Sinar Mas Mining, Membangun Gudang Talenta untuk Menopang Akuisisi

Swasono Satyo, Direktur SDM Sinar Mas Mining
Swasono Satyo, Direktur SDM Sinar Mas Mining

Layar berukuran 2X1 meter terpasang di lobi kantor Sinar Mas Mining. Layar ini dilengkapi dengan kamera yang memindai wajah (face recognition) pegawai. Tak jauh dari area lobi, terhampar ruangan luas yang berfungsi sebagai co-working space. Desain interiornya bergaya Skandivania dan bagian dinding ruangan ini dibalur warna-warna yang sedap dipandang mata. Ruangan ini dikelilingi kaca bening berukuran besar yang panoramanya menyuguhkan gedung-gedung pencakar langit di Jakarta. Di sudut ruangan ini terdapat Ternak Kopi, gerai kopi yang menyuguhkan aneka kopi masa kini untuk pegawai. “Selain memiliki kedai kopi di co-working space, kantor kami menyediakan area pantry. Karyawan menyajikan sendiri makanan dan minuman yang diinginkannya,” tutur Swasono Satyo, Direktur SDM Sinar Mas Mining.

Kantor Sinar Mas Mining di Sinar Mas Land Plaza, Tower II, Lantai 11, kawasan Thamrin, Jakarta, itu memiliki beragam fasilitas yang memanjakan karyawan, antara lain phone room, pray room, day care room (penitipan anak-anak karyawan), ruang laktasi dan mesin pendingin penyimpanan ASI (air susu ibu), ruang gymnasium, ruang karaoke, dan bioskop mini. Beragam fasilitas itu disediakan perusahaan ini untuk memacu produktivitas, serta tingkat keterikatan (engagement) dan pemberdayaan (enablement) karyawan, seiring dengan makin meluasnya skala bisnis.

Bukan tanpa sebab, Sinar Mas Mining, perusahaan yang menangani pilar bisnis energi dan infrastruktur di bawah Grup Sinar Mas, memanjakan pegawainya. Sejak berdiri 10 tahun lalu, Sinar Mas Mining agresif memperluas skala bisnisnya. Salah satu strateginya, mengakuisisi perusahaan pertambangan. Di tahun 2015, misalnya, mengakuisisi perusahaan batu bara milik Grup Bakrie, Berau Coal. Tahun lalu, melalui PT Golden Energy Mines Tbk., mengakuisisi PT Dwikarya Sejati Utama, PT Duta Sarana Internusa, PT Barasentosa Lestari, dan PT Unsoco. Kemudian, melalui Golden Energy and Resources Ltd., membeli 25% saham perusahaan batu bara asal Australia, Stanmore Coal.

Pengembangan bisnis ini merupakan hasil manis yang dipetik Sinar Mas Mining dalam mengimplementasikan Empat Pilar Rumah. Pilar pertama, energi. Pilar kedua, digital, untuk menyongsong Revolusi Industri 4.0. Pilar ketiga, investasi, wealth management, dan gaya hidup. Pilar keempat, merger dan akuisisi. “Strategi bisnis ini yang harus diterjemahkan kepada karyawan supaya melangkahnya sama dengan visi dan misi keempat pilar yang disampaikan oleh founder Sinar Mas Mining. Pilar-pilar ini yang mendasari perusahan dan karyawan saling bekerjasama. Sekarang kan unit bisnis di bawah Sinar Mas Mining itu sudah ada 60 perusahaan,” Swasono menjelaskan. Ia menambahkan, setiap tahun Sinar Mas Mining mengakuisisi perusahaan.

Sinar Mas Mining tidak hanya mengakuisisi perusahaan pertambangan, tetapi juga perusahaan nonpertambangan, antara lan perusahaan media, gaya hidup, kesehatan, dan asuransi. Untuk menyelaraskan visi dan misi dengan pegawai yang tersebar di 60 perusahaan yang memiliki 20 ribu pegawai ini, perusahaan menyinergikan manajemen SDM serta operasional bisnis berdasarkan Empat Pilar Rumah yang rinciannya itu ditransfer kepada para CEO di setiap perusahaan. Setelah itu, para CEO ini mengalirkan keempat pilar ini ke setiap divisi di perusahaanya itu. “Itulah strategi kami untuk meningkatkan engagement,” ujar Swasono.

Guna menyelaraskan program pengembangan SDM ini, Swasono rutin mengadakan Pembicaraan 5 Menit (P5M) untuk berdiskusi dengan tim divisi SDM mengenai pelaksanaan program dan target pengembangan kompetensi pegawai. Karyawan didorong untuk meningkatkan kualitas dan pelayanan konsumen. Untuk memastikan hal ini, manajemen setiap enam bulan sekali mengevaluasi tingkat engagement karyawan, mengecek indeks kesehatan mereka, dan mengevaluasi tingkat kepuasan konsumen (customer satisfaction index). Metode ini diyakini Swasono meningkatkan employee value proposition (EVP) Sinar Mas Mining.

