27 Tahun UKM Tumbuh dan Maju Bersama JNE

M. Feriadi, Dirut JNE (ke-2 dari kiri) menerima penghargaan dari rekor MURI (Foto by: Eva/SWA)

Dari bukan siapa-siapa, sejumlah UKM daerah berhasil mencetak omset miliaran berkat jasa ekspedisi JNE. Bagaimana peran 27 tahun JNE dengan 6.000 outlet di seluruh Indonesia?

Berbeda dengan hari-hari biasanya, pada 22 Oktober 2017 suasana Kota Malang menjadi lebih istimewa. Bagaimana tidak, pada hari Minggu itu sejak pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB di Kota Apel tersebut menjadi lokasi perayaan puncak HUT JNE yang ke-27 tahun.

Tema “Mewarnai Indonesia” diusung dalam perhelatan HUT 27 tahun JNE. Makna dari tema ini merepresentasikan JNE sebagai perusahaan yang didirikan dan dimiliki oleh anak bangsa dengan keinginan kuat untuk memberikan manfaat terhadap bangsa mau pun negara, serta cerminan keanekaragaman budaya Nusantara.

Dimulai dari kegiatan lomba lukis payung untuk anak usia 7-12 tahun yang memecahkan rekor MURI, hingga kunjungan ke Kampung Warna Warni Jodipan Malang. Pemecahan Rekor MURI mewarnai 1.270 payung dan angka tersebut dipilih karena ada unsur 27 yang merupakan usia JNE di tahun 2017.

Lomba lukis payung HUT 27 JNE untuk anak usia 7-12 tahun yang memecahkan rekor MURI (Foto by: Eva/SWA)

Setelah perwakilan dari MURI selesai menghitung jumlah payung yang diwarnai di Dome UMM Malang, penghargaan dianugerahkan kepada JNE dan beberapa payung dibawa serta dipasang di Kampung Warna-Warni Jodipan Malang.

Dalam kesempatan yang sama, JNE juga menyelenggarakan program pemberian dan pengiriman buku cerita untuk PAUD dan TK yang membutuhkan. Total sebanyak 11 ribu buku yang sarat edukasi dibagikan secara cuma – cuma di 11 kota dan sekitarnya, melalui cabang utama JNE di Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, serta Nusa Tenggara Timur. Cabang – cabang tersebut adalah JNE Kupang, Mataram, Denpasar, Jember, Probolinggo, Pasuruan, Malang, Kediri, Madiun, Mojokerto, dan Surabaya.

Sumbangan buku JNE itu hasil kerja sama dengan LSM Taman Bacaan Anak Lebah yang fokus untuk meingkatkan minat baca anak-anak di kawasan Indonesia Timur. “Pertimbangannya, kesadaran baca anak-anak di wilayah itu masih rendah, toko buku di sana masih jarang , dan untuk menembus wilayah Indonesia Timur butuh biaya mahal,” jelas Risma Dani Chaniago, Program Development Manager Taman Bacaan Anak Lebah.

Mengapa pilih Kota Malang? “Malang terpilih menjadi tempat digelarnya acara puncak HUT 27 JNE karena terdapat Kampung Warna-Warni Jodipan yang sesuai juga dengan tema HUT JNE kali ini. Pertumbuhan industri kreatif dan UKM di Malang juga menunjukkan peningkatan yang sangat baik, sehingga sejalan dengan kebijakan JNE sebagai sahabat UKM Indonesia,” jelas, M. Feriadi, Presiden Direktur JNE, menerangkan alasannya.

Feriadi menjelaskan, selama 27 tahun JNE menghubungkan berbagai daerah yang saling berjauhan dan membuka potensi – potensi lokal di daerah yang sebelumnya terkendala masalah logistik. Terutama di era e-commerce yang bertumbuh pesat saat ini, sehingga kehadiran JNE turut membantu pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.

Meski demikian, JNE, sebagaimana dituturkan Feriadi, berupaya kehadirannya tidak hanya sebagai perusahaan pengiriman ekspres dan logistik, tapi juga dengan semangat membangun negeri. Untuk itu, JNE juga turut berperan aktif dalam setiap kegiatan – kegiatan yang berhubungan dengan sosial serta kemasyarakatan.

Kehadiran JNE di Malang pun aktif mendorong kemajuan dan bisnis UKM, misalnya melalui layanan PESONA. “Sebenarnya banyak UKM potensial di Malang dan sekitarnya. Namun, mereka masih malu-malu unjuk diri dan kami dari JNE berusaha membantunya,” kata Windhu Abiworo, Branch Manager JNE Malang.

