Gary Tanoesoedibjo, Kembangkan Bisnis Penyedia Jasa e-Logistic

Gary TanoesoedibjoMeski potensinya sangat besar, di Indonesia belum banyak bisnis jasa e-logistic terintegrasi bagi pedagang online, toko online, dan jasa pengiriman hingga ke konsumen. Hal inilah yang mendorong Gary Tanoesoedibjo membesut bisnis penyedia jasa e-logistic melalui Storesend eLogistic Indonesia (SSI). Perusahaan penanaman modal asing tersebut didirikan oleh DNR Corporation dengan Storesend Holding Malaysia. Gary adalah anak Rudy Tanoesoedibjo, Chairman DNR Corporation yang merupakan kakak kandung Hary Tanoesoedibjo (pemilik Grup MNC).

SSI diluncurkan secara resmi pada 12 April lalu, kendati sudah mencoba tes operasi sejak awal Desember 2017. Kini, SSI memiliki empat multiple warehouse, yaitu di Jakarta (luas 22 ribu m2), Medan, Makassar, dan Surabaya. Selain itu, jaringan gudangnya juga ditambah dengan 39 gudang milik DNR Corporation, 17 subdistributor branches, dan 42 affiliate warehouse yang tersebar di seluruh Indonesia. “Jaringan yang kami miliki memberikan keuntungan dan efisiensi bagi para pedagang online. Selain itu, untuk mencakup wilayah ASEAN, dipermudah dengan warehouse fulfillment center di Malaysia dan Singapura,” kata Gary yang menjabat sebagai Co-Chief Marketing Officer SSI.

Karena DNR Corporation memiliki gudang sendiri, modal yang dikeluarkannya relatif kecil. “Jadi, kami join venture dengan pihak Malaysia. Mereka punya sistem dan kami punya gudangnya, tinggal digabungin saja. Investasi hampir minim karena gudang kami yang punya. Investasinya hanya di rak dan komputer,” ujarnya.

Pria kelahiran Jakarta, 22 Agustus 1991, ini menjelaskan, sebenarnya konsep dan operasi Storesend Holding sudah ada sejak 2009 di Malaysia. “Waktu itu kami belum join dan waktu itu zamannya e-commerce masih berkembang di China, kemudian e-commerce booming sehingga banyak sekali pemain logistik, brand-brand besar, yang tadinya offline pindah ke online. Sekarang banyak retailer di China, 50% penjualannya online,” Gary menceritakan.

Kondisi tersebut juga terjadi di Malaysia, walaupun e-commerce di negeri jiran ini baru berkembang di 2014. Jadi, saat Storesend didirikan di Malaysia pada 2009, bisnisnnya belum ada. Nah, selama enam tahun, Storesend mengembangkan sistem e-commerce-nya. Jadi, saat 2014, pas konektivitas internet sudah mulai kencang dan e-commerce sudah masuk ke Asia Tenggara, bisnis Storesend mulai berjalan. “Di 2017 kami join dengan Storesend dan melakukan ekspansi ke Indonesia,” kata Gary yang pernah kuliah di Jurusan Business Administration di Universitas Pepperdine, Los Angeles (2009-2013).

Kabarnya, Storesend bisa terintegrasi dengan platform dan jasa logistik seperti Tiki dan JNE? “Kami ini perusahaan logistik yang punya sistem. Jadi, kami connect sistem kami dengan Application Programming Interface (API). Kami integrasikan semua penjualan, semua delivery secara otomatis, tidak lagi harus di-input,” ungkapnya.

Misalnya, jika jualan ponsel (HP) secara online di mana kita memiliki satu tipe ponsel dan jumlahnya 10 unit. “Jika ponsel tersebut mau dijual di lima platform berbeda, apakah kita harus taruh stock 10 HP di masing-masing platform, atau masing-masing platform kita masukkan dua HP. Karena jika kita letakkan masing-masing 10 HP, virtualnya jadi ada 50 barang. Padahal, di gudang hanya ada 10 HP,” ujarnya memberi contoh.

