dan pemulihan sektor UMKM," tuturnya.

Pemulihan ekonomi nasional menghadapi dinamika perekonomian internal dan eksternal serta geo politik. Untuk itu, program vaksinasi ini harus sukses. Sebab keberhasilan vaksinasi membangun kepercayaan dunia internasional terhadap kondisi perekonomian nasional, terutama masuknya investasi asing ke dalam negeri.  “Makin cepat pemulihan ekonomi sebuah negara, makin besar peluang negara tersebut  mendapat limpahan investasi dan aliran modal masuk,” terangnya. 

Beberapa negara menunjukkan keberhasilan penanganan Covid-19 dengan pemulihan ekonomi yang cepat.   Vietnam misalnya  memiliki kasus Covid-19 paling sedikit di Asia Tenggara.

Pada triwulan IV 2020, Vietnam mampu tumbuh sekitar 4,5%. Tiongkok juga menunjukkan segera pulih, dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2020 sebesar 6,5%.  Negara-negara yang tingkat penyebaran Covid-19 masih tinggi, pertumbuhan ekonominya masih melambat. 

Amerika Serikat pada Triwulan IV 2020 masih terkontraksi -2,5 persen, begitu pula Uni Eropa yang mengalami gelombang kedua Covid-19, kontraksinya makin dalam sebesar -4,8 persen. Hal ini penting lantaran negara-negara emerging market termasuk Indonesia, sedang menikmati aliran modal dari pasar Internasional. Kondisi ini sebagai dampak kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang memberlakukan quantitative easing (QE) dengan melakukan pembelian obligasi besar-besaran, guna menambah likuiditas serta membangkitkan perekonomian AS yang mengalami resesi akibat pandemi Covid-19.

Namun demikian, Said mengingatkan Bank Indonesia dan pemerintah mencermati lebih lanjut titik balik kebijakan moneter di AS tersebut.   Sebab kebijakan QE tidak selamanya akan berlangsung, karena akan sangat tergantung dengan kondisi perekonomian AS. 

Oleh sebab itu, perekonomian nasional harus segera pulih dan tumbuh lebih tinggi, agar mampu menghadapi tantangan yang lebih berat kedepannya. “Satu-satunya cara untuk menjawab keraguan Bloomberg terhadap kemampuan vaksinasi yang kita miliki adalah mampu melaksanakan vaksinasi dalam kurun waktu kurang dari dua tahun kedepan, seperti yang sudah direncanakan oleh pemerintah dalam roadmap vaksinasi,” terangnya. Sebelumnnya, Bloomberg meliris kajian yang menyatakan Indonesia membutuhkan waktu kurang lebih 10 tahun, untuk mencapai kekebalan kelompok.  Said menjelaskan informasi Bloomberg ini dijadikan sebagai peringatan dan motivasi untuk meningkatkan kinerja semua pihak untuk mensukseskan vaksinasi ke seluruh masyarakat.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)