Canting Hijau Terus Menghijau

Industri fashion ramah lingkungan mendapatkan napas baru dari William Wimpy dan Septiani. Berkat upayanya mengembangkan eco-fashion, William dan Septi turut menginspirasi industri fashion konvensional yang sering dianggap merusak lingkungan akibat penggunaan bahan-bahan kimia beracun. Dari tangan William kini lahir kolaborasi art, earth, fashion, and culture yang mengedepankan konsep ramah lingkungan.

William Wimpy dan SeptianiPrinsip green yang coba saya terapkan dalam bisnis ini meliputi penggunaan bahan-bahan organik, zero-waste production, salah satunya dengan menggunakan kain perca yang digunakan ulang untuk menjadi tas dan dompet batik, serta zero waste marketing, misalnya dengan penggunaan kertas recycle sebagai pengganti kantong plastik dan price tag yang dapat digunakan kembali sebagai penggaris,” ujar pemenang HiLo Green Leader 2016 ini.

Keandalan pemuda kelahiran 3 Oktober 1988 ini tak lepas dari latar belakang pendidikannya, S-1 Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (lulus tahun 2011) dan S-2 Teknik Kimia National University Singapura. Ditambah pengetahuan manajemen bisnis di bidang pemasaran dari Prasetiya Mulya dan pengalaman bergabung dengan Ikatan Pencinta Batik Nusantara, ide-ide dan kreativitas William pun berkembang. “Di Ikatan Pencinta Batik Nusantara, saya banyak belajar tentang pengolahan batik,” ujar William yang tergabung dalam HiLo Green Community.

Dalam komunitas yang diikutinya, William tidak hanya menemukan lingkungan yang memiliki minat sama, tetapi juga mendapatkan mitra bisnis baru sesama HiLo Green Ambassador, yaitu Septi. Bersamanya, William bersemangat memunculkan ide dan membuat terobosan yang benar-benar mengangkat batik ramah lingkungan. “Kebetulan, Unesco mengakui batik sebagai warisan budaya Indonesia. Kami ingin menyempurnakannya dengan proses pembuatannya yang ramah lingkungan,” papar William. Maka, kemudian, pada Desember 2014, lahirlah Canting Hijau.

Kini Canting Hijau berkembang tidak hanya memproduksi berbagai pakaian batik, tetapi juga produk-produk yang mengangkat kearifan lokal dan ramah lingkungan, seperti kemeja, baju, gaun perempuan, dan tas. Bahkan rencananya, sesuai dengan cetak biru, tahun depan Canting Hijau mau merambah baju anak, aksesori, dan sebagainya. Dengan tujuh karyawan, mulai dari penjahit hingga staf pemasaran, William dan Septi berbagi tugas: William memimpin usaha sekaligus menangani kekuangannya, sementara Septi mengurusi produksi.

William mengaku, konsep ramah lingkungan bukan sekadar pemanis jualan, melainkan proses secara keseluruhan: mulai dari memilih bahan batik yang digunakan; menggunakan tenaga pembatik daerah --supaya lebih berdaya karena kini semakin sepi order, tergeser batik print yang lebih murah; hingga memilih cara pemasaran yang memberikan value berbeda. William selalu menekankan kepada pembelinya, bahwa dengan membeli satu produk Canting Hijau, konsumen bukan saja membantu mewujudkan mimpi sebagai pejuang budaya dan lingkungan, tetapi mimpi pembatik juga, dan mimpi seluruh warga dunia untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan.

Hasilnya menggembirakan. Dari satu sampai dua motif baru setiap tahun, Canting Hijau bisa memproduksi 200-500 pakaian per tahun dengan rentang harga mulai dari Rp 270 ribu hingga lebih dari Rp 1 juta. Produknya selain menyebar ke department store Bandung (Jogja Dept. Store), juga ada di Galeri Smesco. Untuk online antara lain ada di Qlapa dan Blibli. Ke depan, kami juga akan masuk ke Lotte Shopping Avenue,” kata William. Ia menyadari pentingnya kolaborasi, termasuk penjualannya. “Kami akan terus berkolaborasi sebanyak mungkin ya, baik untuk marketing maupun sales-nya,” katanya menegaskan.

Selain itu, penting memahami kebutuhan dan selera pasar. Dari pengalamannya, pasar akan menunjukkan apa kebutuhannya, berapa harga yang diminatinya, bahkan tren motif yang disukainya. Untuk menjaring selera pasar, Canting Hijau rutin membuka stand di bazar. Yang terakhir, belum lama ini mengikuti Indonesia Fashion Week.

Melihat bisnis William dan Septi, Yuswohady menilai masih sulit untuk menjadikan produk eco-friendly sebagai mass product di Indonesia. Berbeda dengan di negara Barat yang sudah paham akan hal ini. Sebab, orang Indonesia belum banyak yang mengerti konsep green. Banyak yang tidak peduli bahannya dibuat dari apa. Menurut Yuswo, ada tiga jenis pasar terkait eco-friendly ini, yaitu hardcore, yakni mereka yang benar-benar hanya mau membeli produk eco-friendly; kedua, orang yang mencari produk eco-friendly, tetapi masih mencari sisi lainnya juga; ketiga, orang yang murni tidak peduli dengan produk eco-friendly. “Nah, Canting Hijau masih membutuhkan waktu untuk memastikan pasar mana yang dituju,” jawabnya singkat.(*)

Dyah Hasto Palupi/Yosa Maulana

Riset: Irvan Sebastian Iskandar

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)