Langkah Lincah Penerus Grup Plataran

Kecantikan alam dan keindahan budaya Indonesia yang dikemas dalam sajian hotel, resor, restoran, function house dan kapal wisata menjadi kunci sukses Grup Plataran di bisnis hospitalitas. Meski baru berusia enam tahun, kini Plataran yang didirikan pasangan Dewi Julia Pramitarini dan Jozua Makes itu telah memiliki lima hotel, tujuh restoran, plus satu yacht dan lima kapal pinisi yang siap mengantarkan pelanggannya menikmati Indonesia.

Anandita Makes Anandita Makes

Properti Plataran terbentang dari Jakarta, Bogor (Puncak), Magelang (Borobudur), hingga Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur. Keunikan Plataran terletak pada ekslusivitas propertinya dan kentalnya unsur budaya lokal yang disisipkan dalam setiap propertinya yang menyasar kalangan menengah-atas. “Plataran berusaha memberikan semua personal life experience. Kami berusaha membuat orang-orang mengapresiasi Indonesia. Karena itu, kalau misalnya Anda datang ke semua tempat Plataran, Anda akan melihat Indonesia, and that’s amazing!” Anandita Makes, sulung dari empat bersaudara, mengungkapkan dengan antusias konsep yang diusung bisnis keluarganya itu.

Ya, Plataran yang mengusung kredo An Icon of Indonesia itu kini melibatkan generasi keduanya dalam pengelolaan bisnisnya, dimulai dari Anandita. Dara kelahiran Jakarta 1991 ini bergabung dengan Plataran sejak setahun silam, usai kuliah dan melanglang ke sejumlah perusahaan. Meskipun orang tuanya pemilik Plataran, Anandita tak mau langsung bergabung usai kuliah. Bahkan, sebelum lulus S-1 bergelar ganda di bidang keuangan dan psikologi terapan serta pengembangan manusia di Boston College, Massachusetts, AS, ia sudah melakukan rupa-rupa pekerjaan tanpa memandang status ekonominya. Semasa kuliah, ia pernah bekerja paruh waktu sebagai asisten peneliti, pelayan restoran, guru sukarela dan relawan di rumah sakit.

Kelar kuliah, ia pun terlebih dulu berkarier di bidang yang disukainya, yakni keuangan, di perusahaan bank investasi Rotschild di Inggris. Ia juga pernah bekerja di konsultan manajemen Deloitte selama setahun (2013-14). Namun, dorongan hati untuk kembali ke Tanah Air sedemikian kuat. Akhirnya, tahun lalu ia memutuskan pulang kampung.

Di Indonesia, ia kembali menekuni hobinya, membuat roti dan kue dengan mendirikan Passionnee Bread & Pastry yang mengusung citarasa Prancis. “Kalau misalkan ada orang yang bertanya apa yang aku lakukan, jawabanku adalah I do food and finance, aku suka makan, masak, dan coba-coba. Tetapi, bakat aku di finance, jadi aku suka keduanya,” tutur Anandita kepada SWA di resto Plataran Dharmawangsa, Jalan Dharmawangsa 6, Jakarta Selatan.

Berangkat dari kesukaannya itu, sejak Oktober 2014 ia mengurusi bagian keuangan Plataran sebagai financial associate dan mengelola resto Patio Jakarta yang mengusung hidangan Italia. Seperti masih kurang sibuk, ia pun menyempatkan kuliah S-2 di Prasetiya Mulya Business School, Cilandak, Jak-Sel.

Kesibukan tingkat tinggi nampaknya ditularkan oleh orang tuanya. Ibunya, selain sebagai Komisaris Plataran, juga Dosen Bahasa Prancis di Universitas Indonesia. Sang ayah, selain menjabat CEO Plataran, juga pendiri dan Direktur Pengelola Senior Makes & Partners Law Firm (firma hukum bisnis dan perusahaan), serta anggota Dewan Penasihat PT Mahanusa Capital.

