Bagaimana Seharusnya National Branding Indonesia di Bisnis dan Investasi? | SWA.co.id

Bagaimana Seharusnya National Branding Indonesia di Bisnis dan Investasi?

Direktur PT central Cipta Murdaya Karuna Murdaya

National branding Indonesia untuk menjadi negara yang ramah dengan investasi atau bisnis sangatlah penting. National branding tidak melulu menggunakan iklan, karena hal ini dinilai tidak efektif. Jadi bagaimana seharusnya national branding Indonesia dalam kacamata bisnis atau investasi?

Menurut kacamata Karuna Murdaya selaku Direktur PT Central Cipta Murdaya (Perusahaan pengelola JIExpo Kemayoran), sudut pandang bisnis sangat penting kalau Indonesia mau memasarkan diri sebagai satu merk dengan cara komunikasi branding dari sudut pandang orang atau negara asing, bukan branding Indonesia untuk Indonesia. Baginya branding Indonesia buat Indonesia itubuang waktu. “Ini terus terang,” kata Karuna dalam Congress of Diaspora Indonesia 7 di Jakarta (12/8/2023).

Indonesia, Karuna menambahkan, harus betul - betul memasarkan bagaimana menjadi salah satu tujuan bisnis yang berbeda. Branding ini tidak gampang karena banyak berhubungan dengan aturan. 

Selanjutnya, untuk menjadi negara global maka kota-kota di Indonesia juga harus menjadi global city dengan mudah menerima masyarakat global. Karuna mencontohkan, Jakarta merupakan kota besar dengan populasi penduduk yang cukup banyak tetapi bukan kota Internasional seperti London, Paris, Bangkok atau Kuala Lumpur (KL). 

“Kebetulan tetangga kita (Singapura, KL Bangkok) bukan kompetitor atau lawan yg gampang. Kota yang paling banyak dikunjungi di seluruh dunia sekarang itu Bangkok, London nomor 2, Singapura nomor 6, KL nomor 7, Jakarta nomor 65,” ujarnya.

Karuna menyarankan branding Indonesia harus mulai dengan aturan, karena dari pengalaman banyak investor, Indonesia agak kurang welcome dengan orang asing. Seluruh dunia bisa terima diaspora Indonesia tetapi Indonesia tidak bisa terima diaspora dari seluruh dunia.

Data statistik menunjukkan di Indonesia ada 350 ribu Kitas (Kartu Tinggal Sementara) untuk orang asing yang kerja di Indonesia, bukan wisata. Malaysia dengan penduduk 30 juta itu 3,5 juta (orang asing), Thailand dengan penduduk 80 juta terdapat 5 juta orang asing. Indonesia masih takut nanti orang asing akan ambil pekerjaan warga lokal, dari 270 juta penduduk baru 350 ribu orang asing.

“Ini salah satu policy yang betul-betul harus diganti. Bentuk branding satu negara yang paling efektif sebetulnya adalah orang asing yang branding kepada orang asing. Kalau mau branding Indonesia popularitasnya di Perancis bagaimana, itu orang prancis yang lebih mampu daripada pemerintah Indonesia. Orang prancis yang mungkin punya pengalaman kerja di Indonesia, itu yang paling top daripada pemerintah Indonesia yang coba branding ke orang asing,” ucap putra konglomerat Murdaya Widyawimarta Poo ini. 

Menurut Karuna, di Indonesia kalau mau dapat Kitas susah. Bahkan ada banyak industri di posisi jabatan tertentu tidak boleh orang asing. Itulah salah satu alasan kenapa investor sebelum ke Indonesia mereka lebih memilih Singapura, kalau Singapura terlalu mahal ke KL, kalau enggak ke KL maka ke Bangkok. 

“Jadi branding bukan pasang iklan atau bagaimana tetapi bagaimana bikin undang undang atau penjelasan yang konkrit kepada potensial investor. Indonesia itu gampang (untuk investasi), itu gampang untuk masuk. Ini baru imigrasi belum sistem pengadilan, pajak dll,” ungkap pria pemegang gelar Masters or City Planning, International Development and Regional Planning dari Massachusetts of Institute Technology ini.

Kondisi tersebut diamini oleh Karina Joe selaku Scientist Vaksin Covid-19 Astrazeneca. Dalam dunia sains, menurut Karina, Indonesia dilihat sebagai satu negara yang kaya akan sampel dengan biodiversity, di mana memiliki banyak ras, keanekaragaman hayati dan sebagainya. Indonesia cocok dijadikan sebagai negara uji klinis tetapi bukan negara utama untuk diajak kolaborasi. 

“Karena birokrasinya bertele-tele, mau bereksperimen sekarang mungkin dokumennya perlu setahun untuk ditandatangani. Ini di sains enggak bisa. Sains itu cepat, jadi ada perubahan apa, kami harus beradaptasi jadi tidak perlu menunggu disetujui berbulan-bukan apalagi bertahun-tahun,” ungkap Karina.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)