Santo Purnama, Putra Indonesia Pengembang Alat Uji Covid-19

Santo Purnama, founder Sensing Self, Pte. Ltd. pengembang alat rapid test corona.
Santo Purnama, founder Sensing Self, Pte. Ltd. pengembang alat rapid test corona.

Barangkali tak banyak yang tahu, salah satu diaspora Indonesia yang saat ini tinggal di Silicon Valley, San Francisco, California, Amerika Serikat, berhasil mengembangkan rapid test corona. Alat tes tersebut dikembangkan Sensing Self, Pte. Ltd. Perusahaan yang didirikannya di Singapura bersama tiga temannya ini sekarang tengah giat melipatgandakan produksi guna memenuhi permintaan negara-negara yang memesan alat uji Covid-19, antara lain India, AS, China, dan segera menyusul Indonesia.

Ia adalah Santo Purnama, pria kelahiran Medan, 47 tahun lalu, yang selepas lulus SMA Bunda Hati Kudus, Jakarta, melanjutkan kuliah ke Jurusan Computer and Electrical Engineering Purdue University, AS. Berbekal ilmu komputer, Santo mengembangkan bisnis yang fokus pada alat-alat kesehatan; yaitu bagaimana membuat alat kesehatan yang biasanya hanya dapat ditemukan di laboratorium atau di rumah sakit besar, sekarang bisa berbasis ponsel pintar dan dapat dijangkau oleh masyarakat luas. Artinya, ponsel bisa menggantikan lab sehingga semua proses dan analisis terhadap air seni, ludah, darah, dan keringat dapat dilakukan dengan ponsel.

Mengapa tertarik menggeluti bidang itu? “Saya orang Indonesia. Saat ini banyak yang tinggal di pelosok Indonesia harus naik kendaraan 3-4 jam atau lebih ke lab terdekat hanya untuk memberikan air seninya untuk dianalisis. Bagaimana kalau mereka dapat melakukannya di rumah sendiri hanya dengan smartphone? Itu tujuan (perusahaan) kami,” kata Santo. Selain itu, perusahaannya juga mengelola puluhan juta data yang dikumpulkan untuk mendukung berbagai riset untuk mencari terobosan di bidang medis.

Nah, terkait hal itu, di akhir 2019 pihaknya mendengar kejadian di Wuhan yang terkena virus baru cukup serius. Banyak ilmuwan dari China dan Hong Kong yang melaporkan perkembangan baru terkait vitus tersebut. Hal itu yang mendorongnya berkolaborasi melakukan penelitian lebih lanjut. “Setelah menjadi pandemi, kami langsung memutuskan untuk membuat tes,” ujar Santo dalam wawancara elektronik dengan Kumparan. Menurutnya, berdasarkan sampel dan data yang diberikan para ilmuwan tersebut, lebih dari cukup untuk menghasilkan temuan yang memiliki akurasi tinggi.

Ada dua jenis alat tes Covid-19 yang diproduksinya. Pertama, alat tes berbasis Polymerase Chain Reaction (PCR) yang menggunakan sampel dari cairan pernapasan. Kedua, Pre Screening Test Kid, alat uji dengan sampel darah untuk mengecek antibodi manusia terhadap virus corona. “Permintaan terbesar dari jenis kedua ini. Alat tes berbasis serologi yang digunakan untuk menguji seseorang positif terinfeksi virus corona Covid-19 atau tidak,” kata adik Philip Purnama, mantan Direktur PT Indofood Sukses Makmur, ini kepada SWA.

Saat ini Sensing Self sudah mengedarkan lebih dari 5 juta test kit dan ada sekitar 9 juta yang sedang antre untuk dikirim. “Setiap hari, permintaan terhadap alat tes tersebut terus meningkat,” kata Santo yang bersyukur akhirnya Indonesia memberikan lampu hijau untuk pemakaian alat tes Covid-19 Sensing Self.“ Saya sudah berbincang langsung dengan Kepala BNPB, Bapak Doni Monardo, dan mendapat dukungan atas produk tersebut,” kata Santo senang. Sudah lama ia siap membantu Pemerintah Indonesia menanggulangi pandemi Covid-19.

Santo sungguh-sungguh berharap alat temuannya bisa dimanfaatkan masyarakat Indonesia. Alat uji Sensing Self didesain sederhana dan bisa digunakan di rumah. Alat yang sama juga telah mengantongi izin edar di Eropa dan AS. Ia berharap Pemerintah Indonesia bisa merespons inisiatifnya dengan cepat.

Dengan harga jual Rp 160 ribu per  unit, Santo percaya, harga tersebut terjangka oleh masyarakat luas. “Khusus untuk produk alat ini, kami memang sengaja tidak mencari untung. Pertimbangan social impact yang kami kedepankan,” katanya. Ia berharap mendapatkan izin dari otoritas di Indonesia agar alat buatannya segera divalidasi dengan cara uji tes.

“Sebelum masuk ke local country, produk harus dites oleh pemerintah setempat untuk melihat kesesuaian dan akurasinya,” katanya . Lalu, bagaimana tingkat akurasinya? “Dari 1.300 pasien yang kami tes dengan test kit Sensing Self, akurasinya mencapai 92%,” kata lulusan Ilmu Komputer dari Stanford University ini meyakinkan.

Pages: 1 2 3

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)