Bank Mandiri, Kiat Tetap Relevan dan Mengikuti Tren Pasar

Hery Gunardi, Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Hery Gunardi, Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Nilai brand Bank Mandiri mengalami kenaikan di tahun ini karena bank ini selalu berusaha mengikuti tren pasar. Seperti saat ini, generasi milenial merupakan pasar yang sangat potensial. Untuk itu, Bank Mandiri selalu menjaga agar tetap relevan dengan generasi milenial.

Hery Gunardi, Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., menjelaskan strateginya agar bank ini tetap relevan dengan generasai milenial. Pertama, berpartisipasi dalam event-event yang berorientasi pada generasi milenial, seperti event sneakers, kopi, konser kelas dunia, dan travel fair. Kedua, menggunakan figur publik milenial sebagai personality untuk produk-produk bank, seperti Laura Basuki, Chicco Jericho, Dodit, Duo Kevin-Markus, dan Nicholas Saputra.

Lalu, ada juga terobosan yang dilakukan bank ini untuk mempercepat pertumbuhan bisnis sehingga berpengaruh terhadap nilai brand. Hery mengatakan, dalam memasarkan produknya, pihaknya berusaha terus menumbuhkan bisnis dan mengikuti tren perkembangan zaman. “Kami selalu berusaha menjadi pelopor di antara bank ataupun perusahaan lain yang sejenis dalam inisiasi produk, sehingga Bank Mandiri mendapatkan perhatian pasar yang besar,” ungkapnya.

Harus diakui, secara awareness, brand Bank Mandiri secara korporasi sudah sangat kuat di masyarakat Indonesia. Kekuatan ini yang harus di-leverage supaya brand produk-produknya juga memiliki ekuitas yang tinggi dan menjadi top of mind di masyarakat. Sehingga, nilai brand bisa dikonversi menjadi hal yang lebih tangible untuk perusahaan.

Maka, dijelaskan Hery, pengelolaan brand Bank Mandiri didukung seluruh elemen perusahaan. “Untuk itu, keselarasan dalam arah brand harus senantiasa dikomunikasikan ke setiap elemen yang ada di Bank Mandiri,” ujarnya meyakinkan.

Bank ini juga bekerjasama dengan konsultan riset independen untuk monitoring brand-nya, termasuk brand-brand produknya yang dilakukan secara periodik. Dari riset ini, Bank Mandiri melakukan analisis dan menetapkan action plan yang sesuai sehingga brand equity-nya dapat meningkat. Untuk meningkatkan ekuitas merek, Bank Mandiri pun selalu aktif dalam mengomunikasikan produk dan program di media konvensional ataupun media digital.

Selain itu, Bank Mandiri hadir dalam event, bahkan mengadakan event, sebagai sarana untuk mengomunikasikan value dan arah brand, sekaligus untuk meningkatkan customer experience nasabah. “Tidak hanya itu, Bank Mandiri juga hadir melalui kerjasama dengan partner strategis sehingga brand equity-nya dapat menjadi lebih kuat,” kata Hery. 

Agar kekuatan brand bisa memberikan dampak signifikan terhadap bisnis/kinerja perusahaan, menurut Hery, pihaknya berusaha agar setiap aktivitas yang dilakukan untuk meningkatkan kekuatan brand selalu diiringi dengan pertimbangan terkait implikasi bisnis (cross produk bank), baik jangka pendek maupun jangka menengah.

Sebagai contoh, Bank Mandiri hadir di event bazar. Pertimbangan bisnisnya, Bank Mandiri dapat mengakuisisi nasabah baru untuk berbagai jenis produk (tabungan, kartu kredit, e-wallet), baik dari pengunjung maupun tenant bazar. Juga, meluncurkan produk baru, yang memang target pasarnya sesuai dengan pengunjung event. Hal ini dilakukan dengan harapan brand equity bisa meningkat dan potensi pendapatan bank meningkat, sehingga memberikan dampak positif terhadap kinerja bisnis perusahaan.

Terkait upaya memaksimalkan intangible asset untuk pertumbuhan bisnis perusahaan, Hery menyebutkan bahwa masyarakat memiliki persepsi bahwa Bank Mandiri adalah bank BUMN yang memiliki tingkat keamanan yang tinggi dengan reputasi dan kinerja yang sangat baik. Sebagai pembeda dengan bank BUMN lainnya, Bank Mandiri ditetapkan untuk memiliki positioning sebagai ”modern digital bank”.

Untuk itu, Bank Mandiri akan fokus meningkatkan inovasi di bidang digital. Inovasi digital ini harus meliputi berbagai produk dan segmen di bank ini. Dengan produk dan layanan digital yang modern dan reliable, ditambah dengan persepsi sebagai institusi yang dipercaya, diharapkan Bank Mandiri lebih mudah dalam menumbuhkan bisnis di sisi aset ataupun liabilities.

Hal itu dapat terwujud dengan dukungan strategi komunikasi yang tepat. Sebagai contoh, akuisisi nasabah dana ataupun kredit jadi relatif lebih mudah, cost of fund relatif lebih murah, serta adanya peningkatan jumlah transaksi. Bank Mandiri juga diharapkan lebih mudah dalam melakukan kerjasama strategis dengan berbagai partner bisnis. 

Bicara target pertumbuhan bisnis tahun ini dari sisi laba, pendapatan, dan kapitalisasi pasar atau enterprise value, Hery mengatakan, sesuai dengan rencana kerja yang telah disusun pada akhir 2019, Bank Mandiri memiliki aspirasi laba konsolidasi tahun 2020 di kisaran Rp 29 triliun atau tumbuh 6,8%. Pertumbuhan tersebut diharapkan dapat berasal dari pendapatan bunga kredit dan perolehan fee-based atas bisnis utama bank, yaitu penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang diharapkan dapat tumbuh masing-masing di kisaran 10% dan 8% di 2020.

“Sebagai informasi, saat ini Bank Mandiri dan grup usaha sedang mengkaji dampak penerapan POJK 11/2020 terhadap aspirasi kinerja keuangan di 2020. Dengan adanya POJK 11/2020, guidance pertumbuhan bisnis dimungkinkan berubah,” kata Hery. (*)

Dede Suryadi dan Sri Niken Handayani

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)