Menurut Windhu, pertumbuhan bisnis JNE di Malang terus meningkat. Apalagi dengan maraknya e-commerce yang turut menyokong omset JNE. “Setiap hari lebih dari 12 ribu kiriman dari JNE Malang ke kota-kota lain. Dan 80% kiriman itu dari order e-commerce. E-commerce adalah sesuatu yang diharapkan masyarakat sejak lama,” jelas Windhu. Adapun komposisi pelanggan JNE Malang adalah 70% ritel dan 30% perusahaan.

Luasnya jaringan distribusi JNE ke pelosok daerah Indonesia berhasil mengantarkan produk-produk pesanan dari Sabang hingga Ambon. Lihat saja orang-orang yang ada di Kalimantan, Sumatera, Papua, Sulawesi kini bisa leluasa berbelanja online produk-produk yang ada di Jakarta, Surabaya, Bali atau sebaliknya. Konsumen kini lebih mudah berbelanja apa saja, kapan saja, di mana saja lewat online yang akan dikirim lewat 6.000 jaringan outlet JNE di seluruh Indonesia.

Kategori barang pesanan e-commerce di JNE ada tiga besar yang mendominasi. “Fashion, aksesoris dan kosmetik,” ujar Windhu sembari menyebut usaha UKM online mayoritas masih perorangan atau belum berbentuk badan usaha atau PT.

Kantor cabang JNE Malang (Foto by: Eva/SWA)

Saat ini JNE Malang akan membangun gudang baru di atas lahan seluas 6.000 meter persegi. Ini adalah imbas dari meluapnya bisnis e-commerce, sehingga butuh gudang lebih luas utuk menyimpan atau menampung barang-barang pelanggan mitra JNE yang akan dikirim ke tempat tujuan konsumen. Adapun jumlah agen JNE Malang sebanyak 54 agen.

Betul, memang kini banyak perusahaan ekspedisi lain baik BUMN, swasta nasional atau asing. Namun, JNE memiliki keunggulan pelayanan, teknologi, jaringan luas ke pelosok dengan 6.000 outlet, infrastruktur, komitmen mengirim barang dengan baik dan dukungan SDM profesional.

Hal ini diakui oleh Umi Tursini, UKM Malang yang mengembangkan produksi tas sepatu wanita merek Salvora dan Salvo untuk sepatu plus sandal pria. “Selain pengiriman dengan ekspedisi Lazada, produk pesanan pelanggan juga dikirim melalui JNE. Apalagi untuk kiriman yang ke daerah-daerah tidak dijangkau Lazada,” jelas Umi.

Kisah sukses UKM mitra JNE

Peran JNE bagi UKM yang menjadi mitranya sangat besar. Salah satunya UKM binaan yang berada di Malang sekitarnya. JNE dianggap berjasa mempromosikan produknya yang semula hanya dikenal oleh masyarakat Malang, kini bisa dibeli oleh konsumen di seluruh Indonesia. Termasuk produk makanan yang memiliki life time maksimal 5 hari tanpa pengawet, dapat dikirim oleh JNE dengan cepat ke tangan konsumen.

Umi Tursini, UKM mitra JNE Malang (Foto by: Eva/SWA)

Cikal bakal JNE Malang tidak bisa dilepaskan dari sosok Sundoro, agen JNE Malang terbaik. Sundoro melakukan “babat alas” saat pertama kali memperkenalkan JNE di Jalan Kalunggu, Kota Malang tahun 1999. “Saya memulai sebagai agen JNE Malang sejak 18 tahun lalu. Sebelumnya saya berhasil menjadi agen JNE Surabaya dengan omset yang melebihi kantor cabang JNE Surabaya,” ujar pria paruh baya ini mengenang masa-masa perjuangan membesarkan agen JNE Malang.

Diceritakan Sundoro, selama dua tahun pertama jadi agen JNE Malang tidak ada omset. Namun, dia sabar dan pantang menyerah. Tiada henti dia menawarkan layanan kiriman paket door to door dan memperkenalkan JNE kepada perorangan atau instansi.

Hasilnya, setelah dua tahun kepercayaan masyarakat mulai muncul dan kondisi ini diperkuat oleh komitmen ekspansi JNE menggarap serius pasar ekspedisi di Malang. “Sekarang rata-rata kiriman agen JNE milik saya mencapai 500-600 resi per hari,” jelas Sundoro lega.

Salah satu kunci keberhasilan ini terletak pada loyalitas Sundoro terhadap JNE dan melayani konsumen dengan hati. “Prinsipnya saya tidak tengok kiri kanan meski kini banyak kompetitor baru JNE yang menawarkan iming-iming menggiurkan. Saya fokus membesarkan JNE saja dan terus meningkatkan pelayanan yang memuaskan kepada pelanggan,” dia menegaskan.

