Linda Tan , Siapkan Terobosan untuk Raih Kinerja Emas Sandimas

Linda Tan, chief executive officer (CEO) Grup Sandimas

Kendati Grup Sandimas merupakan perusahaan milik orang tuanya, Linda Tan tidak serta-merta menduduki posisi puncak ketika pertama kali bergabung. Mula-mula Linda diberi kesempatan selama dua bulan untuk mempelajari apa saja yang dilakukan oleh seorang manajer senior di perusahaan ini. Setelah itu, barulah ditugaskan menjadi staf procurement (tahun 2000), lalu naik jabatan menjadi supervisor procurement, manajer procurement, chief operation officer dengan membawahkan banyak hal di luar procurement, hingga sekarang: sebagai chief executive officer (CEO).

Sebelum mencapai posisi puncak, Linda sudah diberi kesempatan mengambil keputusan untuk beberapa divisi yang ia pegang, seperti divisi proyek, pemasaran, desain interior, hingga desain grafis, sejak lima tahun lalu. Bahkan, ia mulai dipercaya membangun divisi baru, yakni divisi pemasangan. “Saya adalah orang yang fokus pada operation karena selalu menekankan pada pergerakan yang cepat di seluruh elemen Grup Sandimas,” ujar lulusan S-1 Manajemen Bisnis (1997) dan S-2 Manajemen Industri Travel (1998) Hawaii Pacific University yang menduduki posisi CEO Grup Sandimas sejak Januari 2018 ini.

Kendati sudah menjadi CEO, Linda masih memegang tanggung jawab di ranah procurement. Ia juga berkoordinasi dengan delapan hub Grup Sandimas di luar Jakarta dengan memastikan setiap penjualan dan logistiknya tetap baik. “Saya belajar banyak dari Ayah, bahwasanya ia memiliki banyak pemimpin dengan strategi dan tujuan yang bagus, namun terkadang tidak ada yang menanyakan kembali sejauh mana prosesnya telah berlangsung kepada mereka,” katanya. Belajar dari itu, ia harus menghindari hal tersebut dan lebih memilih mendelegasikan kepada bawahan yang ahli di bidangnya dan ia rutin memantau kemajuannya.

Menurut Linda, salah satu tantangan dalam perusahaan adalah posisi manajemen madya yang terkadang tidak berfungsi karena segala informasi terkait bisnis bisa langsung diteruskan ke pemilik perusahaan. Uniknya lagi, dalam bisnis keluarga ini tidak ada birokasi yang berbelit dan keputusan bisa cepat ditentukan pada saat itu juga. “Kultur perusahaan kami pun lebih kepada kekeluargaan,” ungkap ibu dua anak ini.

Linda pun sangat dekat dengan ayahnya, Marzuki Tan. Tak heran, banyak pemikiran keduanya yang sama dan sejalan. Hanya saja, pemikiran yang selalu sama memang bagus, tetapi akan kurang dinamis. Dari awal, ia selalu menempatkan dirinya sebagai executioner agar bisa meminimalkan kesalahan dalam berbisnis.

Linda termasuk tipikal orang yang teguh pendirian. Kalau memang tidak terlalu yakin terhadap suatu hal, ia tidak akan bersikukuh mempertahankannya. Namun, jika hal tersebut adalah hal yang ia yakini dan ia anggap benar, ia akan mempertahankan hal tersebut dan ayahnya akan mengalah. “Meskipun belum tentu benar, namun Ayah selalu memberikan kesempatan kepada saya untuk merasakan kesalahan yang disebabkan oleh diri saya sendiri,” katanya menceritakan hubungannya dengan sang ayah.

Selain banyak yang menjadi mentor di perusahaan ini, diakuinya bahwa ayahnya adalah mentor yang paling lama dalam membimbingnya. Sang ayah selalu menekankan untuk kerja cerdas. Ayahnya juga yang mengajarkan kejujuran, integritas, kerja keras, ketekunan, dan upaya agar selalu dikelilingi oleh orang-orang yang positif.