Manajemen menghadiahi karyawan yang berprestasi untuk mengikuti pelatihan bersertifikasi dan melanjutkan pendidikan S-2, serta umroh; memberikan insentif dan bonus untuk seluruh pegawai; membuka peluang karier yang setara kepada pegawai pria dan perempuan untuk mencapai puncak karier; serta berinisiatif menjalankan Refferal Program yang memberikan penghargaan kepada karyawan yang merekomendasikan tempat bekerjanya kepada rekannya untuk bergabung di perusahaan. Menurut Swasono, Refferal Program ini mencerminkan tingkat engagement dan kebanggaan karyawan yang cukup tinggi terhadap perusahaan. “Mereka semacam brand ambasador buat kami,” ujarnya menegaskan.

Selain itu, Sinar Mas Mining memberikan program pengembangan karier untuk karyawan dari level fresh graduade hingga manajer untuk mengikuti Excecutive Competency Development Program (ECDP). Program ini mempersiapkan manajer untuk mengisi posisi general manager (GM). Nah, para peserta ECDP ini menjalankan project yang create new business, selain Empat Pilar Sinar Mas Mining. “Kami sudah dua kali mengadakan ECDP. Yang pertama menghasilkan bisnis kakao dan bisnis livestock (peternakan sapi), serta mengubah proses bisnis,” kata Swasono.

Setelah lolos di tahap ECDP, pegawai di level GM itu berpeluang menjalani Leadership Development Program (LDP) untuk mempelajari kebijakan strategis dan berinovasi. Mereka mengikuti workshop dan pelatihan yang disampaikan oleh akademisi dari perguruan tinggi ternama, yakni Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Puncaknya, karyawan di LDP itu berpotensi didaftarkan ke program Advance Leadership Development (ALP) selama enam bulan, bekerjasama dengan Erasmus University, Belanda. Program ECDP dan ALP ini ditangani Grup Sinar Mas. Sementara, untuk mengukur performa pegawai, Sinar Mas Mining mengimplementasikan beberapa program, contohnya penilaian real-time & 360 degree, yang melibatkan pimpinan yang membawahkan si pegawai, rekan satu tim, dan vendor.

Beragam program itu meningkatkan engagement seluruh pegawai, termasuk karyawan milenial, untuk beradaptasi di era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity). “Kami memfasilitasi kebutuhan milenial yang karakternya ingin berinovasi, bekerjasama, dan mudah berinteraksi dengan CEO atau owner. Kami mempertemukan pegawai milenial dengan CEO atau owner di forum coffee break dan town hall meeting yang membuka ruang berdiskusi,” Swasono memaparkan.

Sebagai wahana belajar para calon leader, Sinar Mas Mining memiliki program learning inclusively yang mengizinkan pegawai belajar di lintas departemen. Sebagai contoh, pegawai di bagian keuangan bisa belajar di bagian informasi dan teknologi. “Kemudian, ada program Share and Learn yang mengundang CEO dari luar Grup Sinar Mas untuk berbagi visi, strategi, dan lainnya, misalnya kami pernah menghadirkan CEO General Electric, Unilever, dan Samsung,” kata Swasono.

Sejumlah program ini dilengkapi dengan program kreatif yang diinisiasi karyawan, misalnya membuat Vlog, hastag alias tanda pagar di media sosial atau mengunggah artikel. Ini, menurut Swasono, memperkaya proses engagement karyawan. Dari sisi employee engagement, enablement, dan effectiveness Sinar Mas Mining memperoleh skor 86 berdasarkan survei Korn Ferry. Skor ini menobatkannya di posisi kedua Employer of Choice (EOC) Award 2019 versi SWA dan Korn Ferry. Sinar Mas Mining mengapresiasi pencapaian di EOC kali ini.

Bagi kami, hasil EOC ini bukan sekadar meningkatkan citra merek perusahaan ke publik, tetapi juga berdampak positif untuk internal perusahaan, misalnya meningkatkan produktivitas, motivasi, dan positive vibes di lingkungan kerja,” kata Swasono lagi. Bahkan, saya yakin kelak akan berdampak sampai ke penghematan biaya operasional dan margin laba perusahaan.

Pada kesempatan berbeda, Bagus Kristian, Corporate Talent Head Sinar Mas Mining, mengatakan, perusahaannya bakal meningkatkan kualitas pegawai untuk disiapkan sebagai pemimpin bisnis di masa mendatang. Rencananya, Sinar Mas Mining akan terus mengembangkan skala bisnis hingga tahun 2026. “Strategi bisnis yang mau kami capai di tahun 2026, baik secara orgnaik maupun non-organik, akan dijalankan lewat empat portofolio bisnis, yaitu energi terbarukan dan batu bara, digital, financial services dan wealth management, serta merger dan akuisisi. Targetnya, nilai aset kami mencapai US$ 20 miliar,” tutur Bagus. (*)

Arie Liliyah & Vicky Rachman

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)