Ya, sepanjang tahun 2000-2005 kondisi JNE Malang dikatakan oleh Windhu Abiworo, Branch Manager JNE Malang, cenderung stagnan. Grafik menunjukkan peningkatan signifikan pada 2015 – 2017 karena pertumbuhan bisnisnya mencapai 37%.

Manisnya bisnis e-commerce dan suka duka bersama JNE juga dialami oleh Dina. Wanita bersuara lantang ini mengaku menjadi importir stiker wallpaper di Lawang, Malang. Dia tidak menyangka bisnis online ini mendapat sambutan luar biasa dari konsumen. Sebab, pembeli produknya tidak hanya dari Malang atau Pulau Jawa, melainkan juga menembus Bali, Kalimantan dan Papua.

“Apalagi dibantu oleh JNE distribusinya, bisnis saya makin maju. Sebanyak 80% pembeli produk saya di Instagram, Tokopedia, atau market place lain memilih JNE sebagai ekspedisi pengiriman,” jelas Dina yang berpenampilan tomboi dan berambut pendek ini.

Bagaimana suka dukanya? “Pengalaman dukanya pernah beberapa kali kiriman barang lewat JNE rusak atau hilang, sehingga saya harus mengganti produk baru ke konsumen. Tapi itu tidak masalah, karena cuma kecil persentasenya dibandingkan keuntungan saya setahun. Margin bisnis ini 35%, sedangkan dana yang saya alokasikan untuk mengatasi komplain konsumen 5% dari total profit,” ucap Dina yang menyebut kunci suksesnya: ulet, fokus dan fast response dalam melayani konsumen.

Sementara itu, pengalaman sukanya adalah Dina mengaku bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis, dapat bonus smartphone dan yang terpenting bisa membeli rumah idaman. “Terima kasih JNE sudah mewujudkan sebagian impian saya,” dia berujar dengan bangga.

Lain lagi cerita Umi Tursini yang inspiratif, mitra binaan JNE Malang. Umi mengaku sudah 7 bulan terakhir terjun ke bisnis online kategori fashion. Utamanya adalah mengembangkan produksi tas sepatu wanita merek Salvora dan merek Salvo untuk sepatu atau sandal pria.

Umi bercerita, berawal dari riset kecil-kecilan di media sosial atau market place, ternyata produk tas dan sepatu yang paling banyak diminati oleh konsumen adalah harga di bawah Rp 100 ribu. Dengan bekal keyakinan ini, dia berani memutuskan untuk memproduksi tas dan sepatu ke pengrajin di Sidoarjo dan Mojokerto, Jawa Timur.

“Mula-mula saya memproduksi tas dan sepatu dalam jumlah sedikit untuk melakukan tes pasar. Desain produk saya lakukan sendiri, tapi penjahitnya saya outsourcing ke pengrajin tas sepatu,” jelas Umi yang sehari-harinya dikenal sebagai dosen Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Tidak dinyana, animo konsumen membludak. Umi pun mengaku kewalahan memenuhi orderan pembelian yang membanjir. Dalam sebulan dia bisa mendapatkan pesanan ribuan tas dan sepatu. “Omset tas dan sepatu Salvo dan Salvora bisa mencapai Rp 1 miliar sebulan,” ujar wanita lulusan S1 dari Universitas Negeri Malang dan S3 dari UNSW Sydney, Australia.

Saat ini, produksi tas dan sepatu milik Umi dikerjakan oleh tiga pengrajin yang menjadi mitranya. Satu usaha pengrajin mempekerjakan 50 penjahit. Maklum, jumlah varian produk terus bertambah mencapai puluhan dan dia memiliki stok produk yang cukup. Tak heran jika dia masuk kategori VIP Seller di Lazada. Selain itu, produknya dipasarkan ke Shopee, Elevania, Blibli dan market place lainnya.

“Di luar pengiriman Lazada, untuk produk-produk kami banyak menggunakan jasa ekspedisi JNE, khususnya yang ke pelosok daerah,” kata Umi yang lahir di Ngawi (Jawa Timur), 11 Februari 1981 itu.

Chris Inderayanto, pemilik toko oleh-oleh Pai Apel, mitra JNE Malang (Foto by: Eva/SWA)

Keberhasilan Umi menjadi pelaku bisnis UKM juga dialami Chris Inderayanto, pemilik toko oleh-oleh Pai Apel di Malang. Sejak tahun 2010 Chris memelopori produksi Pai Apel pertama yang diposisikan sebagai oleh-oleh khas Kota Malang.“Keunikan Pai Apel kami tidak pakai bahan pengawet dan tahan 5 hari,” ujarnya.

