Upaya Bulog Tetap Relevan dan Terus Tumbuh

Perum Bulog merupakan salah satu BUMN yang usianya sudah lebih dari 50 tahun. Tepatnya Bulog berdiri pada 10 Mei 1967. Tidak mudah untuk tetap relevan dan bisa memenuhi kebutuhan pasar dengan baik. Dalam sebuah webinar Living Lagend Campanies and Brands 2021 yang diselenggarakan Majalah SWA dan Businesa Digest, Komjen. Pol. Drs. Budi Waseso, Dirut Bulog memaparkan bagaimana perum ini beradaptasi dengan perubahan zaman.

“Saya tidak punya bekal dan latar belakang bisnis, ketika diangkat menjadi Dirut Bulog, tapi ini tantangan, sebagai seorang pemimpin walau tugas di Bulog tidak ringan. Karena Bulog memiliki peran utama; menjalankan amanah pemerintah dalam menjalankan tiga pilar yaitu menjaga ketahanan pangan, terciptanya swasembada pangan dan terciptanya kedaulatan pangan. Dan di sisi lain karena Bulog sudah menjadi Perum, harus bisa selayaknya perusahaan mencatat profit yang harus berkompetisi dengan yang lain,” papar pria yang diangkat menjadi Dirut Bulog sejak 2018 ini.

Menurut Budi, sebagai bagian dari unit bisnis pemerintah, yang bertanggung jawab menjalankan tugas negara, Bulog harus siap. “Untuk itu harus memahami seluruh wilayah Indonesia yang tidak sama. Dengan memikirkan seluruh kebutuhan masyarakat terjamin, yang dsaat bersamaan dalam kondisi sekarang tidak bisa menghindari risiko inflasi,” ujarnya.

Ia melanjutkan, untuk itu dalam menjalankan tugas ini, seluruh tim di Bulog harus memahami posisi perusahaan dengan benar. Caranya dengan benar-benar bisa membaca perkembangan pasar, yang harus diikuti terus, dengan melakukan perubahan guna menyesuaikan perkembangan pasar termasuk dalam bidang teknologi.

“Tim di Bulog harus mau berpikir kreatif dan inovatif, kalau tidak, Bulog akan kalah dengan kompetitor-kompetitornya. Mengikuti keinginan masyarakat dan membaca tren menjadi kuncinya. Kondisi pandemi Covid-19 saat ini, misalnya dengan kondisi masyarakat yang dibatasi mobilitasnya, maka Bulog harus bisa menjawab kebutuhan kondisi ini,” tandasnya.

Caranya? Budi menjawab, dengan membangun digitalisasi, sarana dan prasarana yang menunjang. Ini tidak mudah, kalau SDM-nya tidak mendukung dalam hal ilmu, ketrampilan, pengetahuan, keahliannya, maka akan sia-sia.

“Paling utama saya harus membangun satu kesatuan komitmen, kalau ini tidak ada, kita tidak akan mencapai tujuan. Maka itu seluruh SDM hingga top manajemen harus memiliki komitmen yang sama, satu tujuannya dengan berpegang pada tiga pilar Bulog,” terangnya. Dan komitmen harus dijalankan dengan konsisten. Bulog terus mengasah SDM, merestrukturisasi bisnis, dengan mengintegrasikan bisnis dari hulu ke hilir.

“Membangun kolaborasi dengan berbagai pihak yang bisa mendorong kemajuan Bulog, bahkan dengan kompetitor, terlebih jika hal itu bisa membantu kebutuhan masyarakat. “Saya memberi kekuatan pada tim, bahwa kita tidak boleh takut gagal, tapi tidak juga menganggap biasa jika terjadi berulang, maka itu harus mau mengevaluasi, jangan menyerah pada satu kegagalan,” kata Budi.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa pemimpin juga harus menjadi manajer yang baik, hingga hari ini Budi mengaku terus belajar dan menguasai hal-hal baru agar bisa memimpin dengan lebih baik.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)