Ardantya Syahreza, Dari Kuliner sampai Rumah Sakit

Ardantya Syahreza

Ardantya Syahreza boleh dibilang pebisnis dan profesional yang mengurusi banyak hal. Pasalnya, saat ini dia memimpin beberapa perusahaan yang bergerak di beragam sektor. Perusahaan itu ada yang dibesutnya sendiri, ada juga yang milik keluarga besarnya.

Tahun 2005, Ardantya mendirikan perusahaan pertamanya, PT Marketing Komunikasi Indonesia (MKI). Perusahaan ini bergerak di bidang jasa pemasaran dan konsultasi strategi komunikasi merek dalam bentuk kegiatan aktivasi (event promotion) yang memungkinkan pencapaian akuisisi database customer, product trial, dan pembelian yang dapat diukur.

Saat itu saya banyak memimpin kegiatan prospecting dan pembuatan proposal pitch bagi calon klien brand baru. Setelah lama menangani prospect-prospect baru, saya melihat peluang untuk menciptakan layanan dengan business model baru untuk melayani para klien yang ingin budget pemasarannya dapat dikorelasikan kepada pencapaian bisnis atau penjualan,” dia menjelaskan.

Berkat kerja kerasnya, MKI kini dipercaya menangani merek besar. Saat ini klien MKI sangat bervariasi. Mereka datang dari berbagai sektor, dari industri makanan-minuman, farmasi, telekomunikasi, oli, hingga perbankan. 

Tak berhenti di bidang pemasaran, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya ini kemudian melebarkan lagi sayap bisnisnya dengan membuka usaha kuliner dan F&B service dengan sistem waralaba. Di bawah naungan PT Kuliner Nusantara Sejahtera Indonesia, dia menangani outlet franchisee management Bakso Kota Cak Man, menjadi master franchisor Sour Sally Mini, serta mengembangkan Marlous martabak, NSW Bruger, dan Sushi Pablo. 

Ardantya memayungi kedua perusahaannya tersebut di bawah bendera Indocre Lintas Usaha sebagai holding. Di dalamnya juga terdapat satu perusahaan lagi, yaitu PT Generasi Muda Indonesia, yang menjembatani kesenjangan pengetahuan antara kampus dan dunia profesional. Secara garis besar Grup Indocre berkomitmen bermain di sektor industri kreatif.

Memasuki 2019, Ardantya diminta bergabung ke perusahaan keluarga, PT Persada Medika Raya, yang berada di bawah naungan holding PT Persada Capital Investama, besutan pamannya, mendiang Benny Subianto. Ardyanto didapuk menjadi direktur pengembangan di perusahaan yang menangani Persada Hospital tersebut.

Sosok Benny Subianto, profesional yang berkarier cemerlang di grup usaha raksasa Astra, adalah mentor dan teladan keluarga besar, termasuk Ardantya. Semasa hidupnya, Benny sering mengundang keponakan-keponakannya untuk bermitra atau bekerja untuk perusahaan tertentu dengan bimbingan dan arahannya. 

Ardantya mengenang banyak pelajaran penting terkait nilai integritas dari Benny. Salah satunya, “Walk The Talk”. Seorang profesional harus memegang komitmen apa yang telah diucapkannya dan melaksanakannya dengan penuh komitmen.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)