Mengingat betapa pentingnya arti sebuah keluarga, Linda akan menerapkan sistem pemberian poin kepada staf. Antara lain, yang performa kerjanya bagus akan diberi libur tambahan sehari. “Saya percaya hal ini bisa melebihi uang karena mereka bisa berkumpul bersama keluarga dan waktu tidak akan bisa dibeli,” ujarnya. Saat ini Linda membawahkan 600 karyawan dan ia sangat memahami apa saja yang dilakukan semua divisi dalam perusahaannya.

Lalu, apa terobosannya setelah menjabat sebagai CEO? Menurut Linda, saat ia mulai bergabung dengan Grup Sandimas pada 2000, produk perusahaan hanya berkisar 20 item. Selain itu, ukuran keramik dan motifnya juga sangat terbatas. “Karena saya mau meningkatkan market share, saya berdiskusi dengan board of director untuk mengerjakan barang fashion daripada melulu fokus ke barang komoditas. Terlihat perubahannya sekarang, mengenai kelengkapan barang, kami seharusnya adalah market leader-nya,” ujar pehobi berlari dan gym ini.

Linda juga mengembangkan teknologi digital signage yang berfungsi memberikan gambaran pengaplikasian keramik ke dalam template-template tertentu. Teknologi ini akan diletakkan di seluruh toko besar mitranya. Selain itu, perusahaannya juga memiliki desainer interior; pelanggan bisa berkonsultasi secara gratis. Hal ini termasuk layanan yang diberikan Sandimas kepada pelanggan.

Selain itu, perusahaannya juga terus menekankan layanan pascajual, pengembangan teknologi digital signage, dan pengembangan mobile showroom (penggunaan truk kontainer sebagai arena displai produk-produk Sandimas yang akan diletakkan di dekat mal atau tempat publik lainnya untuk meningkatkan brand awareness). Pengantaran produk harus cepat (sampai lokasi maksimal 24 jam untuk area Jabodetabek); dan ruang pajang yang dibuat senyaman mungkin.

Saat ini, Sandimas dikenal sebagai perusahaan distributor produk keramik dan saniter yang menaungi beberapa merek, seperti D-Eurogress, Ceragrande, Oulu, Parma, Kelmi, Sandimas, dan Horgen. Sejauh ini, pasar Grup Sandimas masih didominasi pasar B2C (ritel) sebesar 70%; sisanya B2B (proyek). “Kami juga pernah memenangi proyek-proyek besar melalui tender seperti Ciputra, Sinarmasland, Summarecon, Grup Agung Sedayu, dan Intiland,” kata Linda yang tahun lalu mengikuti ultra trail marathon dengan jarak 100 km dan 70 km di ajang Bromo Tengger Semeru Ultra dan mendapatkan Juara III di kategori pelari wanita.

Bagaimana dengan kinerja perusahaannya dan apakah target omset Rp 1 triliun di 2018 sudah tercapai? “Belum, karena pada Oktober 2018, barang-barang impor dari China dikenakan safeguard 23% tax. Memang kami impor juga dari negara lain, seperti Vietnam dan Malaysia. Namun, sourcing produk kami masih didominasi dari China,” katanya. Di 2018, perusahaan mencapai pertumbuhan sekitar 15%, dan 2019 ini pihaknya menargetkan pertumbuhan 8-10 persen karena akan ada pemilu.

Di 2020, Linda optimisris pertumbuhan akan kembali dua digit lagi. Berkaitan dengan hal tersebut, ia akan berupaya menambah operational hub dan cakupan produk. Saat ini operational hub Sandimas sudah ada di delapan kota: Medan, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Samarinda, dan Makassar; juga akan membuka yang baru di Indonesia Timur. “Ke depan, saya ingin membangun banyak showroom lagi di kota-kota besar. Namun sebelum itu, prioritas kami adalah mengembangkan distribution channel-nya,” kata Linda mengungkap rencana bisnisnya. (*)

Dede Suryadi dan Chandra Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)