Dulu, Chris hanya memproduksi 96 biji Pai Apel dalam sehari, tapi cuma laku 4 biji. Satu biji dibanderol Rp3.000. Produksi yang sedikit dilakukan sendiri. “Awalnya sempat punya satu orang pegawai, tapi kerja tiga jam sudah keluar gak betah,” ucapnya mengenang masa sulit usahanya itu.

Untuk memasarkan produknya kala itu, dia harus keliling kota naik motor menjajakan dagangan atau menitipkan ke toko oleh-oleh. Untunglah, jerih payahnya itu dari waktu ke waktu membuahkan hasil.

Saat ini, produksi Pai Apel Chris rata-rata tiap hari bisa 20 boks. Satu boks isinya 10 biji. Selain Pai Apel, dia juga mengembangkan varian produk dengan membuat Strudel Malang, yang diproduksi 40 boks. Perkembangan ini mendongkrak omset usahanya. Jika sebelumnya rata-rata omsert Rp300 juta – 400 juta per tahun, kini bisa mencepai Rp 800 juta setahun.

“Kemajuan usaha saya ini juga berkat jasa Pesona JNE. JNE datang mengajak co-branding, yang mana di kardus kemasan Pai Apel dan Strudel Malang milik kami ada logo JNE. Saya punya keterbatasan dalam online marketing, dan JNE membantu kami. Tanpa JNE belum tentu produk kami bisa terkirim hingga ke pelosok daerah Indonesia, “jelas Chris dengan nada senang.

CSR HUT 27 JNE

Sebelumnya, rangkaian HUT 27 JNE juga mengajak para wirausahawan mengikuti workshop atau seminar gratis bertajuk “JNE Ngajak Online” dengan tujuan Jakarta.

Program ini pelatihan bagi UKM agar produk-produk berkualitas yang dihasilkan dapat dipasarkan secara luas, digelar di 18 kota, yaitu Tanjung Pandan, Bengkulu, Sorong, Jayapura, Samarinda, Palangkaraya, Banda Aceh, Jambi, Bontang, Tarakan, Palu, Manado, Gorontalo, Ambon, Pangkal Pinang, Cilegon, Kupang dan Mataram.

M. Feriadi, Presiden Direktur JNE secara simbolis menyerahkan bantuan buku cerita anak CSR JNE (Foto by: Eva/SWA)

Program dan acara lainnya di berbagai bidang, rangkaian HUT 27 JNE telah dimulai dari awal tahun dan diselenggarakan di seluruh Nusantara. Acara tersebut seperti, seminar pelatihan untuk UKM di 15 kota yaitu Indonesia Marketing Festival dan Gebyar UKM yang bekerja sama dengan Markplus Inc., serta Kampus Shopee Roadshow kolaborasi dengan Shopee di 13 kota, mulai Februari sampai dengan November 2017.

“Rangkaian kegiatan berupa seminar, Corporate Social Responsibility (CSR) dan lainnya, juga diadakan mulai pertengahan tahun, tepatnya bulan Agustus sampai dengan akhir tahun 2017,” jelas M. Feriadi, Presiden Direktur JNE.

Workshop lainnya yaitu E-Commerce Vaganza yang digelar di 7 kota, juga didukung oleh JNE. Begitu juga dalam kegiatan sosial atau CSR seperti, Operasi Bibir Sumbing di Sabang Aceh bersama Smile Train, dan pengiriman ratusan buku edukatif untuk anak – anak di Lombok, Nusa Tenggara Barat yang dilaksanakan bersama Taman Bacaan Anak Lebah, serta pengiriman peralatan mau pun perlengkapan sekolah untuk anak – anak yang membutuhkan ke beberapa daerah di Papua dalam program “Rajut Kasih”.

Program CSR di tahun 2017 pun semakin spesial lagi karena tepat pada perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-72, JNE berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Bandung merevitalisasi dan meresmikan Taman Cikapayang Dago, Jl.Djuanda No.79 Bandung. Ini adalah bentuk peran aktif JNE dalam mendukung pemerintah untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, kreatif, serta bersih dengan menyediakan ruang publik lebih banyak.