Lalu, jika ada pelanggan yang membeli di salah satu platform, otomatis pihaknya harus adjust stock di platform yang lain seacara manual. “Nah, kalau dengan Storesend yang terintegrasi ini, semuanya bisa dilacak secara real-time dan otomatis. Jadi, sekalipun saya punya 100 barang yang dijual di 100 platform, maka sekali orang beli di salah satu platform, semua platform otomatis akan ter-adjust. Itu salah satu benefit-nya untuk brand dengan Storesend,” kata peraih gelar MBA dari College of Business Administration, Loyola Marymount University ini.

Bagaimana dengan layanan delivery-nya? Menurut Gary, jika sudah terintegrasi dengan API, pelanggan membeli ponsel, check out, bayar, dan barangnya tinggal di-delivery melalui perusahaan kurir seperti JNE atau jasa logistik seperti Go-Send. “Dan, otomatis airway bill-nya akan di-print di gudang SSI. Jadi, JNE atau jasa logistik lain tinggal mengambil barang dan kirim sehingga kami tidak harus memberikan barang lagi ke JNE. Semuanya sudah masuk ke dalam satu proses, dari mulai listing barang, pelanggan beli barang, bayar, hingga delivery. Itu satu proses, kami yang handle,” katanya menjelaskan proses bisnisnya.

Lebih jauh, Gary pun menerangkan keunikan bisnis SSI. Pertama, sistemnya bisa men-tracking barang sehingga barang yang diambil dan dikirim ke pelanggan lebih akurat. Kedua, gudang multiwarehouse. Ketiga, pengiriman lebih cepat. Seperti yang tadinya lima hari, bisa menjadi dua hari. Keempat, service level yang tinggi. “Saya melihatnya, ketika kita belanja online, stuck-nya pada pengiriman. Biasanya, orang menjadi kurang tertarik dengan belanja online jika pengirimannya lama. Nah, dengan adanya sistem dan multiwarehouse, saya rasa itu bisa menjadi advantage atau kelebihan kami,” paparnya.

Saat ini, SSI sudah memiliki beragam pelanggan. Misalnya, untuk beberapa merek ada Levi’s, Garnier, Silky Girl, Maybeline, Dulux, dan P&G. Dari perusahaan e-commerce ada Shopee, Zalora, JD.id, Lazada, Blibli, Elevenia, Bukalapak, dan Tokopedia. Lalu, SSI juga bekerjasama dengan perusahaan logistik seperti JNE, J&T Express, Pos Indonesia, Go-Jek, Tiki, Lion Parcel, dan Grab Parcel.

Mengenai transaksi yang dihasilkan sampai saat ini, Gary menyebutkan, “Masih small. Kami masih belum mencapai 5 ribu per hari. Karena ada dua konsep, yaitu reseller dan official brand.” Nah, merek seperti Nike dan L’oreal masih belum ekspose ke e-commerce. Mereka masih fokus di offline. Adapun reseller dari Instagram, Line, dan Marketplace, mereka 90% penjualannya online. “Kami lagi balance, mau attack reseller atau brand. Karena kan bisnis kami juga baru saja beroperasi,” ujarnya.

Untuk target, Gary mengaku sulit menyebutkannya. Pasalnya, setiap dua bulan pihaknya merevisi target bisnisnya. Maklum, industri e-commerce tidak bisa diprediksi sehingga ia tidak berani forecast lebih dari dua tahun. “Tapi kalau internal of volume, setiap dua bulan kami revisi. Dan kalau untuk target volume, hingga akhir tahun ini sebanyak 50 ribuan per hari,” ujarnya lagi.

Yang pasti, yang akan terus dikembangkan saat ini adalah gudang yang rencananya akan dibuat enam lagi hingga akhir tahun ini. “Ke depan, kami ada 39 gudang plus 42 affiliate warehouse yang akan diaktivasikan. Dan juga rencana kami, pelan-pelan SSI akan ekspansi ke kota-kota kecil,” ungkap Gary. (*)

Reportase: Anastasia Anggoro Suksmonowati

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)