Sujadi Siswo, Diaspora yang Tak Pernah Lupa Tanah Asalnya

Sujadi Siswo (tengah berkemeja biru) setelah wawancara dengan Aung San Suu Kyi (Pemimpin de facto Myanmar)

Namanya sangat Jawa: Sujadi Siswo. Namun Koresponden Senior Channel NewsAsia (CNA) untuk Asia Tenggara ini lahir dan besar di Singapura. Paras wajahnya pun sangat Njawanii. Sujadi bisa dibilang wartawan senior di Asia. Ia pernah menjadi Kepala biro Indonesia untuk Channel NewsAsia yang berperan penting dalam liputan mendalam politik dan nasional seluruh Indonesia.

Pria berusia 52 tahun ini ingin anak keturunannya mengingat asal usul keturunan mereka. Maka itu, Sujadi memutuskan bersama istrinya, Noorasikan Ramli yang warga negara Singapura keturunan Jawa Timur menamakan ketiga anaknya dengan nama yang kental Indonesianya: Nur Sulastri, Teguh Budiman dan Ilham Luhur.

“Nama saya sangat Indonesia, ayah orang Purbalingga Jawa Tengah. Dia bermigrasi ke Selangor Malaysia sebelum Perang Dunia Kedua pada 1930an. Ibu saya asal Johor, mereka lalu pindah ke Singapura. Jadi dalam darah saya ada Jawa dan Melayu, karakter pribadi saya adalah Singapura,” ia menerangkan.

Menurutnya, tidak banyak keluarga Jawa-Singapura yang berminat untuk melacak kembali asal usul mereka, tapi tidak demikian dengan keluarga dirinya. Ia ingat ketika ayahnya membawa Sujadi untuk mengunjungi sanak keluarganya tahun 1970-an di Purbalingga. “Kala itu, saya merasakan gegar budaya, betapa berbedanya kehidupan di sana dengan Singapura yang kosmopolitan. Tapi pada saat yang sama, saya merasa sangat beruntung bahwa saya bisa bertemu dengan kerabat saya dari tanah leluhur saya,” tuturnya mengenang.

Pria yang pernah dinobatkan sebagai Journalist of the Year tahun 2010 oleh Media Corp. ini pernah tinggal di Indonesia selama lebih dari 10 tahu, Maka, Sujadi pun memiliki pandangan lebih luas pada tanah leluhur ayahnya, dibanding warga Singapura umumnya. Ia sangat mengagumi kekayaan budaya, sejarah, sumber daya alam hingga kekayaan kuliner Indonesia.

Di antara banyak penugasannya, yang paling berkesan selama bertugas di Indonesia termasuk, antara lain, liputan bom Bali pada bulan Oktober 2005, gempa bumi di Jawa Tengah pada bulan Mei 2006, serta berbagai peristiwa politik selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sujadi telah mengunjungi hampir seluruh nusantara dalam menjalankan tugasnya melaporkan berbagai macam berita. Ia mengawali kariernya di jurnalistik selepas dari National University of Singapore pada 1989 bersama Media Corp. Ia saat itu bertugas mengulas berita tentang komunitas Melayu dan Muslim lokal untuk siaran berita berbahasa Melayu dan juga bahasa Inggris. Kemudian, dia mulai bepergian ke negara-negara Asia untuk melaporkan perkembangan politik di berbagai daerah. Ia mulai meliput tentang Indonesia pada 1999. Kemudian diangkat menjadi Kepala Biro Indonesia, dari tahun 2005 hingga 2015. Sujadi membagi waktunya antara Singapura dan Jakarta sebagai koresponden berita untuk CNA, yang merupakan bagian dari Media Corp – Singapura.

“Pada dasarnya, setiap hari saya bertugas melaporkan semua berita tentang Indonesia untuk CNA. Saya juga menangani proyek-proyek khusus, seperti laporan 30 menit dan dokumenter tentang terorisme di Indonesia. Saya juga bertugas untuk mengkoordinasikan berbagai acara off-air di Indonesia,” tutur pria yang fasih berbahasa Indonesia ini. Penyuka masakan Manado dan Sunda ini bercerita salah satu tantangan selama menjadi jurnalis kala ia dan tim liputan tentang jaringan Jemaah Islamiyah (JI). “Aksesnya sangat sulit, tapi kami berhasil mewawancarai para pemimpin JI tersebut. Kami berbicara dan bahkan berdoa bersama-sama dengan mereka. Hasil dari liputan ini berupa film dokumenter berjudul "The making of Unbroken Faith”,” ia mengungkapkan.

Ia sempat diprotes masyarakat di Indonesia. Menurutnya, tidak mudah untuk melawan protes, terutama jika berbicara mengenai subjek sensitif seperti yang berhubungan dengan terorisme dan fundamentalis Islam. “Agama, nilai sosial, stereotip semua dicampur dalam persepsi publik yang berbeda. Tapi, ini adalah bagian dari pekerjaan saya sebagai wartawan yang saya harus hadapi,” katanya.

Ia bersyukur meniti karier di CNA yang, menurutnya, merupakan  satu-satunya saluran berita regional yang membahas Asia secara intensif. “Ini adalah di mana Anda bisa melihat wajah Asia seluruhnya. Terlebih dengan hadirnya Komunitas Ekonomi ASEAN, CNA benar-benar menghubungkan wilayah dengan negara-negara lain di Asia, dan Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara memainkan peran penting dalam kawasan ini,” katanya.

Dan, ia melihat untuk kebebasan jurnalistik sebenarnya Indonesia jauh lebih bagus saat ini, terutama sejak reformasi 1998. Hanya saja ia memandang media di Indonesia masih banyak yang belum memiliki kontrol diri yang baik, masih banyak yang hanya mementingkan dalam meraup sebanyak-banyaknya pemirsa dan pembaca. “Beberapa berita yang mereka beritakan sering kali tidak bertanggung jawab. Saya tahu mereka tengah berupaya untuk lebih mengatur standar media di Indonesia,” Sujadi berpendapat.

Dibandingkan Singapura, Indonesia jauh lebih terbuka. Menurutnya, di Singapura menerapkan jurnalisme untuk berkembang. "Anda membuat banyak berita untuk tujuan pembangunan bangsa. Tidak seperti di Indonesia, di Singapura tidak ada terlalu banyak cerita politik, dan lebih banyak pembahasan tentang pembangunan negara,” tuturnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)