Darah-darah Muda Si Kampiun Cokelat

Diam tetapi pasti, regenerasi kepemimpinan kini berlangsung di salah satu perusahaan cokelat terbesar di Indonesia milik Piter Jasman, PT Bumi Tangerang Mesindotama (BT Cocoa). Darah-darah muda tengah disuntikkan di dalamnya. Tepatnya, Piter mengader tiga penerusnya untuk mengelola perusahaan yang didirikannya pada 1984 itu. Lukas Jasman (36 tahun), Juliana Jasman (35 tahun), dan Thomas Jasman (33 tahun) sekarang aktif mengendalikan perusahaan cokelat berkapasitas produksi 70 ribu ton/tahun itu. Lukas menduduki posisi COO, Juliana sebagai Chief Accounting & Finance, sedangkan Thomas sebagai CEO.

Lukas Jasman, COO BT CocoaSejak awal, orang tua memang sangat jelas mengarahkan kami untuk meneruskan bisnis keluarga. Ketika saya kuliah, pada saat liburan musim panas saya dikirim ke New York untuk mengunjungi kantor klien kami, belajar bagaimana proses trading mereka,” ungkap Lukas yang mewakili adik-adiknya. Alumni University of California San Diego ini bergabung dengan BT Cocoa tahun 2003. Tiga tahun kemudian, menyusul Juliana. Adapun Thomas empat tahun setelah Lukas masuk.

Ketiga generasi penerus ini diberi tugas berbeda oleh Piter. “Kami ditugaskan sesuai dengan bidang yang dikuasai,” kata Lukas. Dia sendiri cenderung pada bidang trading, misalnya bagaimana menentukan harga. Thomas didapuk sebagai CEO untuk berurusan dengan pihak eksternal, seperti bertemu klien. Adapun Juliana di back office, di bidang accounting dan finance. “Hal ini sudah disiapkan sejak kami kuliah,” dia menegaskan. Menurutnya, tidak ada orang yang secara khusus ditugaskan untuk menjadi mentor bagi mereka bertiga. Yang menjadi guru adalah buku-buku dan sejarah bisnis.

Piter, kata Lukas, masih punya peran. “Ayah masih memiliki drive untuk berbisnis yang tinggi walau usia sudah 64 tahun. Bisa dikatakan jalannya BT Cocoa ini sekarang 50-50 antara kami dengan Pak Piter. Tetapi, memang untuk decision making dan major decision sudah didorong ke kami,” Lukas menjelaskan.

Beberapa hal yang terus ditanamkan Piter pada anak-anaknya adalah kedisiplinan, bagaimana menghadapi customer, dan cara mengelola permasalahan. “Bila menemui masalah, ayah mengajarkan bagaimana agar tidak panik, tenang, dan memikirkan alternatif-alternatif solusi,” kata Lukas. Piter memang masuk ke dalam upaya penyelesaian persoalan, tetapi dia tidak serta-merta berhadapan langsung dengan persoalan itu, melainkan berada di belakang anak-anaknya untuk mendorong mereka menyelesaikan permasalahan yang ada. “Beliau juga sosok yang menyeimbangkan perbedaan pendapat dalam perusahaan yang memang kadang terjadi antara saya dan adik,” Lucas mengungkapkan.

Yang pasti, sudah ada sejumlah terobosan yang dilakukan generasi penerus. Misalnya, mereka telah merumuskan arah perusahaan pada 2025. “Kami membuat strategic plan dan visi bahwa kami ingin menjadi supplier yang dikenal oleh global brand,” ujar Lukas. BT Cocoa selama ini menghasilkan tiga produk utama, yaitu cocoa butter, cocoa powder, dan cocoa liquor. Mereka menyuplai ke 50 negara di mana 80% ada di Asia, melalui agen dan distributor. Mereka fokus pada pasar Asia karena Eropa dan Amerika Serikat pertumbuhan konsumsinya sedang stagnan. Klien besarnya antara lain Cargill, Kraft, Mondelez, Frieslandcampina, Mars Inc, Associated British Food Unicom BV, EDF&Man International, Continaf, Olam Singapore, ADM Cocoa, Macao Spain Valencia, dan General Cocoa. Di dalam negeri, klien besarnya adalah Mayora, Garudafood, dan Grup Orang Tua. “Kami sengaja tidak menghasilkan produk cokelat jadi karena tidak ingin bersaing dengan para klien,” ungkap Lukas yang sebenarnya bercita-cita menjadi pilot.

Di luar itu, mereka bertiga juga aktif melakukan pembenahan agar sinar BT Cocoa makin kinclong. Di antaranya: mengganti mesin-mesin pengolahan dengan mesin Eropa karena standar dan presisinya lebih tinggi dibandingkan mesin lokal. Pengembangan kualitas pun ditingkatkan di sisi SDM. “Kami merekrut profesional yang lebih pintar dari anggota keluarga,” ujar Lukas. BT Cocoa sudah memiliki Chocolate Academy yang menjadi bagian dari customer development.

Lukas bersyukur sebagai generasi penerus bisa memberi andil buat perusahaan keluarganya. Terlintas di matanya, tahun 2003 skala perusahaan keluarganya masih kecil. “Waktu itu kami multitasking karena skala dan kapasitas perusahaan masih kecil. Saya masih ingat waktu itu kalau meeting mingguan kami hanya tujuh orang,” ungkapnya. Kini, semua berubah. Kinerja BT Cocoa kian cemerlang. Tentu saja, ada yang tak berubah, yaitu values. Dalam menjalankan bisnis, Lukas dan kedua adiknya selalu memegang prinsip yang diajarkan kakek dan ayahnya bahwa dalam bisnis, kepercayaan adalah hal terpenting. “Kepercayaan tidak bisa dibeli dengan uang, tetapi harus dipupuk tiap hari walaupun tidak bisa dilihat langsung hasilnya,” ujarnya. Values inilah yang selalu mereka pegang dalam meneruskan warisan orang tua.(*)

Sudarmadi & Jeihan Kahfi Barlian

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)