Rachmat Harsono, Memiliki Values yang Sama dengan Sang Ayah

Rachmat Harsono, Direktur Utama PT Aneka Gas Industri Tbk.
Rachmat Harsono, Direktur Utama PT Aneka Gas Industri Tbk.

Meninggalnya sang ayah, Arief Harsono, pendiri Samator Group, pada 2 Juli 2021 merupakan kehilangan partner bertukar pikiran bagi Rachmat Harsono, Direktur Utama PT Aneka Gas Industri Tbk. (anak usaha Samator), dalam mengatasi krisis yang diakibatkan oleh disrupsi digital dan pandemi Covid-19.  Sebagai generasi kedua perusahaan keluarga Samator, kini tanggung jawab besar ada di pundaknya.

Namun, menurut Rachmat, dengan meninggalnya sang ayah, secara spiritual membantu dan menguatkannya untuk memandang beyond losing someone. “Kami melihat adanya greater purpose dari meninggalnya beliau,” ujarnya.

Aneka Gas Industri, yang tercatat sebagai perusahaan gas industri terbesar di Indonesia, didirikan pada 22 Juli 1975 sebagai pabrik asetilena di Surabaya, Jawa Timur. Produk gas dan jasa layanan gas perusahaan ini telah digunakan secara luas di berbagai industri, seperti kesehatan, konstruksi, minyak dan gas bumi, metalurgi, petrokimia, elektronik, dan otomotif. Aneka Gas Industri memasarkan produknya hampir ke seluruh wilayah Indonesia dengan nama brand Samator Gas.

Rachmat bergabung dengan bisnis keluarga sejak tahun 2003 setelah lulus dari Jurusan Pemasaran, Bisnis Internasional, dan Human Resources, Marquette University. “Saya diminta kembali ke Indonesia untuk menjadi tim akuisisi Aneka Gas Industri. Lalu, untuk selanjutnya saya berkarier di perusahaan ini sampai menjadi direksi,” ia menuturkan.

Dengan sang ayah, Rachmat mengaku memiliki values yang sama. “Values inilah yang kami terjemahkan. Perusahaan ini lahir dari values dan cara pemikiran para founder. Selama ini, values tersebut tidak pernah berubah,” ungkapnya.

Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia ini bercerita, 20 tahun lalu ketika belum bergabung, Aneka Gas Industri dan Samator berkompetisi. Aneka Gas Industri adalah perusahaan yang sifatnya sangat prosedural, sedangkan Samator sangat entrepreneurial.

“Mengawinkan dua kultur perusahaan ini, kami mempelajari value apa saja yang perlu dipertahankan dan mana yang harus dihilangkan. Jadi, kami tulis semua itu namanya values perusahaan, founder, dan stakeholders,” katanya.

Kemudian, value-value tersebut mengerucut pada values yang penting. Values ini yang disosialisasikan dan digunakan untuk merekrut karyawan.

“Karena, yang asalnya very family-centric, kami harus lakukan secara lebih profesional. Jadi, bisa dikatakan bahwa perusahaan saat ini totally new karena dua kultur berbeda kami gabungkan. Dari awal saya sudah terlibat dalam harmonisasi kultur ini. Values kami adalah PRIDE: Professional, Righteousness, Innovation, Diversity, dan Entrepeneur,” ungkap Rachmat. Dan, di tahun 2022, values Samator berubah, yaitu Accountable, Resillient, Innovation, Entrepreneur, serta Fun and Fearless, disingkat ARIEF.

“Karena values berubah, organisasi pun berubah. Misalnya, yang dulunya tidak ada sistem ERP (Enterprise Resource Planning), kami adakan. Saya yang menjadi Project Manager ERP System ini. Karena, ini adalah bagian dari integrasi dan harmonisasi kultur organisasi,” Rachmat menegaskan.

Sejak diangkat menjadi CEO Aneka Gas  Industri tahun 2018, Rachmat langsung menetapkan prioritas, mulai dari transformasi budaya kerja, prosedur, hingga digitalisasi. Maka, ketika terjadi krisis multidimensi yang disebabkan oleh disrupsi digital dan pandemi Covid-19, Aneka Gas Industri menurutnya berhasil menghadapi situasi tersebut, walaupun harus tertatih-tatih. “Untungnya, kami terus melakukan transformasi sejak dulu,” ujarnya tandas.

Berbicara soal krisis, menurut Rachmat, kunci menghadapinya adalah tidak panik. Tahun 2020, pada waktu pertama kali pandemi, ia dan tim melakukan simulasi dan analisis skenario, mulai dari situasi global, situasi dalam negeri, dan industri gas. Jadi, dari lapis-lapis itu akan terlihat kondisi global hingga dampaknya bagi industri gas.

“Semua skenario selalu ada asumsinya. Untungnya, pada waktu terjadi lonjakan permintaan (oksigen), kami feeding dengan beberapa pihak terkait, mulai dari pemerintah, NGO, dan Kadin. Kami memproyeksikan apa saja yang dibutuhkan,” katanya.

Rachmat mengungkapkan, dirinya sudah disiapkan sang ayah menjadi leader sejak masih kecil. “Beliau menyuruh saya membaca buku, membuat goal setting, journaling, mengajak berdiskusi secara konstruktif, dan disiplin. Pak Arief mengatakan, ada dua hal yang suffering, yaitu disiplin dan penyesalan. Tetapi disiplin itu beratnya lebih ringan daripada penyesalan. Kalau kita tidak disiplin mengasah otak dan otot, nanti kita akan menyesal,” ungkapnya.

Di mata Ketua Alumni Lemhanas Jawa Timur ini, sang ayah adalah leader yang kharismatik dan selalu menginspirasi. “Apa pun yang beliau lakukan selalu menunjukkan humility, disiplin, help each other, dan kindness yang memang tujuannya untuk membantu,” tuturnya. Dan, menurutnya, karakter yang dibutuhkan oleh pemimpin, terutama untuk industri yang bersinggungan dengan kemanusiaan, adalah mau berjuang dan mau berkorban untuk sesuatu yang lebih besar.

Aneka Gas Industri dan Samator, kata Rachmat, kini “happen to be in the right track”. Oksigen, nitrogen, hidrogen, dan lain-lain, kalau dilihat dari spektrum produk perusahaan ini, sebetulnya mencakup dua hal, yaitu dari sisi kesehatan serta energi terbarukan, dan keduanya merupakan fokus pemerintah. Sehingga, “Kami merasa ada pada track yang benar. Contohnya, oksigen. Tidak hanya untuk medis, tapi juga untuk industri,” ia menerangkan.

Terlebih, saat ini pemerintah mendorong hilirisasi industri. “Jangan sampai kita keduluan oleh industri besar global lainnya. Kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Rachmat tandas. (*)

Andi Hana Mufidah Elmirasari

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)