Para ibu menyusui yang bekerja pun turut merasakan semarak rangkaian program acara yang JNE selenggarakan tahun ini, karena “Jesika Office to Office” bersama komunitas Smart Mama juga digelar. Sebanyak 10 kantor perusahaan di Jakarta menjadi tempat pelaksanaan kegiatan dari salah satu produk layanan JNE yaitu Jesika (Jemput ASI Seketika). Acara berupa seminar edukatif yang menghadirkan pakar mau pun dokter ahli ini, dilakukan di kantor - kantor karena terdapat banyak sekali ibu – ibu menyusui yang berprofesi sebagai profesional atau karyawati.

Tidak ketinggalan acara rutin bagi pelanggan loyal JNE para member JLC (JNE Loyalty Card). Acara JLC Gathering sebagai Forum Group Discussion manajemen JNE bersama para member JLC terbaik dijalankan di 7 kota. Era digital yang penuh dengan peluang, turut memberikan kesempatan bagi para UKM untuk berkembang, begitu pun para member JLC di berbagai kota.

Banyak member JLC yang berprofesi sebagai wiraswasta dan sebelumnya memiliki sedikit poin karena jumlah pengirimannya masih belum banyak, kini telah menjadi member terbaik dengan jumlah pengiriman paket yang besar setiap bulannya, seperti yang ditemui oleh manajemen JNE di Cilegon, Magelang, Cirebon, Kediri, Jambi, Pontianak, serta Manado.

“Dengan ajang diskusi ini, diharapkan kualitas pelayanan JNE dalam program JLC dapat selalu ditingkatkan, sehingga turut mendorong perkembangan bisnis para member-nya,” ungkap Feriadi.

Prospek Bisnis JNE 

Siapa sangka JNE yang berawal pada 26 November 1990 dari perusahaan keluarga dengan 4 karyawan, kini menjelma sebagai market leader di perusahaan ekspedisi di Indonesia dengan 40 ribu karyawan dan 6.000 outlet jaringan tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Berdasarkan data Asperindo, market share JNE mencapai 27% di Tanah Air.

“Kunci sukses JNE adalah terus berinovasi dan memajukan teknologi. Contohnya, baru-baru ini JNE meluncurkan layanan kerja sama dengan Tokopedia, untuk pembayaran transaksi online Tokopedia bisa dilakukan melalui jaringan JNE,” jelas Feriadi menegaskan.

Untuk itu, JNE senantiasa meng-upgrade teknologi. “Kalau dulu JNE tidak terlalu mementingkan teknologi, kini terus memperbaiki diri dengan teknologi demi peningkatan pelayanan kepada pelanggan,” ujarnya di sela-sela konferensi pers di Malang.

Tim SDM JNE siap mendukung perusahaan menjadi global company (Foto by: Eva/SWA)

Diakui Feriadi, pesatnya perkembangan bisnis e-commerce berdampak positif terhadap dunia ekspedisi untuk pengiriman paket. Memang peran e-commerce bagi keseluruhan bisnis JNE masih kecil, tapi tetap dianggap penting. Kontribusi pendapatan e-commerce di JNE kurang dari 5%. Sedangkan komposisi pelanggan JNE 70% ritel dan 30% korporat.

Selain itu, JNE juga berkomitmen mendukung UKM dan agen, apalagi di era gegap gempitanya bisnis e-commerce. Hal ini didukung dengan besarya potensi wisata di daerah, baik itu kuliner makanan atau wisata alamnya. Jumlah UKM binaan JNE tercatat sekitar 3.000 merchant kategori makanan di daerah, sedangkan jumlah varian makanan yang dipasarkan sekitar 8.000 macam makanan.

“Kami ajak instansi pemerintah dan pihak-pihak yang berhubungan dengan UKM untuk terus membantu para UKM soal knowledge, seperti bagaimana packaging yang menarik, online marketing yang tepat serta meningkatkan kualitas produk,” jelas Feriadi.

Demi mengoptimalkan dukungan terhadap UKM lokal menuju pasar global, JNE pun mempersiapkan layanan JNE International Service. Layanan itu dapat mendistribusikan paket pelanggan ke lebih dari 250 negara utama di semua benua.

Ke depan, Feriadi optimistis dengan prospek bisnis JNE. Perusahaan jasa ekpedisi ini bertekad terus berinovasi, upgrade teknologi dan meningkatkan layanan konsumen. Untuk itu langkah dan target bisnis sudah dicanangkan jauh ke depan dalam memenangkan persaingan pasar yang ketat.

Simak saja, tahun 2017 ini ditetapkan manajemen JNE sebagai Empowering Network. Lalu, tahun 2018 Sinergy dan tahun 2019 sebagai Excellence Performance, tahun 2020 menjadi One Billion Company. Kemudian, pada 2021 menjadi Global Company. Di usia 27 tahun ini, JNE terus melangkah pasti menggapai cita-citanya itu. (***)

www.Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)