Menyiapkan Sang Pewaris, Perhatikan 3 Hal Ini

Tak ada yang ingin melihat bisnis yang telah susah-payah dibangun hancur begitu saja di tangan generasi penerus. Berikut ini, 4 hal penting yang harus diperhatikan saat menyiapkan pewaris bisnis keluarga.

Pertama, pendiri biasanya ingin melihat core values yang dibangun sejak awal bisa dilanjutkan. Keberlanjutan itu lebih sering disebut sebagai benang merah. Dengan demikian, benang merah core values yang ditransfer dari generasi ke generasi.

“Titik kritisnya adalah memindahkan core values antargenerasi. Core values tidak harus sama di setiap generasi. Bisa saja berubah karena eranya sudah berubah. Dunianya sudah berubah, apalagi saat ini digital makin marak. Tapi, benang merahnya tetap sama,” kata Bernard Wijaya, Direktur Martha Tilaar, yang juga pengamat dinamika generasi penerus bisnis perusahaan keluarga.

Bernard Wijaya, Direktur PT Martha Tilaar

Bernard Wijaya, Direktur PT Martha Tilaar

Yang banyak terjadi, lanjut dia, adalah generasi lama tidak mau kalau ada perubahan di core values. Sementara, generasi baru tidak ingin mengambil pakem dari generasi lama karena itu sudah tidak berlaku. Generasi penerus seharusnya mempertahankan nilai dari perusahaan yang kuat dan menjadi filosofi.

“Tapi, generasi awal juga harus mau mengikhlaskan pola baru yang terbentuk sesuai dengan zamannya. Jangan justru saling menyalahkan. Harus ada estafet yang menyerahterimakan perusahaan di antargenerasi,” katanya.

Hal penting selanjutnya adalah keterbukaan alias menjaga komunikasi antargenerasi. Generasi penerus harus mau mendengarkan petuah generasi sebelumnya. Sementara, yang tua pun harus memahami cara berkomunikasi yang baik.

Yang ketiga adalah pengalaman yang sangat mahal harganya. Dalam bisnis, jatuh-bangun adalah hal yang biasa. Namun, justru pengalaman inilah yang harus ditransfer kepada generasi penerus agar mereka memahami betapa sulitnya mengawali bisnis keluarga, apa saja kekuatan perusahaan.

“Founder harus memberi kesempatan anaknya berkarier mulai dari bawah. Jadi, tidak langsung di posisi atas, walaupun memang bukan bawah sekali. Mungkin dari junior manager, kemudian naik ke middle, dan seterusnya. Dengan pola ini, ia akan mengenal perusahaan,” katanya.

Selanjutnya, menurut Bernard, adalah melakukan rotasi secara vertikal maupun horisontal. Dengan begitu, sang pewaris paham betul di mana passion-nya. Generasi penerus juga harus diberi pekerjaan mulai dari hal yang kecil. Sehingga, mereka akan memahami cara memperlakukan anak buah.

“Dari kecil, nanti akan naik. Jadi, tanggung jawabnya bertahap. Ketika salah mengambil keputusan, masih di levelnya dia, tidak sampai fatal ke perusahaan. Kelebihannya adalah di pengalaman,” katanya. (Reportase: Rizky C. Septania)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Hino Dutro Peroleh Market Share 22% di Tahun 2016

Santiko Wardoyo, Direktur Penjualan  dan Promosi PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), mengatakan, produk Hino Dutro yang pertama kali diluncurkan...

Close