Hunian Co-living Diramalkan Akan Makin Bergairah Pascacovid-19

Tren hunian co-living banyak membawa angin segar bagi generasi milenial untuk memecahkan permasalahan hunian yang saat ini semakin mahal dan tidak fleksibel.

Cerahnya bisnis co-living di masa depan juga sudah diprediksi oleh Akash Mulani, Flokq Advisior and Director Real Estate Investment Firm di Australia. Dia mengaku, saat ini sedang menggodok konsep bisnis baru setelah melihat dampak pandemi ini. “Kami yakin akan masa depan konsep hunian co-living melihat kondisi masyarakat dan ekonomi saat ini yang terdampak Covid-19. Kegiatan isolasi mandiri yang saat ini banyak dilakukan masyarakat akan mengurangi interaksi manusia dan dapat menurunkan kualitas kesehatan mental,” kata Akash. Konsep co-living dianggap cocok untuk menjaga mental tetap stabil selama tinggal di rumah.

Kebijakan Work From Home yang diterapkan oleh beberapa perusahaan pun akan menjadi hal yang biasa di masa yang akan datang. Selain itu, masyarakat juga akan lebih membutuhkan ruang pribadi untuk bekerja, membutuhkan teman untuk bersosialisasi di tempat hunian, dan membutuhkan hunian dengan biaya sewa yang murah.

“Membangun Co- living dan Co-working dalam gedung yang sama, adalah sebuah konsep baru yang sedang kami jajaki dalam beberapa tahun ini. Kami berencana meluncurkannya dalam 12 atau 24 bulan ke depan,” ujar Akash menambahkan.

Sebelumnya, model ruang co-working cukup banyak dilirik oleh para pemilik properti dan investor. Namun, baru-baru ini, para pelaku properti serta investor-investor tersebut juga mulai memetik profit dari model yang menghasilkan keuntungan lebih besar per meter perseginya dibandingkan model sewa tradisional. “Dengan bekerja sama operator seperti Flokq, pemilik properti terlepas dari tingginya pengeluaran ataupun risiko turnover. Seluruh hal tersebut akan sepenuhnya ditangani oleh operator,” kata dia.

Di sisi lain, Nicholas Pudjiadi, VP Grup Jayakarta , mengatakan bahwa pandemi Covid-19 telah mengubah kebiasan dan gaya hidup masyarakat. Pandemi juga telah membuat orang terbiasa dan sadar akan norma-norma baru ini, salah satunya adalah bekerja dari rumah.

“Bagi beberapa orang, bekerja dari rumah dirasakan sangat efisien, lebih produktif dan bagi pelaku wirausaha dapat menekan biaya,” kata Nicholas. Oleh karena itu, menurutnya, pascapandemi Covid-19, kebutuhan akan properti yang menyediakan working space sekaligus tempat tinggal untuk segmen milennial akan mengalami peningkatan.

Konsep hunian co-living dan co-working yang berada dalam satu gedung, dianggap cocok dengan generasi milennial urban yang menginginkan hunian fleksibel dan murah. Hal ini didasari oleh mudahnya penghuni dalam melakukan networking antar sesama penghuni dan rekan kerja.

Editor : Eva Marta Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)