Garap Kontrak Logistik Mendongkrak Kinerja Pos Logistics

Yuzon Erman Yuzon Erman, CEO PT Pos Logistik Indonesia

Pada 2015-2016, bisnis PT Pos Logistik Indonesia atau Pos Logistics mampu tumbuh di atas 20%. Padahal pada periode tersebut, kondisi makro ekonomi sedang lesu. Pos Logistics bisa tumbuh dengan baik karena pada periode tersebut, perusahaan ini banting setir mengalihkan fokus bisnisnya dari proyek logistik seperti menggarap sektor alat berat ke kontrak logistik yang banyak melayani sektor fast-moving consumer goods (FMCG).

Pos Logistics masuk ke kontrak logistik karena berdurasi jangka panjang sehingga lebih menjanjikan untuk menghasilkan revenue. “Itu yang menyelamatkan kami, bisa tumbuh baik di 2015-2016,” ujar Yuzon Erman, CEO PT Pos Logistik Indonesia.

Memang sebelumnya, Pos Logistics yang resmi berdiri pada 17 Februari 2012 ini lebih banyak menggarap proyek logistik. Namun dalam perjalanannya terjadi perlambatan di industri minyak dan gas yang gejalanya sudah terbaca sejak awal 2014. Saat itu, secara konsisten terjadi penurunan harga minyak di dunia. Kemudian faktor ekonomi dalam negeri juga menunjukkan bahwa ada beberapa industri yang mulai lesu.

Melihat kondisi tersebut, pihaknya pun sudah mulai merancang untuk mencari jalan keluarnya. “Akhirnya pada 2015, kami memutuskan untuk switch dari proyek logistik (sektor alat berat) menjadi kontrak logistik yang banyak melayani sektor FMCG,” katanya. Menurutnya, jika perusahaannya tidak segera bermanuver, kondisi yang terjadi saat ini bisa menjadi ancaman serius karena pada 2015 terjadi perlambatan ekonomi secara makro dan berdampak pada proyek logistik.

Selain mulai mengalihkan perhatinnya ke kontrak logistik. Pos Logistics juga mulai mengembangkan cargo ritel.  “Itu yang membuat kami di 2016 bisa tertolong cukup banyak,” katanya mengenang. Di 2016, perusahaan ini juga mulai membangun untuk melayani proyek internasional, baik untuk impor maupun ekspor.

Dijelaskan Yuzon, sebelum Pos Logistics menggarap kontrak logistik, perusahaan ini memiliki 5 portofolio produk, yaitu proyek logistik, cargo, forwarding international, cargo ritel, dan bisnis e-commerce. “Di 2014-2015 kontribusi proyek logistik kami cukup signifikan, yaitu 35% dari total revenue kami,” ujarnya. 

Sejatinya, Pos Logistics masuk ke kontrak logistik tidak mulai dari nol. Pasalnya, sebelumnya perusahaann ini pun sudah mempunyai bisnis kontrak logistik. Seperti melayani logistik spare part otomotif, dll yang sudah dijalankan sejak lama. “Jadi eksisting klien kami sudah ada yang FMCG itu,” ujarnya.

Selain memanfaatkan klien yang sudah ada, Pos Logistics juga agresif mencari atau mengakuisisi klien-klien baru baru di bidang FMCG. Nah, ketika ekonomi sedang turun, maka pelanggan pun sangat konsen untuk melakukan efisiensi tetapi tidak mau kualitasnya turun. Keinginan pelanggan itu pun menjadi sebuah tantangan bagi Pos Logistics. “Bagi pemain logistik seperti kami, itu memang butuh kreativitas untuk merekayasa proses bisnisnya sedemikian rupa sehingga menghasilkan efisiensi dan akhirnya harganya jadi lebih kompetitif,” ungkapnya menerangkan.

Lalu apa yang dilakukan Pos Logistics? Menurut Yuzon, kalau kita bicara logistik ada tiga hal yang bisa men-drive supaya lebih efisien. Pertama adalah sistem dan teknologi yang dimiliki. Kedua, operasionalnya dan ketiga, SDM. “Nah, kami beruntung tidak mulai dari nol. Kami sudah punya eksisting klien dan infrastruktur, sehingga tidak butuh waktu lama,” ucapnya. Hanya saja, yang namanya kontrak logistik tentu ada durasi waktu untuk persiapan operasinya.

