Sinergi Implementasi GCG pada Transformasi Antam 

Bentuk revitalisasi Enterprise Resource Planning (ERP) PT Antam Tbk. menjadi langkah besar perusahaan untuk melakukan perbaikan sesuai dengan GCG (good corporate governance). Hal ini juga bagian dari transformasi Antam guna meningkatkan profitabilitas, daya saing, dan pertumbuhan berkelanjutan.

Implementasinya dilakukan dengan menjadikan GCG sebagai landasan operasional perusahaan dan secara berkelanjutan meningkatkan praktik pelaksanaannya. Salah satunya Antam melakukan penyusunan kebijakan dan prosedur perusahaan didasarkan pada pendekatan objective, risk & control.

“Untuk risk management perusahaan dilakukan sejak tahun 2009 dengan mengacu pada Pedoman Manajemen Risiko yang dikembangkan secara tailor made bernama ARMS,” ungkap Direktur Keuangan PT Antam Tbk., Dimas Wikan Pramudhito. ARMS mencakup tiga hal pokok antara lain Risk & Control Self Assessment, Loss Event Management, & Key Risk Indicator.

Selain itu, kebijakan Antam untuk menumbuhkan budaya sadar risiko di setiap unit/divisi anak perusahaan dilakukan program internalisasi dengan membentuk risk officer dan risk unit coordinator. Program ini mengidentifikasi resiko di masing-masing area serta memonitor tindak lanjutnya. Melalui program ini menjadikan proses pengelolaan risiko sebagai salah satu Key Performance Indicator Generic bagi seluruh divisi/unit.

Dimas juga mengungkapkan dalam hal whistleblowing system, pelaporan dapat disampaikan melalui email, surat, fax dan telepon dengan merahasiakan identitas pelapor dan isi laporan. “Dewan komisaris mengevaluasi usulan Tim WBS dan kasus yang perlu ditindaklanjuti dan diserahkan kepada direksi akan dilakukan audit khusus dan/atau investigasi lebih lanjut,” ungkapnya. Upaya ini dalam rangka meningkatkan efektivitas penerapan GCG. Komitmen ini sebuah langkah profesional yang sesuai dengan budaya kerja guna mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik.

Hasil dari penerapan GCG Antam ini tercermin dengan kembali mencetak laba bersih Rp64,81 miliar di 2016. Angka ini naik signifikan dibandingkan rugi bersih Rp1,44 triliun pada tahun 2015. “Kenaikan laba bersih ini didukung peningkatan volume penjualan komoditas feronikel dan bijih nikel. Peningkatan profitabilitas juga didukung tingkat efisiensi sebesar Rp48,69 miliar,” paparnya. Kinerja operasi Antam juga mendukung pencapaian laba bersih yang diperoleh.

Untuk komoditas emas, Antam mencatatkan volume produksi sebesar 2.207 kg dengan volume penjualan emas sebesar 10.227 kg. Di tahun 2017, Antam menargetkan peningkatan produksi dan penjualan komoditas utama feronikel dan emas. Untuk feronikel sebesar 24.100 TNi, lebih tinggi 19% dibandingkan dengan produksi tahun 2016 dan komoditas emas targetkan produksi sebesar 2.270 kg dari tambang emas Pongkor dan Cibaliung, lebih tinggi dibandingkan produksi emas tahun 2016.

"Pada periode 9 bulan pertama tahun 2017, nilai penjualan bersih Antam tercatat sebesar Rp6,96 triliun dengan komoditas emas merupakan komponen terbesar pendapatan. Kontribusinya sebesar Rp3,84 triliun atau 55% dari total penjualan bersih dan  di Kuartal III-2017, penjualan bersihnya tercatat Rp3,70 triliun,” jelas Dimas.

Antam juga menjadi salah satu produsen feronikel berbiaya rendah di dunia dengan capaian biaya tunai sebesar US$ 3,41 per lb. di tahun 2016. Dimas mengungkapkan bahwa seiring dengan tren peningkatan harga nikel dunia, yang turut didorong oleh ditutupnya beberapa tambang nikel di Filipina, maka Antam optimistis untuk dapat meningkatkan marjin keuntungan dari bisnis nikel.

“Melalui efisiensi berkelanjutan serta beroperasinya PLTU batubara Pomalaa di tahun 2017, biaya tunai feronikel akan semakin dapat diturunkan,” ungkapnya. Kini, proyek-proyek utama Antam mencakup Proyek Perluasan Pabrik Feronikel Pomalaa (P3FP), Proyek Pembangunan Pabrik Feronikel Haltim (P3FH), Proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah, Proyek Anode Slime & Precious Metal Refinery (PMR).

Penerapan GCG dalam transformasi Antam ini terkait dengan penyaluran atau distribusi dari kekuatan dan tanggung jawab. Upaya ini juga sebagai konsekuensi dan akuntabilitas pada pencapaian Antam. Strategi ini juga mennjadi cara untuk memastikan terlaksananya check & balance dan pemenuhan tanggung jawab kepada stakeholders perusahaan.

 

Reportase: Jeihan Kahfi Barlian

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)