Sutedja Sidarta Darmono, Penggagas Jababeka Residence

Perjalanan karier Sutedja Sidarta Darmono di PT Jababeka Tbk. diawali dari jenjang jabatan yang rendah. Dia tidak diistimewakan meski Jababeka didirikan ayahnya, Setyono Djuandi Darmono. Layaknya para profesional, Sutedja mengemban tugas sesuai dengan prosedur standar yang berlaku di perusahaannya. Dia tekun mempelajari seluk-beluk bisnis properti sejak mengawali kariernya di bagian keuangan, pemasaran, hingga akhirnya didaulat sebagai Direktur Jababeka pada 2014.

Suteja Sidarta Darmono, Director of PT Jababeka Tbk Suteja Sidarta Darmono, Director of PT Jababeka Tbk

Kepercayaan yang digenggam Sutedja itu tidak turun dari langit, tetapi berdasarkan prestasi yang berhasil ditorehkannya dalam menangani sejumlah proyek. Berinovasi, bekerja keras, mau belajar, mendengar masukan dari pemangku kepentingan, serta berani mengambil keputusan dan menyelesaikan pekerjaanya sesuai dengan target adalah kunci suksesnya. Sutedja mengisahkan, dia menjadi pegawai Jababeka sejak 2003. Tugasnya sebagai auditor. “Saya memulainya dari entry level,” Sutedja mengenang. Waktu itu, gajinya Rp 2 juta per bulan.

Saat mulai berkecimpung di perusahaan keluarganya itu, pengetahuan Sutedja mengenai seluk-beluk properti sangat minim. Namun, menurut Setyono, anaknya itu mau belajar sehingga cepat menyesuaikan diri. Sebelum berkiprah di perusahaan ayahnya, Sutedja sempat kebingungan menentukan kariernya selepas menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah. Dia meraih gelas sarjana akuntansi di Monash University, Australia. Setyono menerangkan, Sutedja direkomendasikan ibunya agar direkrut sebagai pegawai Jababeka. Awalnya, Setyono enggan mempekerjakan anaknya di perusahaannya itu. ”Karena, itu dekat sekali dengan nepotisme. Akan tetapi, Sutedja memulainya dari level bawah,” ungkapnya. Ia pun tidak memaksakan Sutedja mengikuti jalurnya di bisnis properti.

Sutedja mengaku bahwa ayahnya menjadi mentor pribadinya yang sering memberikan falsafah hidup sejak dia masih kanak-kanak. Hingga kini, dia mempelajari barbagai hal dari nasihat dan aksi nyata yang ditunjukkan sang ayah. Contohnya, etika berbisnis yang menekankan prinsip kepercayaan. “Karena bisnis adalah about trust, without trust there’s no business. Itu adalah ajaran beliau yang sangat melekat,” Sutedja menegaskan. Prinsip tersebut dilakoni pria kelahiran 20 Mei 1981 ini dalam menjalin relasi dengan klien, karyawan, dan pemangku kepentingan.

Sutedja mampu mengemban tugasnya dengan baik di awal-awal kariernya. Kendati begitu, ia mengundurkan diri dari Jababeka karena ingin berwirausaha. Perjalanan hidup anak kedua dari tiga bersaudara ini berubah haluan. “Saya pernah menjalankan bisnis food & beverage di tahun 2005 hingga 2008 di Shanghai, yakni Bakerzin,” tuturnya. Bakerzin Food Service Management Co. Ltd. adalah waralaba makanan dan minuman.

Sewaktu menjalankan bisnisnya tersebut, Sutedja mengalami pergolakan batin. Dia ingin melakoni bisnis yang bisa menampung gagasan dan idealismenya, yakni memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Hal itu, menurut dia, diperolehnya dari dunia properti. Lalu, dia kembali lagi berkarier di Jababeka dan lebih banyak bekerja di belakang meja di divisi keuangan, pemasaran, sekretaris perusahaan, dan operasional. Dia terlibat langsung dalam menangani proyek properti sejak menempati bagian operasional. Proyek properti Jababeka meliputi pengembangan kawasan residensial, infrastruktur, komersial dan industri.

Kendala internal dan eksternal yang dihadapi perusahaan diselesaikan Sutedja dengan cermat. Dia mampu menyelesaikan masalah SDM dan keuangan. Salah satu terobosannya dalam mengatasi tantangan internal dan eksternal adalah membidani proyek hunian terpadu bernama Jababeka Residence pada 2013. Dia bersikukuh mengerjakan proyek yang digagasnya itu walau awalnya ditentang oleh berbagai pihak. Alasannya, citra Jababeka sangat lekat sebagai kawasan industri. Dia bersama Tanto Kurniawan, sang begawan properti, bisa mengemas kawasan hunian dan komersial di Jababeka Residence. “Ternyata, hasilnya memiliki nilai jual,” ujanya.

Ke depan, Sutedja ingin menjadikan Jababeka Residence sebagai kota mandiri dan terpadu, tak hanya dipandang sebagai kawasan industri. Perseroan berencana membangun apartemen mini untuk hunian bersubsidi yang harganya di bawah Rp 300 juta. ”Akhirnya, setelah melewati semua perjalanan tersebut, saya diangkat menjadi salah satu jajaran direksi,” ucapnya. Selain menjadi Direktur Jababeka, pada 2013 dia dipercaya sebagai Presdir PT Graha Buana Cikarang, anak perusahaan Jababeka. Kini tongkat estafet kepemimpinan Jababeka tampaknya beralih ke generasi berikutnya. Sebab, Setyono sejak Juni tahun ini menjadi komisaris utama perseroan dari sebelumnya direktur utama.

Saat ini, Jababeka sedang mengembangkan sejumlah proyek, antara lain kawasan industri, residensial dan komersial, infrastruktur, pariwisata atau resor, hotel dan lapangan golf.

Jababeka telah membangun Kota Jababeka di Cikarang, Jawa Barat, yang terdiri dari kawasan industri, infrastruktur, residensial dan komersial pada 1989. Kawasan lainnya yang akan digarap adalah proyek kawasan industri seluas 2.500 hektare di Kendal, Jawa Tengah, serta kawasan pariwisata Tanjung Lesung seluas 1.500 ha.(*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)