Di Plataran, Anandita membuat perencanaan pengendalian biaya dan analisis kinerja berbagai properti Plataran di seantero Indonesia. Ia juga membuat rencana pengembangan karier untuk 500 karyawannya. Adapun di Patio, ia menjabat sebagai project manager food and beverage associate. Mengingat hobinya yang suka menjajal aneka resep kue, dengan senang hati ia pun giat membuat aneka kreasi kue dan sajian pencuci mulut. Kreasinya antara lain strawberry crumble, raspberry crumble, pastiera, dessert pizza, strawberry shortcake dan vanilla sponges cake. Meski tak mengenyam pendidikan khusus di bidang kuliner, minatnya yang tinggi mendorongnya mempelajari teknik pembuatan aneka roti dan kue melalui buku, blog dan YouTube.

Anandita bukan tipe pemimpin yang betah bekerja di balik meja. Ia tak segan turun langsung mengawasi kinerja unit-unit usaha Plataran di berbagai daerah seperti Jawa Tengah (Borobudur), Bali dan Nusa Tenggara Barat. “Orang mikirnya aku liburan, padahal di sana aku kerja. Aku justru ngerasa malu kalau misalkan ke sana tetapi gak ngapa-ngapain. Di rumah, saya anak Pak Jozua dan Bu Dewi. Tetapi, begitu saya keluar, saya itu tim. Saya tidak mau menyalahkangunakan status saya sebagai anak dan sebagai tim juga,” ungkapnya.

Anandita tak menampik dirinya bisa saja menjabat CEO begitu bergabung dengan Plataran. Namun, bukan itu jalan karier yang dipilihnya. Ia ingin merasakan pengalaman bekerja di Plataran dari bawah agar mampu memahami aneka tantangan di bisnisnya. Dengan pola ini, ia mengaku kini dapat melihat dan merasakan langsung kekuatan Plataran dan berbagai aspek yang perlu ditingkatkan. Salah satunya, ia memahami bahwa Plataran selalu mengutamakan tenaga kerja lokal. “Kami selalu menggunakan sesuatu dari lokal Indonesia, salah satunya dengan mengambil tenaga kerja dari orang-orang sekitar. Kami maunya dengan masuknya bisnis kami, kami bisa membawa kemakmuran dan kesejahteraan di situ,” ia menjelaskan.

Properti Plataran juga selalu menyisipkan unsur budaya lokal dalam arsitektur dan desain interiornya. “Misalnya, di Plataran Komodo, vilanya menyerupai joglo. Tetapi di interior, kainnya menggunakan kain Nusa Tenggara. Kalau ada cooking class, kami menggunakan resep asli atau campuran makanan khas Nusa Tenggara,” tutur Anandita seraya menambahkan, ke depan Plataran akan membuka tiga properti lagi di Bali, Jawa Timur (Bromo) dan Sumba.

Pelanggan Plataran yang dihubungi SWA mengungkapkan kekagumannya pada Plataran. Salah satunya, Roben Onsu. Selebritas yang kerap menjadi pembawa acara itu menyewa Plataran Dharmawangsa untuk acara tujuh bulanan kehamilan istrinya, Sarwendah. Ruben merasa konsep restonya sesuai dengan pilihannya, simpel tetapi nyaman. Ia pun terkesan dengan interior resto dan sajiannya yang mengusung tema tradisional. “Tetapi, kalau bisa, di Jakarta tempatnya lebih luas lagi dan media sosialnya seperti Instagram lebih aktif lagi. Supaya kita tahu cottage-nya yang di luar Jakarta seperti apa,” ujar Ruben menyarankan.

Sementara Roro Hanggono, penyedia jasa perencana dan pengelola pernikahan, mengaku mengenal Plataran Dharmawangsa saat menggunakannya untuk akad nikah putri kliennya. Ia melihat Plataran merupakan function venue dengan konsep ke-Indonesia-an yang sangat kental dan menekankan hospitalitas di dalam pelayanannya. “Integrasi antara function rental, kuliner dan akomodasi yang nyaman dengan layanan kelas satu menjadikan Plataran sebagai one stop wedding destination untuk pasarnya,” ujar Roro yang setiap bulan berkunjung untuk bersantap di Plataran Dharmawangsa.

Roro memberikan saran agar Plataran meningkatkan popularitas mereknya melalui media sosial dengan melibatkan sosok ternama. “Since they can be an effective ambassador by delivering their experience with Plataran to the public, to strengthen your market position,” ujarnya.(*)

Aulia Dhetira dan Eddy Dwinanto Iskandar

Riset: Gustyanita Pratiwi

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)