Tips Menyiapkan Pewaris Bisnis Keluarga

Fakta menunjukkan, baru 20% keluarga yang menyiapkan generasi penerus sebelum menerima tongkat estafet bisnis. Sisanya mengandalkan proses alamiah, alias dibiarkan belajar sendiri. Padahal, manfaat program persiapan ini sangatlah besar.

“Kalau terstruktur, diberikan kiblat arahan bagi putra-putri, hal ini juga akan mengurangi konflik dengan orang tuanya. Selain itu, persiapan juga penting karena sang owner pasti sibuk,” kata A.B. Susanto, Chairman Jakarta Consulting Group.

Konflik ini rentan terjadi karena biasanya anak yang lama tinggal di luar negeri membawa ide-ide sendiri yang lebih modern sementara orang tuanya lebih tradisional. Sehingga, harapan yang berbeda pun muncul dan memicu konflik jika tidak bisa dikelola dengan baik.

Memiliki bisnis keluarga tentu sangat membanggakan. Tapi, rasa sakitnya tak akan terperi saat melihat bisnis keluarga yang telah susah-payah dibangun sejak awal, hancur begitu saja di tangan generasi selanjutnya.

“Yang juga penting adalah mengajarkan sikap yang tepat terhadap keberanian berinvestasi dan keberanian untuk mengukur risiko. Risk management juga bagian yang penting (dalam bisnis),” kata dia.

A.B. Susanto, Consultant Management, Jakarta Consulting Group. A.B. Susanto, Consultant Management, Jakarta Consulting Group.

Biasanya, lanjut dia, bisnis keluarga semakin melesat di tangan generasi kedua. Generasi kedua ini biasanya punya modal bagus, tak hanya uang, tetapi juga pendidikan dan jaringan relasi bisnis yang bagus. Sehingga, semuanya menjadi jauh lebih mudah ketimbang saat orang tuanya membangun bisnis dari nol.

“Yang repot di generasi ketiga. Generasi ini sudah terbiasa hidup nyaman dan tidak tahu susahnya (membangun) bisnis. Itu yang membuat dia agak lebih sulit untuk lebih berkembang, atau bisa dikatakan agak manja. Generasi kedua masih merasakan susahnya merintis bisnis,” ujar dia.

Nah, proses penyiapan generasi penerus ini idealnya sudah dimulai sejak sang anak menjejak Sekolah Menengah Atas. Saat liburan tiba, anak-anak dikumpulkan untuk melakukan coaching awal, misalnya dengan mengunjungi kantor perusahaan atau pabrik. Dengan begitu, mereka memiliki ketertarikan terhadap bisnis.

“Biasanya saat sang anak mengambil bidang studi harus dikaitkan dengan kebutuhan di masa mendatang. Jika tidak ada berminat bisnis, tetap meluangkan waktu untuk dipersiapkan menjadi owner yang baik. Mereka harus bisa mengarahkan bukan malah mengganggu perusahaan,” katanya.

Dengan persiapan yang benar, biasanya sebelum sang anak menginjak usia 35 tahun sudah bisa menjadi pemimpin. Mereka juga telah ditempa saat menempati berbagai posisi sebelum diberi amanah besar memimpin perusahaan. Orang tuanya juga masih bisa memantau perkembangan meskipun hanya sesekali saja datang ke kantor.

“Masa orientasi, sekitar sebulan, juga perlu agar sang anak tahu bisnis dan orang-orang di sekitarnya. Setelah itu baru dikasih jabatan tergantung kebutuhan. Boleh dari bawah langsung atau langsung di atas. Tapi dia harus bisa diminta akuntabilitas atas pekerjaannya,” ujar dia. (Reportase: Sri Niken Handayani)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)