Jadi pihaknya bisa menawarkan dengan harga lebih efisien/kompetitif karena ada competitive advantage yang dilakukannya. Hal ini karena Pos Logistics adalah anak perusahaan PT Pos Indonesia (Persero) sehingga memungkinkan Pos Logistics menggunakan seluruh infrastruktur Pos Indonesia. Saat ini, Pos Indonesia telah memiliki 4.367 kantor cabang dan 33 ribu titik penjualan. “Kami tidak perlu buka jaringan baru, sudah jalan semua. Bahkan sebelum kami dapat pelanggan, itu sudah jalan reguler,” kata Yuzon.

Setiap hari ada atau tidak ada kiriman, kendaraan milik Pos Indonesia tetap berjalan ke Sumatera, ke Mataram, dll. Nah begitu, Pos Logistics mendapat pelanggan baru tinggal diikut sertakan ke space yang sudah ada. Kalau tidak cukup, tinggal ditambah armadanya. “Itulah yang membuat kami lebih efisien dan harga/tarif jadi lebih kompetitif. Tidak perlu kendaraan baru, tidak perlu orang baru,” ujarnya menjelaskan.

Namun untuk mendapatkan pelanggan baru, pihaknya pun harus agresif menjemput bola. Pasalnya, hampir semua pekerjaan logistik itu sudah dikelola atau dikerjakan oleh provider logistik lainnya sehingga persaingannya cukup ketat. “Jadi kalau kami punya diferensiasi yang kuat dan punya infrastruktur yang memadai maka tidak ada alasan bagi pelanggan untuk tidak memilih kami. Kenapa dia harus pindah ke perusahaan logistik yang lain kalau yang ada sekarang sudah cukup puas dari segi harga,” katanya.

Selain itu, untuk bisa bersaing,  Pos Logistics juga terus meningkatkan kapasitasnya, baik yang terkait dengan kapasitas fisik, yaitu kendaraan dan warehouse, maupun juga kapasitas non-fisik, yaitu teknologi dan SDM. “Kami lakukan upgrading untuk itu. SDM-SDM kami dilatih untuk mendapat lisensi seperti untuk melayani klien internasional. Mereka punya sertifikasi yang membuat mereka punya daya saing dengan yang lainnya,” ujarnya.

Itu sebabnya pada 2016 itu cukup besar, budget yang digelontorkan untuk peningkatan atau upgrade SDM. “Di saat krisis itu, kami justru belanja besar untuk upgrade orang. Yang lain justru perampingan tenaga kerja, kami malah menambah,” ujarnya membandingkan. Bahkan pada waktu itu, Pos Logistics juga melakukan perekrutan SDM secara besar-besaran. Seperti di level manajer merektur sampai 30 orang.

Artinya, Pos Logistics selain menambah hard skill, juga bangun soft skill-nya. “Kami juga harus membangun sense of belonging mereka, kami harus membuat mereka memilki rasa memiliki di perusahaan ini. Engagement-nya harus ada, sehingga dia merasa nyaman,” ucapa Yuzon.

Kemudian satu lagi yang penting adalah networking. Bicara logistik adalah bicara network. Apalagi di tengah era e-commerce. Jadi sekarang Pos Logistics sudah mempunyai agen di luar negeri, world wide yang ada di seluruh negara di semua benua. Pos Logistics pun sudah terregistrasi di FIATA – IATA sejak 2016 dan juga bergabung di organisasi forwading seluruh dunia.

Dengan langkah dan nilai lebih yang diusung Pos Logistics, pelanggannya pun terus bertambah secara signifikan di 2016. Pelanggannya itu, baik di Jakarta maupun di beberapa cabang di seluruh Indonesia. Misalnya di Jakarta, Pos Logistics bisa menggandeng klien seperti Pertamina Lubricants atau di Pekanbaru ada APP, Indah Kiat, dll.

Peluang di bisnis ini pun semakin lebar. Seperti dalam lima tahun ini, pemerintah tengah gencar membangun infrastruktur dan infrastruktur itu ujung-ujungnya pasti ada pemindahan barang.” Itu peluang,” cetusnya. Lalu dalam lima tahun ini, pemerintah juga fokus membereskan persoalan pangan. Hal ini juga menjadi sebuah peluang karena ada distribusi pupuk. “Intensifikasi pangan terjadi dan volume naik, pasti akan ada moving barang,” ujar Yuzon optimistis.

Dan yang tak bisa dihindari adalah sekarang zamannya online dan dampaknya barang banyak bergerak. Munculah pemain-pemain baru di bidang logistik. Itu sebabnya para pemain lama jika tidak cepat melakukan reposisi atau yang paling ekstrim mengubah model bisnsinya, bisa tergilas persaingan.

Reportase: Arie Liliyah

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)